
Abidzar duduk di dalam masjid, sambil menunggu yang lain, karena malam ini mereka ada pelajaran. Pria itu diam dalam pikirannya yang terus berpikir.
Bagaimana caranya dia memberitahu kalau ia sudah meniduri Jinan, karena dia takut membuat Cahaya tersakiti dan berpengaruh pada janin dalam kandungan sang istri.
'Sepertinya tidak apa, karena Jinan tidak hamil. Aku harus mengutamakan kehamilan Cahaya,' batin Abidzar.
Abidzar bertekad akan memberitahu Cahaya, karena dia tidak bisa terus diam seperti ini. Sebab, ia sudah meniduri wanita yang masih suci. Begitulah pikirnya.
"Zar!" panggil Putra.
Abidzar hanya diam tidak menjawab panggilan dari Putra, karena dia bingung harus bicara apa.
"Zar, elo ada masalah?" tanya Putra.
Abidzar hanya diam, karena Putra tahu kalau dia memiliki masalah dan sekarang malah bertanya lagi.
"Zar, kok elo diam aja sih?" tanya Putra lagi.
Sebab, sang sahabat hanya diam tidak menjawab ucapannya sejak tadi. Bahkan, menoleh pun tidak.
"Elo tahu, 'kan? Kalau, gue emang lagi ada masalah besar," jawab Abidzar dengan lemas.
Putra tersenyum, karena dia lupa kalau sang sahabat memiliki masalah besar yang belum terselesaikan sampai detik ini.
"Terus? Elo mau buat apa?" tanya Putra sambil menidurkan tubuhnya.
Abidzar menggelengkan kepala, karena tidak mungkin menceritakan ia akan menemui Jinan dan memberitahu rencananya.
"Zar, elo jawab dong kalau gue ngomong," ucap Putra kesal.
Karena Abidzar tidak memperdulikan dia berbicara sejak tadi, membuatnya seperti orang gila berbicara sendiri.
"Mending elo diam deh, karena sekarang gue lagi pusing banget!" jawab Abidzar dengan ketus.
Putra diam, karena dia tahu Abidzar benar-benar sedang pusing. Sebab, sang sahabat tidak terlihat seperti sebelumnya.
'Kalau ada si Eza, pasti kami tidak seperti ini. Menghadapi masalah yang tidak terpecahkan,' batin Putra.
Beberapa menit kemudian ...
Semua santri berkumpul dan memulai pelajaran mereka, dengan tenang seperti biasanya. Setelah selesai Abidzar langsung pulang.
Karena ia tahu sang istri tengah menunggunya, apa lagi Cahaya tengah mengandung.
"Assalamualaikum!"
Abidzar mengetuk pintu dan masuk ke dalam, ia melihat sang istri masih membaca ayat suci Alquran, kemudian menghampiri dan mencium kening Cahaya.
Cahaya menghentikan membaca ayat suci Alquran, dan mencium tangan sang suami dengan lembut.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Mas." Cahaya mencium aroma tubuh sang suami.
Membuatnya sangat tenang dan nyaman, seakan ia tidak mau jauh dari suami kecilnya itu. Sedangkan Abidzar semakin merasa bersalah pada istrinya.
'Maaf saya Mbak, karena sudah membohongi Mbak,' batin Abidzar.
Cahaya melepaskan pelukannya, dan bergegas membuka mukena dan merapikan sajadah.
"Mas, besok temani ke rumah sakit, ya?" ucap Cahaya dengan sangat lembut.
"Iya," jawab Abidzar.
Cahaya mendekati sang suami yang tengah duduk di bibir ranjang, kemudian dia memeluk pria itu dan membisikan sesuatu.
"Cahaya. Eh, maksudnya Mbak, jangan seperti itu," ucap Abidzar gugup.
Cahaya tertawa, karena suaminya masih saja memanggilnya dengan sebutan Mbak, walaupun mereka sudah menikah.
"Mas, jangan panggil Mbak lagi, panggil nama saja," ucap Cahaya dengan lembut.
Abidzar hanya diam, karena dia belum terbiasa memanggil nama sang istri. Sebab, ia merasa Cahaya lebih dewasa darinya.
"Tapi Mbak, saya belum terbiasa," ucap Abidzar dengan jujur.
Cahaya tersenyum, dan mencium pipi sang suami tanpa rasa malu lagi. Sebab, ia sudah terbiasa.
