Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Ide Bagus


__ADS_3

Abidzar masih bersama Exel, karena mereka akan membahas kontrak kerja yang akan di perpanjang oleh pria itu. Sebab, ia tidak ingin kehilangan Abidzar.


"Tidak mungkin saya pergi Pak, karena kita sudah bekerjasama dengan baik. Insyaallah akan terus begini sampai selamanya," ucap Abidzar dengan lembut.


"Semoga saja!" jawab Excel.


Mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing, karena mereka masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


. . . .


Cahaya hari ini akan berbelanja keperluan dapur dan kehamilannya, seperti vitamin dan susu ibu hamil. Bersama sang Ummi.


Kini kedua wanita itu tengah berbelanja di supermarket, dan mereka tidak sengaja bertemu Eza dan Jinan di sana.


"Cahaya, bukankah itu Jinan dan suaminya?" tanya Juminten dengan lembut.


Cahaya langsung menoleh dan melihat Jinan bersama Eza tengah berbelanja, terlihat pria itu menggunakan tas. Kemungkinan besar Eza akan pergi ke kampus.


"Biarkan saja! Ummi, kita jangan ikut campur," ucap Cahaya dengan lembut.


Mereka kembali berbelanja, dan Jinan bersama Eza tidak melihat keberadaan mereka di sana.


Eza kesal pada Jinan, karena dia harus ke kampus. Sebab, ada mata kuliah pagi ini, akan tetapi, sang istri malah memintanya menemani berbelanja.


"Jinan, sudahlah. Aku sudah terlambat, kau pulang sendirian saja!" ucap Eza dengan kesal.


Jinan tidak menggubris ucapan suaminya, dan terus berbelanja keperluannya. Setelah selesai, mereka langsung ke kasir untuk banyak.


Pada saat itu juga, Cahaya dan Juminten juga akan membayar sehingga mereka bertemu dan saling diam.


"Bu Ju, assalamualaikum." Putra berucap dengan sopan dan Juminten tersenyum.


"Waalaikumsalam," jawab Juminten dengan rama.


Jinan terlihat jelas tidak menyukai Cahaya, dan langsung membayar kemudian pergi dari sana meninggalkan sang suami.


"Bu, apa kabar?" tanya Eza dengan lembut.


"Alhamdulillah baik, sana kejar istri mu dia sudah jauh," jawab Juminten.


Eza bergegas pergi dari sana, karena sang istri sudah jauh. Sebab, dia tidak bisa meninggalkan Jinan yang tengah mengandung anaknya.


Cahaya hanya diam, karena dia sama sekali tidak memiliki masalah dengan Jinan. Hanya Jinan yang menganggap mereka bermusuhan, karena dia gagal menikah dengan Abidzar.


"Sudahlah Nak, tidak usah di pikirkan. Lagipula kita tidak membuat masalah dengannya," ucap Juminten dengan lembut.

__ADS_1


Walaupun Cahaya tidak berkata apapun, Juminten tahu apa yang tengah di pikirkan sang anak saat ini dan benar adanya.


"Iya Ummi, sekarang kita pulang saja!" jawab Cahaya dengan lembut.


Mereka bergegas pergi dari sana, karena Cahaya sudah lelah dan ingin segera beristirahat di rumah.


. . .


Jinan sangat kesal pada Cahaya, karena dia belum bisa memaafkan gadis itu yang sudah merebut Abidzar darinya.


'Aku tidak rela kalau dia bahagia bersama Abidzar, karena yang seharusnya di sana itu adalah aku,' batin Jinan kesal.


Putra menghampiri sang istri di dalam mobil, dan mulai mengemudikan mobil menuju rumah, karena setelah itu dia harus ke kampus.


"Sudahlah, biarkan mereka bahagia," ucap Eza.


Pria itu tahu apa yang tengah di pikirkan oleh sang istri. Sebab, terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Tidak usah sok tahu!" cecar Jinan.


Eza tersenyum simpul, karena dia tahu seperti apa Jinan sehingga dia memilih diam tidak menjawab lagi.


'Aku tahu kau adalah wanita ular, yang sangat licik. Gara-gara kau aku kehilangan perjaka ku, dan sekarang masa muda ku,' batin Eza.


