Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bertunangan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian . . .


Semua orang tengah menyiapkan segala keperluan lamaran Mentari dan Putra, karena kali ini pertama buat keluarga Juminten dan Anto.


Sebab, anak-anaknya langsung menikah, tidak ada tunangan seperti Mentari dan Putra. Namun, Anto tetap menerima, asalkan kedua anaknya bisa menjaga. Kalau mereka bukan mahram.


'Ya Allah, semoga Mentari bisa menjaga dirinya, sebagai seorang wanita muslimah,' batin Anto.


Pria itu tengah duduk di teras rumah, sambil meminum kopi. Pada saat itu juga Abidzar datang dan mencium tangan pria itu.


"Assalamualaikum Abi," ucap Abidzar dengan lembut.


"Waalaikumsalam, kamu dari mana?" jawab Anto dengan lembut.


Abidzar tersenyum, dan menceritakan kalau dia merindukan semua santri yang ada di sana. Sebab itu, ia berjalan-jalan bersama beberapa santri di sekitar pondok.


"Alhamdulillah, karena kamu bisa mencintai pondok. Semoga suatu saat nanti kamu juga akan memiliki pondok pesantren seperti abi," ucap Anto dengan lembut.


"Aamiin," jawab Abidzar dengan cepat.


Sebab, dia juga menginginkan hal yang sama, seperti yang di ucapkan oleh sang mertua, memiliki pondok pesantren sendiri.


"Abidzar masuk dulu ya Abi, mau bantu orang di dalam," ucap Abidzar dengan tutur kata yang lembut.


Anto menganggukkan kepala, dan Abidzar bergegas pergi dari sana masuk ke dalam rumah dan membantu semua orang mempersiapkan acara pertunangan Mentari dan Putra.


"Masya Allah, aku sangat bahagia karena Putra akan melamar Mentari." Abidzar berucap, sambil memasang tikar di ruang tamu.


Bersama beberapa orang di sana, karena dia meminta bantuan para santri untuk mempersiapkan semuanya agar lebih sempurna.


. . .


Mentari di dalam kamar tengah duduk sambil membaca buku yang baru terbit kemarin, karena dia memintanya pada Exel. Sebab, ia penasaran dengan judul buku tersebut.


"Muhasabah Cinta, judul yang unik bukan?" gumam Mentari sambil terus membaca buku tersebut.


Mentari memang suka membaca buku, apa lagi kalau novel. Sebab, dia banyak dapat belajaran dari novel yang di bacanya.


"Astaghfirullah, aku lupa harus mengambil barang ke pasar karena tadi ummi pesan," ucap Mentari.


Gadis itu langsung mengunakan hijab, dan bergegas pergi menuju pasar. Sebab, sang ummi memintanya mengambil kue-kue yang di pesan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Mentari tidak memperdulikan ramainya pengendara di jalanan, dan dia semakin melajukan motornya sampai di pasar.


Gadis itu langsung berjalan terburu-buru, dan mengambil pesanan sang ummi. Kemudian, dia bergegas kembali ke pondok.


Namun, saat di tengah perjalanan dia melihat seorang pria berwajah seram sedang membenarkan mobil yang rusak terparkir di badan jalan.


"Apa aku bantu saja ya?" ucap Mentari dengan bingung.


Sebab, dia takut melihat wajah pria itu. Walaupun separuh wajah pria itu masih tampan. Tetap, dia sedikit negeri.


"Assalamualaikum," ucap Mentari dengan lembut.


"Waalaikumsalam," jawab Exel.


Mentari sangat terkejut saat melihat wajah pria itu, karena mirip sekali dengan sang bos. Namun, wajahnya rusak. Ada apakah dengan bos-nya?


"Pak, Anda kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Mentari dengan cemas.


Sebab, kemarin sang bos masih baik-baik saja. Namun, sekarang sudah menjadi seperti ini.


"Maksudnya apa? Aku tidak mengenal mu?" jawab Exel sambil bertanya.