Tetap dia sudah mengkhianati Cahaya, dan berbohong demi menyembunyikan hal itu dari sang istri.
"Kalau Neng saja, bagaimana?" tanya Cahaya.
Abidzar tersenyum dan menganggukkan kepala, dan mencium puncak kepala Cahaya dengan lembut.
"Baik, Neng Cahaya," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan memeluk sang suami, karena dia merasa malu saat Abidzar memanggilnya dengan sebutan Neng, padahal ia juga yang meminta.
'Ya Allah, semoga hamba dan Mas Abidzar selalu bersama dan mesra seperti ini,' doa Cahaya dalam hatinya.
Gadis itu berdoa dan berharap bisa bersama dengan Abidzar sampai akhir hayatnya nantinya, karena jujur saja sang suami adalah cinta pertamanya. Sebab, ia tidak pernah dekat dengan pria manapun sebelum menikah.
Abidzar adalah pria pertama yang masuk ke dalam hati dan jiwanya, membuatnya bisa tahu apa itu cinta dan kasih sayang.
. . . .
Satu bulan kemudian . . .
Hari-hari yang di lalui oleh Cahaya dan Abidzar sama seperti biasanya, pria itu masih saja bersikap dingin pada sang istri. Sebab, ia semakin merasa bersalah saat Jinan menyatakan dirinya hamil.
"Tidak mungkin aku berbohong padamu," jelas Jinan yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Bahkan, sudah 20 alat tes kehamilan ia gunakan dari Abidzar karena pria itu tidak percaya kalau ia tengah mengandung.
"Tidak mungkin Jinan, karena kita hanya melakukan itu sekali," jawab Abidzar.
Pria itu semakin pusing, dengan beban yang di tanggung saat ini. Sebab, ia harus dengan cepat menikahi Jinan yang tengah mengandung anaknya.
Namun, dia juga tidak mau sampai Cahaya tersakiti, karena sang istri saat ini tengah sakit sejak kehamilannya.
"Zar, aku mau kamu menikahi aku, karena perut ini akan membesar. Cepat atau lambat," ucap Jinan dengan lirih.
Abidzar semakin bingung, dan dia menghela nafas panjang ingin menjawab ucapan Jinan. Namun, belum sempat itu terjadi ada yang datang dan memotong ucapannya.
"Bajingan!"
Plak!
Mentari menampar keras pipi Abidzar, karena sejak tadi ia menguping dan menahan rasa marah dan emosinya. Namun, sekarang tidak bisa lagi karena dia tahu kalau Jinan mengandung.
"Mentari!" pekik Abidzar.
Mentari menatap tajam ke arah Jinan, karena jujur dia tidak menyukai gadis itu sejak pertama bertemu.
"Mentari, ini tidak seperti ap-" terputus, karena Mentari langsung memotong ucapannya.
"Diam kamu! Seharusnya abi tidak menjadikan mu menantunya!" seru Mentari.
Jinan hanya tersenyum, karena dia tidak sabar ingin segera menikah dengan Abidzar, dan sebentar lagi akan terlaksana.
"Mentari, dengarkan aku dulu," ucap Abidzar dengan lirih.
Mentari mengibaskan tangan yang artinya tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi, dari Abidzar dan pria itu diam.
"Kalian tidak bisa sembunyi lagi, apa lagi kamu hamil!" tunjuk Mentari pada perut Jinan yang membuncit.
Abidzar hendak memegang tangan Mentari. Namun, gadis itu langsung mengakis nya sehingga Abidzar diam.
"Seharusnya abi tahu, kalau pria seperti mu memang tidak bisa berubah dan bersikap seperti berandalan!" seru Mentari.
Gadis itu benar-benar sakit, karena sang kakak akan tersakiti oleh kenyataan pahit ini.
"Aku kecewa padamu, karena sebelumnya aku mengira kamu adalah yang terbaik untuk mbak Cahaya. Tapi, nyatanya kamu yang terburuk!" geram Mentari.
Abidzar semakin pusing dan akhirnya dia pingsan membuat dua wanita itu terkejut.
"Astaga!" pekik Jinan.
"Astaghfirullah," ucap Mentari dengan lembut, dan membantu Abidzar bangun dan membawanya duduk di bangku.
BERSAMBUNG.
__ADS_1