Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bertemu Di Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Abidzar meminta Mentari duduk bersamanya dan juga Cahaya, karena dia ingin bertanya tentang gosip di kantor tadi.


"Astaghfirullah, mana mungkin Mentari melakukan itu kak, apa lagi kami berbeda keyakinan," ucap Mentari dengan sangat terkejut.


Karena dia mengira gosip itu tidak tersebar. Namun, masih juga sampai kakak iparnya tahu tentang hal itu.


"Tari, mbak tahu kamu seperti apa. Lalu, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Cahaya dengan lembut.


Gadis itu tahu, kalau sang adik tidak mungkin melewati batas sampai tidur dengan pria yang bukan mahram-nya.


Mentari mulai menceritakan semua dari awal sampai akhir, agar sang kakak mengerti dan tidak salah paham lagi padanya.


"Sebanyak itu?" tanya Abidzar dengan gugup.


Sebab, sang adik ipar memegang uang bos mereka sebanyak enam triliun. Bukankah itu jumlah yang sangat fantastis?


"Semudah itu dia percaya padamu?" tanya Cahaya dengan cemas.


Karena, dia tidak ingin sang adik terluka atau celaka hanya karena uang yang bukan milik mereka.


"Iya, karena dia sudah menjelaskan semua pada Tari, dan aku bisa melihat dari semua karyawannya bekerja sama seperti ucapannya," jawab Mentari.


Karena, Exel bercerita ada salah satu karyawan adalah mata-mata sang musuh dan membiarkan, agar dia aman dan tidak ada masalah selagi dia berwaspada.


"Semoga saja! Mereka tidak tahu, kalau kamu juga ikut serta dalam hal membahayakan itu," ucap Cahaya dengan harapan.


Mentari tersenyum dan memeluk sang kakak, karena dia senang masih ada yang peduli padanya dan sayang.


'Semoga Mentari selalu dalam lindungan Allah,' batin Abidzar.


Pria itu juga mencemaskan sang adik, karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Sebab, dunia bisnis kejam dan mengerikan.


Setelah selesai bercerita, Cahaya dan Abidzar masuk ke dalam kamar. Pria itu langsung tersenyum dan mencium puncak kepala sang istri.


"Mas," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum kemudian memberikan Cahaya buku novel yang baru terbit, dan gadis tersenyum dan mengambil buku tersebut.


"Bagus sekali buku ini Mas," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum, karena banyak yang memuji kalau buku yang dia tulis bagus. Bahkan, ada salah satu produser film yang ingin menjadikan buku itu sebagai film di bioskop.


"Masya Allah, semua ini atas izin Allah, Mas." Cahaya memeluk sang suami.


Karena dia tidak menyangka, kalau suaminya akan sukses dalam waktu dekat ini. Sedangkan Abidzar semakin giat agar namanya naik daun.

__ADS_1


"Semoga kita bisa membeli rumah, dan berbagi pada yang membutuhkan," ucap Abidzar penuh harapan.


"Aamiin," sahut Cahaya.


Gadis itu mulai membaca buku milik sang suami, dan tersenyum bahagia. Sebab, ia sangat bangga pada suami kecilnya, bisa menciptakan buku sebagus ini.


Sedangkan Abidzar langsung bergegas mandi, dan bersiap-siap untuk berangkat ke masjid ingin melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.


Setelah selesai bersiap-siap, Abidzar langsung mencium seluruh wajah sang istri setelah itu dia langsung pergi. Sebab, sang istri akan marah kalau dia melakukan hal itu.


"Mas Abidzar!" teriak Cahaya.


Abidzar berlari sambil tersenyum, karena dia berhasil memancing kemarahan sang istri. Sebab, ia ingin melihat Cahaya marah karena gadis itu selalu sabar menghadapi dirinya.


"Cahaya, dia tidak pernah marah padaku. Meskipun permintaan ku aneh-aneh," gumam Abidzar sambil terus berjalan, menuju parkiran motor.


. . .


Keesokan harinya . . .


Di kesempatan pagi hari ini, Cahaya dan Abidzar memeriksa kandungan untuk yang pertama kali. Sebab, mereka ingin tahu seperti apa sang janin berkembang.