'Tunggu, bukankah tadi dia menjawab salamku? Bukankah dia Kristen?' batin Mentari bingung.


Ya, beberapa hari lalu Exel berpoto di ponselnya dan tidak berani untuk menghapus karena dia takut.


"Astaghfirullah, kenapa wajah kami sangat mirip?" ucap Exel dengan bingung.


"Sebab itu Pak, saya juga bingung karena nama kalian sama tapi agama kalian berbeda. Mana mungkin kalian kembar," sahut Mentari.


Exel berpikir hal yang sama, dan dia meminta alamat kantor pria yang mirip dengannya. Mentari memberikan dan langsung pria dari sana.


Karena, dia membawa pesanan sang ummi takut kalua wanita paruh baya itu akan marah padanya, kalua dia terlalu lama.


Setelah sampai, dia langsung memberikan kue pada sang ummi dan bergegas masuk ke dalam kamar. Gadis itu kembali membaca buku, tiba-tiba pintu kamarnya di buka sang kakak.


"Mentari," ucap Cahaya dengan lembut.


Gadis itu memberikan baju muslim miliknya dan cadar untuk sang adik, karena akan ada acara pertunangan Mentari hari ini. Ia menginginkan adiknya memakai cadar.


"Terimakasih banyak Mbak, ini sangat bagus," ucap Mentari dengan lembut.

__ADS_1


Gadis itu bahagia, karena dia bisa memiliki seorang kakak yang sangat perhatian padanya. Segala keperluannya sudah di siapkan oleh Cahaya.


"Sama-sama, mbak hanya ingin kamu memakai cadar saat keluarga Putra datang," jawab Cahaya dengan lembut.


Mentari tersenyum dan bersiap-siap dengan bantuan sang kakak, karena dia tidak pandai memakai cadar. Setelah selesai, mereka langsung ke luar sebab keluarganya sudah berkumpul dengan keluarga Putra.


Putra tersenyum, karena dia mengenali Mentari. Walaupun gadis itu mengunakan cadar, dari bola mata Mentari.


'Masya Allah, pujaan ku sangat cantik,' batin Putra.


Semuanya memulai pertunangan, yang sudah di tetapkan. Mereka akan menikahkan Putra dan Mentari pada saat umur pria itu sudah 20 tahun lebih, karena sekarang putra masih sangat muda dan harus menyelesaikan kuliahnya dulu.


"Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar," ucap orang tua Putra dengan lega.


Mama nya Putra sangat senang, karena keinginannya bisa terpenuhi memiliki menantu bercadar sama seperti Cahaya.


'Aku sangat senang bisa memiliki menantu seperti Mentari, karena dia gadis baik,' batin mamanya Putra.


"Iya, Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di sana.


Semua orang bergegas pergi dari sana. Namun, Putra masih di ruang tamu bersama keluarga Mentari, karena dia ingin memberikannya cincin pada sang pujaan hatinya.


"Cincin ini nanti bisa kamu pakai sendiri," ucap Putra dengan lembut.


Sebab, ini kali pertamanya berbicara pada Mentari dan di lihat banyak orang di sini.


"Terimakasih," jawab Mentari dengan lembut.


Putra bergegas pergi dari sana, karena dia sudah terlambat, dan Mentari hanya melihat kepergian Putra.


'Sepertinya dia pria baik, karena tidak mungkin kalau dia jahat bersikap manis seperti tadi,' batin Mentari.


Gadis itu masuk ke dalam kamar dan membuka kotak yang berisi cincin dari putra tadi, kemudian langsung mengunakan karena ukurannya sama dengan jarinya.


"Cantik sekali cincin ini. Tapi, apakah kami berjodoh?" gumam Mentari.


Sebab, mereka sudah bertunangan dengan waktu yang lama menurutnya, karena umur Putra masih sangat muda.


Gadis itu berdoa, agar dia diberikan jodoh yang baik menjadi imam yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar.


"Semoga semua doaku terkabul, dan semoga orang itu adalah Putra," ucap Mentari dengan penuh harapan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2