
Keesokan harinya . . .
Abidzar dan Cahaya hari ini pulang ke pesantren, karena masa libur pria itu sudah berakhir dan besok sudah masuk kuliah lagi. Yang mengharuskan meraka untuk segera kembali.
Abidzar dan Cahaya pulang bersama Putra dan keluarganya, karena Abah dan Ummi tidak bisa mengantarkan mereka. Sebab, banyaknya kesibukan.
Kini meraka sudah sampai di pesantren, Abidzar dan Cahaya langsung bergegas masuk ke dalam. Mereka berpisah dengan Putra karena pria itu kembali ke kamar santri.
"Aku tidak akan membuat kalian bahagia, di atas penderitaan ku!" geram seseorang.
. . .
"Assalamualaikum!" ucap Cahaya dan Abidzar bersamaan.
"Wa'alaikumsalam!" jawab semua orang yang ada di sana dengan serempak.
Abidzar dan Cahaya langsung mencium tangan Ummi yang ada di sana, dan mata gadis itu membulat sempurna saat melihat kedua adiknya ada di hadapannya.
"Kak Cahaya!" ucap kedua anak kembar itu.
Awan dan Mentari langsung berlari memeluk Cahaya, membuat Abidzar terheran, karena dia tidak tahu kalau sang istri memiliki dua adik.
'Sejak kapan Mbak Cahaya, memiliki dua adik?' batin Abidzar sambil berpikir.
Cahaya menangis karena sudah lama sekali tidak melihat sang adik, dan kini meraka berdua ada di harapannya.
"Kalian apa kabar? Aku sangat merindukan kalian berdua," ucap Cahaya dengan lirih.
Gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang adik, satu persatu dan tersenyum bahagia.
"Kami juga sangat merindukan kakak," ucap anak kembar itu dengan serempak.
Cahaya tertawa karena kedua adik kecilnya masih sama seperti dulu, saat mereka belum pergi ke luar kota.
"Kalian masih sama, seperti dulu," ucap Cahaya dengan pelan.
Kedua anak kembar itu menganggukkan kepala mereka, dan tersenyum sambil menarik tangan Cahaya membawa sang kakak duduk.
"Abidzar masuk ke dalam dulu," ucap Abidzar dengan lembut.
Semua orang hanya diam melihat kepergian Abidzar, dan mereka kembali menceritakan tentang kisah masing-masing.
. . .
Abidzar berganti baju, dan bergegas pergi menuju kelas santri, karena dia ingin belajar tentang Islam bersama temannya yang lain.
Saat di perjalanan, dia melihat sosok wanita yang sangat familiar sekali di matanya. Kemudian ia menghampiri gadis tersebut.
__ADS_1
"Kamu!" pekik Abidzar saat melihat gadis itu.
Wanita tersebut tertawa, kemudian menghampiri Abidzar dan membisikan sesuatu di telinga pria itu.
"Sudah cukup! Jinan." Abidzar bergegas pergi dari sana dengan sangat kesal.
Sedangkan Jinan, masih di sana sambil tertawa puas. Ya, wanita itu sengaja masuk pesantren ingin belajar agama.
Namun, misi utamanya adalah menghancurkan rumah tangga Abidzar dan Cahaya. Sebab, dia masih sangat dendam.
"Kau putuskan aku, maka bersiaplah berpisah dengan wanita itu! Karena, tidak ada yang bisa memiliki mu! Kecuali aku!" geram Jinan sambil mengingat kembali kejadian itu.
Di mana saat Abidzar memutuskan hubungan dengannya, walaupun pria itu tahu kalau dia sangat mencintainya. Tetap saja memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin.
"Hanya karena wanita itu, dia tega meninggalkan aku?!" tanya Jinan dengan sangat emosi.
Jinan belum bisa memaafkan Abidzar, karena jauh di dalam lubuk hatinya masih terukir nama pria itu di sana.
. . .
Abidzar berjalan dengan cepat, sambil mengingat tadi saat Jinna membisikan kata-kata yang membuatnya kesal.
"Astaghfirullah, aku harus tenang," ucap Abidzar sambil menghentikan langkahnya.
Pria itu menenangkan diri terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam kelas yang sudah mulai.
Abidzar masuk ke dalam dan bergabung. Walaupun dia masih kesal, tetap saja ia harus belajar dengan bersungguh-sungguh.
