
Adzan subuh berkumandang, semua santri bergegas shalat subuh dan semua orang juga melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
Setelah selesai shalat Subuh, Cahaya mengemasi semua barang-barangnya. Sebab, ia akan pindah ke apartemen. Kemungkinan akan lama baru kembali ke desa.
"Apa kunci itu aku bawa saja? Kasihan dia kalau di sini," ucap Cahaya dengan ragu-ragu.
Karena, dia takut pemilik kucing anggora yang ditemukan datang mengambil dan kucing itu tidak ada.
"Biarkan saja! Lagian ummi, tidak ada teman di sini karena aku dan Tari akan pergi," gumam Cahaya sambil membereskan barang-barang.
Kucing anggora itu tidak mau ke luar dari kandang, karena kucing itu terlihat trauma akan luar. Sebab itu dia tidak pernah dilihat oleh siapapun.
Saat tengah sibuk mengemasi barang-barang, Juminten datang menghampiri sang anak dengan raut wajah sedih.
"Nak," panggil Juminten dengan lirih.
Cahaya langsung menoleh dan tersenyum, kemudian menghampiri sang ummi dan mencium pipi wanita paru baya itu.
"Duduk Ummi!" Cahaya membawa sang ummi duduk di sofa.
Juminten meneteskan air mata, karena dia tidak sanggup harus berpisah dari sang anak yang tidak pernah hidup berjauhan.
"Nak, ummi sedih. Tapi, tidak bisa berbuat apa-apa. Mana Mentari juga ingin mengejar cita-cita menjadi asisten," ucap Juminten lirih.
Juminten melarang sang anak bekerja. Namun, itu adalah cita-cita Mentari menjadi asisten salah satu perusahaan penerbit buku.
"Ummi tenang saja! Cahaya, akan ada untuk Mentari," ucap Cahaya dengan lembut.
Juminten tersenyum, karena sang anak selalu membuatnya tenang. Hatinya kini tenang dan lega karena bisa memastikan Mentari akan di kota nanti.
"Cahaya lupa Ummi, memangnya Tari mau kerja di mana?" tanya Cahaya karena dia lupa.
Sebenarnya, kemarin Mentari sudah menyebutkan di mana dia akan bekerja. Namun, Cahaya lupa. Entah mengapa, sejak hamil dia menjadi pelupa.
Cahaya pernah lupa kalau dia sudah menikah, dan memiliki Abidzar yang masuk ke dalam kamarnya sampai babak belur.
"Entahlah, ummi juga lupa, yang terpenting perusahaan penerbit buku. Iya, itu kata Mentari kemarin," jawab Juminten dengan lembut.
Sejujurnya, dia juga tidak ingat. Namun, kata penerbit membuatnya langsung ingat di dalam Mentari bekerja.
"Wah, apa jangan-jangan dia bekerja di perusahaan yang bekerjasama dengan mas Abidzar?" tanya Cahaya.
__ADS_1
Juminten tidak menjawab, karena dia tidak tahu apapun tentang perusahaan yang ada di kota. Yang ia tahu, perusahaan hanyalah pajangan dan tidak ada penghuninya.
"Ummi lucu," ucap Cahaya dengan senyuman.
Cahaya lucu mendengar sang Ummi bercerita tentang perusahaan yang menjadi pajangan, karena wanita paruh baya itu jarang ke kota dan tidak pernah masuk ke perusahaan manapun sejak dulu.
"Sudahlah, lanjutan berkemas nya, ummi ingin melihat anak-anak." Juminten bergegas pergi dari sana.
Sebab, ia masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan di dapur untuk membuat sarapan dan juga tugas negara juga.
. . .
Anto berdoa dengan menitihkan air mata, karena dia sedih akan ditinggal oleh sang anak jauh. Abidzar menghampiri sang mertua yang tengah berdoa.
"Abi jangan bersedih! Abidzar, akan menjaga Cahaya dengan baik saat di kota nanti," ucap Abidzar dengan lembut.
Anto langsung memeluk sang menantu dengan lembut, karena dia sudah menganggap Abidzar sebagai anaknya sendiri sama seperti Cahaya.
"Terimakasih banyak Nak, abi mempercayai mu," ucap Anto dengan lembut.