"Sudah selesai?" tanya Abidzar.


Cahaya tersenyum, dan memakai cadar kemudian menghampiri sang suami yang menunggunya di ruang tamu.


"Ayo Mas, saya sudah siap," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum dan menarik tangan Cahaya masuk ke dalam pelukannya, dan berbisik.


"Harus bayar, karena kamu sudah membuat suamimu ini menunggu terlalu lama," bisik Abidzar dengan mesrah.


Cahaya mengerutkan keningnya, karena tidak tahu harus membayar dengan cara apa?


"Ini!" Abidzar menepuk pipinya, agar sang istri mencium-nya.


Cahaya tersenyum dan langsung melakukan apa yang di minta sang suami, kemudian bergegas bangun.


"Ayo, nanti Mas bisa terlambat ke kantor," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar bangun dan berjalan dengan perlahan bersama sang istri, menuju luar dan langsung pergi ke rumah sakit.


Setelah sampai, mereka langsung masuk ke dalam dan menunggu antrian memeriksa kandungan. Cahaya, melirik Jinan yang baru sampai bersama Eza.


"Zar!" panggil Eza.

__ADS_1


Abidzar langsung menoleh dan memanggil Eza duduk di sampingnya, sedangkan Jinan duduk berjauhan dari mereka. Sebab, dia tidak mau berkumpul dengan Cahaya.


"Kok kita bisa sama, ya? Ada di sini?" tanya Eza dengan heran.


Karena, bisa bersamaan mereka memeriksa kandungan istri masing-masing. Padahal, tidak ada janji sebelumnya.


"Kebetulan saja, kamu gak kuliah?" tanya Abidzar.


Eza menceritakan kalau dia kuliah baru masuk satu Minggu kedepan, karena ada sedikit masalah pada ijazah kelulusannya.


"Semoga cepat berlalu, ya." Abidzar berucap dengan lembut, sambil menepuk pundak sang sahabat.


Kini giliran Eza yang bertanya, kenapa sang sahabat tidak masuk kuliah. Padahal, sudah memiliki usaha dan uang banyak.


"Semua itu perlu di pikirkan, karena tidak semua sarjana memiliki pekerjaan yang bagus. Sebab, saat ini aku saja sudah memiliki pekerjaan yang bagus," jawab Abidzar.


Eza mengerti ucapan Abidzar, dan merasa sangat bangga pada sang sahabat, karena di usia yang masih muda, Abidzar sudah berhasil menerbitkan buku dan komik.


"Antrian atas nama Cahaya Aisah!"


Cahaya dan Abidzar langsung masuk ke dalam, dan meninggalkan Eza bersama Jinan. Ya, gadis itu langsung menghampiri sang suami saat sang mantan kekasih sudah masuk ke dalam.


"Bicara apa saja tadi?" tanya Jinan dengan ketus.


Eza menceritakan semua pada sang istri, dan Jinan hanya diam karena heran rencananya belum juga berhasil.


'Dasar Exel tidak berguna, mengerjakan tugas kecil saja tidak becus!' geram Jinan.


Sebab, sang sepupu tidak bisa mengerjakan tugas yang ringan darinya. Membuat gadis itu tidak tinggal diam dan berniat mengerjakannya sendiri.


"Jinan," panggil Eza.


Sebab, dia tahu sang istri tengah merencanakan sesuatu yang licik, untuk Cahaya dan Abidzar tentunya.


"Iya," jawab Jinan dengan senyuman.


Karena dia tidak ingin Eza mencurigai dia, dan mengetahui semua rencana menghancurkan Abidzar dengan licik dan sadis..


"Kamu jangan berpikir untuk merebut Abidzar dari mbak Cahaya," ucap Eza dengan lembut.


Jinan menjawab dengan lembut dan tabah, membuat Eza semakin yakin kalau sang istri memiliki rencana busuk.


'Sepertinya aku harus berjaga-jaga, karena dia bisa mencelakai aku atau siapapun, demi mencapai tujuannya,' batin Eza.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2