Pria itu kesal, karena Jinan yang menggodanya dan melakukan hal itu bersama tanpa memikirkan Abidzar yang masih menjadi kekasih Jinan.


. . .


"Astaghfirullah, aku tidak bawa pembalut," ucap Mentari dengan lirih.


Gadis itu langsung keluar dan terkejut melihat adanya Exel di depan ruangan kerjanya.


"Mau ke mana?" tanya Exel dengan lembut.


Mentari bingung harus menjawab apa, karena dia malu kalau harus berkata ingin membeli pembalut wanita.


"Katakan saja!" ucap Exel lagi, karena Mentari hanya diam saja.


"Itu Pak, pembalut!" jawab Mentari cepat.


Exel tersenyum dan meminta Mentari menunggu, karena dia yang akan membeli barang tersebut. Namun, gadis itu berulang kali menolak.


"Tidak usah Pak, biar saya saja yang membelinya sendiri," ucap Mentari dengan lembut.


Namun, Exel tetap ngotot dan dia langsung pergi untuk membeli benda tersebut. Agar Mentari tidak lelah.

__ADS_1


Sedangkan Mentari, merasa tidak enak, kalau Exel yang membeli barang itu. Sebab, biasanya dia sendiri yang membelinya.


"Bagaimana ini, aku sangat malu kalau dia yang membelinya. Sudahlah karena sudah terlanjur juga," ucap Mentari dengan lembut.


Gadis itu melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu Exel membeli pembalut, entah bagaimana pria itu membelinya.


Swalayan ...


Exel bingung harus membeli yang mana, karena banyak sekali mereka dan model pembalut di Swalayan tersebut.


"Sepertinya ini saja!" Exel mengambil pembalut yang bagus dan mahal, karena dia bingung harus membeli yang mana.


Setelah selesai dia langsung membayar, dan bergegas kembali ke kantor memberikan pembalut tersebut.


Exel berjalan menuju ruangan kerja Mentari, dan mengetuk pintu. Kemudian masuk dan memberikan pembalut.


"Terimakasih banyak Pak, karena sudah membelikan ini untuk saya. Berapa harganya pak?" tanya Mentari.


Karena dia merasa tidak enak, kalau Exel membelikannya pembalut dan dia tidak membayarnya.


"Tidak usah, saya permisi dulu." Exel bergegas pergi dari sana, karena dia tidak mau Mentari membayarnya.


Mentari langsung masuk ke dalam kamar mandi, betapa terkejutnya dia saat melihat pembalut mahal tersebut.


"Astaghfirullah, ini pembalut mahal itu. Kenapa pak Exel membeli ini?" ucap Mentari dengan sangat terkejut.


Sebab, harga pembalut itu seratus ribu delapan buah. Padahal, biasanya dia hanya mengeluarkan uang 50 ribu.


Mentari langsung memakai pembalut iti, kemudian ke luar dan mengerjakan kembali perjalanannya. Dia berniat akan mengganti uang Exel, karena dia tidak enak pada sang bos.


Bukan karena harga pembalut tersebut, dia takut kalau di antara mereka akan ada cinta. Sebab, Mentari tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi.


. . .


Abidzar semakin cemas, karena dia sejak tadi menguping pembicaraan Exel dan Mentari. Terlihat jelas kalau sang bos menyukai adik iparnya.


"Aku harus gerak cepat, karena Putra bisa kalah dari bos, karena dia memiliki uang banyak, sedangkan Putra," ucap Abidzar.


Pria itu sangat menginginkan Putra menjadi adik iparnya, karena sang sahabat baik sepertinya, tidak pernah bermain wanita di luar sana.


"Sebaiknya, dia aku minta untuk melamar Mentari saja, karena semua bisa terjadi kalau mereka sudah saling cinta," ucap Abidzar.


Pria itu bergegas pergi ke ruangan kerja dan mengerjakan tugas, karena dia ingin segera pulang dan menemui mertuanya, dan mengatakan kalau ada pria yang akan melamar Mentari.


"Itu adalah ide bagus," ucap Abidzar dengan bergembira.

__ADS_1


Karena dia sudah memiliki rencana bagus, agar sang sahabat menikah dengan adik iparnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2