Abidzar tersenyum, karena sang mertua bisa memahami keadaannya yang lumayan rumit ini, membawa anak orang pergi dari rumah, dan dijadikan ratu olehnya.
"Mari kita pulang, sarapan bersama sebelum kalian pergi dari sini," ucap Anto dengan lembut.
"Ayo Abi," jawab Abidzar.
Anto dan Abidzar berjalan menuju rumah sambil bercerita bersama. Setelah sampai, mereka langsung masuk ke dalam ruangan dan melihat semua siap untuk berangkat ke kota.
"Ayo kita sarapan dulu!" Anto bergegas pergi menuju meja makan.
Begitu juga dengan semua orang, mengikuti Anto dan makan bersama tanpa bersuara sampai sarapan usai.
"Alhamdulillah," ucap Anto dengan senyuman manis nya.
Semua menjawab ucapan Alhamdulillah, dan mereka berkumpul di ruang tamu, karena Cahaya akan segera berangkat. Hanya tinggal menunggu taksi sampai dan membawanya ke kota bersama sang adik dan suaminya.
Berat hati rasanya meninggalkan sang Abi dan ummi nya. Namun, ia harus mengikuti suaminya kemanapun. Sebab, kewajiban seorang istri taat pada sang suami.
"Taksi sudah sampai, mari kita masukkan barang-barang!" Abidzar mulai menyusun barang-barang ke dalam mobil.
Awan membantu Mentari membawa barang-barang masuk ke dalam mobil. Setelah selesai, barulah mereka berpamitan dengan sangat haru.
__ADS_1
Sebab, Juminten dan Anto sangat bersedih anak-anaknya akan pergi jauh meninggalkan nya.
"Yang terpenting, jangan tinggalkan shalat," pesan Anto pada anak-anaknya.
"Insyaallah Abi," jawab Cahaya, Abidzar dan Mentari secara bersamaan.
Semua mulai masuk ke dalam mobil, sambil terus menatap wajah Juminten dan Anto yang terlihat sangat sedih.
"Hati-hati!" ucap Juminten saat taksi sudah mulai berjalan dengan perlahan.
Cahaya, Abidzar dan Mentari mengucapkan salam sebelum mereka pergi dari rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Anto sambil menatap kepergian sang anak.
Meraka berdua bergegas masuk ke dalam dan menangis, yang sejak tadi ditahan oleh keduanya. Sebab, takut membuat ketiga sang anak berubah pikiran.
. . .
Beberapa jam kemudian . . .
Abidzar tersenyum, karena kini mereka sudah tiba di apartemen yang ia sewa untuk sementara waktu.
Semua turun dan masuk ke dalam, Cahaya senang karena dia bisa tinggal bersama sang suami dengan mandiri.
"Alhamdulillah ya, Mas kita bisa mandiri,"ucap Cahaya dengan lembut.
"Iya Alhamdulillah," jawab Abidzar dengan lembut.
Mentari membantu Abidzar membawa barang-barang Cahaya, karena sang kakak tengah mengandung tidak boleh kerja keras.
Setelah selesai, Mentari masuk ke dalam kamarnya dan menyusun barang-barang ketempat masing-masing.
"Semoga besok menjadi awal yang baik, aku senang bisa menjadi asisten di perusahaan itu," ucap Mentari dengan girang.
Bagaimana tidak girang, bisa bekerja di perusahaan impiannya sejak dulu.
Gadis itu pun melihat-lihat perusahaan tempatnya bekerja nanti dari google, terlihat sangat indah dan sudah sangat terkenal. Jadi, banyak yang menginginkan bekerja di sana.
"Semoga aku bisa membuat abi dan ummi bangga, dan membuat mereka bahagia dengan kerja keras ku," ucap Mentari dengan bersungguh-sungguh.
Gadis itu sangat bersungguh-sungguh bisa membahagiakan orang tua, dengan kerja kerasnya. Sebab, ia tidak ingin menyia-nyiakan peluang dan masa kuliahnya di luar kota yang terbuang, begitu saja.
__ADS_1
Mentari memang gadis cerdas dan bijak. Sebab itu dia bisa di terima di perusahaan yang terkenal. Tidak banyak orang yang bisa masuk ke sana.
BERSAMBUNG.