. . .
"Kak Cahaya, kenapa suamimu tidak menyapa kami?" tanya Mentari sambil mengingat kembali kejadian tadi.
Cahaya hanya menggelengkan kepalanya, karena dia tidak tahu mengapa Abidzar langsung pergi dan tidak menyapa kedua adik tadi.
"Kamu ini bagaimana, sudah pasti dia bingung dan berpikir siapa kita," sambung Awan.
"Benar sekali," ucap Mentari.
Mentari tersenyum dan menganggukkan kepala, karena dia baru juga berpikir kalau Abidzar belum mengenal mereka.
"Kak, ceritakan bagaimana dengan mertua mu. Apakah dia baik?" tanya Mentari sambil menatap wajah sang kakak.
Cahaya tersenyum dan menceritakan betapa baiknya sang mertua dan kedua adiknya bahagia, melihat sang kakak sangat beruntung memiliki mertua baik dan suami Sholeh.
"Suami pilihan Abi," kekeh Mentari.
Karena, dia lebih tua daripada kakak iparnya sehingga lucu kalau ia harus memanggil Abidzar dengan sebutan kakak.
__ADS_1
"Sudahlah, yang terpenting dia itu dewasa walaupun umurnya di bawah kita. Sebab, aku belum tentu seperti kak Abidzar," ucap Awan.
Pria itu mengakui bahwa dirinya tidak bisa bersikap dewasa, kalau menjadi seorang suami nantinya. Sebab, sikap kekanak-kanakan masih ada.
"Mengaku kamu," sahut Mentari.
Kedua anak kembar itu mulai berdebat dan Cahaya memilih untuk masuk ke dalam kamar, dan meninggalkan sang adik yang tengah asik bertengkar.
Gadis itu menidurkan tubuh dengan perlahan, kemudian membuka ponselnya terlihat ada beberapa pesan dari Fatimah dan ustadz Ammar.
"Hal ini yang membuat mas Abidzar cemburu," gumam Cahaya sambil membuka pesan sari ustadz Ammar.
Ustadz Ammar: Assalamualaikum Cahaya, apa hari ini akan kembali?
"Wa'alaikumsalam," ucap Cahaya.
Gadis itu membalas pesan dari ustadz Ammar, karena dia tidak enak kalau membiarkan pesan tersebut.
Tiba-tiba saja, kucing anggora yang mulai gembul dan berbulu halus mendekatinya setelah sekian lama di kurung.
"Embul, kamu datang. Apakah kamu merindukan ku?" tanya Cahaya.
Kucing itu menjawab dengan ngeyogan, membuat Cahaya semakin gemas dan mencium seluruh tubuh kucing itu.
. . .
Abidzar masih di dalam kelas, padahal pelajaran telah usai dan ustadz Ammar menghampirinya.
"Ada masalah apa?" tanya ustadz Ammar.
Abidzar langsung menoleh dan menggelengkan kepalanya, karena dia tidak ingin bercerita apapun tentang masalahnya kali ini.
"Katakan saja! Jika itu bisa mengurangi berbadan mu," ucap ustadz Ammar lagi.
Abidzar hanya tersenyum dan berkata, "Insyaallah, tidak ada masalah ustadz."
Ustadz Ammar tersenyum kemudian memegang pundak Abidzar dengan lembut.
"Alhamdulillah, kalau ada masalah cerita saja! Siapa tahu saya bisa membantu, karena tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan ke luar," ucap ustadz Ammar dengan lembut.
Abidzar tersenyum karena mendengar ucapan sang ustadz, dan berharap masalahnya kali ini segera berhasil.
'Ya Allah, semoga masalah kali ini tidak panjang dan rumit,' doa Abidzar dalam hatinya.
Ustadz Ammar bergegas pergi dari sana, karena dia masih memiliki banyak pekerjaan yang lainnya. Sedangkan Abidzar masih diam dan memikirkan masalahnya.
"Benar apa yang di ucapkan oleh Eza, apa sebenarnya dia tahu kalau Jinan akan datang ke sini?" Abidzar menerka-nerka.
__ADS_1
Karena dia penasaran dari mana Jinan tahu kalau dia mondok di pesantren ini, karena ia tidak pernah memberitahu siapapun terkecuali Putra. Sebab, mereka ada di pesantren yang sama.
bersambung.