
Abidzar mengendong Jizan, dan pria kecil itu hanya tertawa karena Abidzar terus mengajaknya berbicara.
"Zan, nanti bila bermain dengan Hazar, ajak dia bermain bola karena paman selalu mengajaknya," ucap Abidzar dengan lembut.
Jizan tertawa dan menganggukkan kepala, karena dia mengerti apa yang diucapkan oleh Abidzar barusa.
"Di mana Hazar, ya?" tanya Abidzar.
Sebab, dia sudah berkeliling mencari di mana keberadaan sang anak, dan sama sekali tidak menemukannya.
"Emangnya, Hazar di mana Paman?" tanya Jizan dengan sangat lembut.
"Entahlah, karena tadi dia bersama umminya," jawab Abidzar sambil menurunkan Jizan dari gendongannya.
"Assalamualaikum," ucap Eza dan Jinan bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Abidzar.
Jinan dan Eza sudah meletakan koper mereka ke pondok yang kosong, karena rumah Anto tidak akan muat menampung mereka semua.
"Di mana yang lain?" tanya Jinan.
"Kamu wanita, masuk ke dalam kamar Tari karena semua mereka ada di dalam," jawab Abidzar.
Jinan bergegas pergi bersama Jizan, karena dia tidak bertemu dengan Hazar. Sesampainya mereka di dalam.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Jinan dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab semua yang ada di sana dengan lembut.
Jinan langsung mencium tangan Juminten dan Inem, kemudian dia duduk di sana dan tersenyum. Sebab, Hazar tengah tertidur pulas.
"Zan, lihat Hazar dia masih tidur," ucap Jinan dengan lembut sambil menatap wajah Hazar.
"Iya Mama, tidak apa. Tunggu dia bangun, baru kami main," jawab Jizan dengan lembut.
Cahaya geram melihat Jizan, dan dia langsung menggendong pria kecil itu dengan lembut.
"Apa anak tante ini, sudah makan?" tanya Cahaya dengan lembut.
"Sudah Bibi bercadar," jawab Jizan dengan bijak.
Semua orang yang ada di sana tertawa, karena Jizan sangat bijak menjawab pertanyaan Cahaya.
"Lepaskan, itu Ummi ku!" teriak Hazar yang baru bangun.
Semua orang langsung menoleh, dan Cahaya menurunkan Jizan. Sebab, sang anak sangat cemburu bila dia menyayangi anak lain.
"Maaf Hazar," ucap Jizan dengan lembut.
Cahaya langsung memeluk sang anak, karena dia juga kurang menyukai sikap sang anak yang sangat cemburuan.
__ADS_1
"Sayang, tidak boleh seperti itu, apa lagi kalian ini bersaudara," ucap Cahaya dengan lembut.
Hazar tidak menjawab, dan dia langsung memeluk Mentari yang ada di sampingnya.
"Hazar, minta maaf pada Jizan," pinta Cahaya.
Namun, Hazar masih diam sehingga Mentari membisikan sesuatu di telinga pria kecil itu dengan lembut.
"Maafkan Hazar ya, Jizan," ucap Hazar dengan lembut.
"Iya Hazar," jawab Jizan dengan lembut.
Inem langsung mengambilnya Jizan, kemudian bertanya-tanya pada pria itu seperti biasanya.
Hazar, sama sekali tidak cemburu bila nenek atau yang lain berdekatan dengan siapapun. Namun, dia akan sangat kesal, bila ummi atau Abi nya mendekati anak lain.
"Mama, Jizan ngantuk," ucap Jizan dengan lembut.
"Ayuk kita tidur dulu," jawab Jinan.
Jizan dan Jinan, langsung bergegas pergi dari sana menuju pondok, karena pria kecil itu sangat mengantuk.
Sedangkan semua orang, masih di sana sambil mempersiapkan acara besok, dan memberikan nasehat pada Mentari.
"Ummi, Hazar mau susu lagi," ucap Hazar dengan lembut.
"Baiklah, ummi buatkan dulu." Cahaya bergegas pergi dari sana, menuju dapur dan membuat susu untuk sang anak.
Namun, sebelum selesai dia di kejutan oleh kedatangan Abidzar dan langsung memeluknya dari belakang.
Cahaya tersenyum, karena mereka baru saja berpisah dan sang suami sudah bertanya ke mana dia pergi.
"Baru juga sebentar Mas, masa sudah rindu saja?" jawab Cahaya dengan pernyataan juga.
"Iya. Tapi, mas pergi dulu karena masih banyak pekerjaan," jawab Abidzar sambil bergegas pergi dari sana.
Namun, sebelum dia benar-benar pergi, ia menyempatkan diri untuk mencium kening sang istri, barulah dia pergi dari sana.
"Dasar mas Abidzar," gumam Cahaya.
Sambil terus berjalan, kembali ke kamar Mentari dan memberikan susu pada sang anak. Kemudian, dia duduk dan mendengarkan ceramah Juminten dan Inem.
. . .
Jinan tersenyum saat sang anak hendak tidur dan melakukan kebiasaannya, memegang tangannya dengan erat, karena takut ia akan pergi.
"Mama, jangan pergi sampai Jizan bangun, ya?" ucap Jizan yang sudah hampir terlelap.
"Iya sayang, mama tidak akan pergi kok," jawab Jinan dengan sangat manis.
Jizan mulai terlelap, dan Jinan hanya bisa diam dan menunggu sang anak benar-benar tertidur pulas, barulah dia pergi. Sebab, itu sudah menjadi kebiasaan sang anak.
__ADS_1
Sebelum sang anak tertidur pulas, Eza datang dan mencium putranya dengan lembut. Namun, sang anak tidak bangun.
"Eza, kalau dia bangun bagaimana?" tanya Jinan dengan sangat pelan.
Eza tersenyum, dan memberikan dodol untuk Jinan karena sang istri sangat menyukainya. Gadis itu tersenyum dan langsung mengambil dodol tersebut.
"Terimakasih Mas," ucap Jinan.
"Hanya ucapan saja?" tanya Eza sambil mengedipkan sebelah matanya.
Jinan tersenyum dan langsung mengecup pipi sang suami, dengan sangat lembut dan sebaliknya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Eza dengan lembut.
Sambil bergegas pergi dari sana, karena dia ingin membantu Abidzar mempersiapkan acara besok. Walaupun hanya ada ijab kabul, akan tetapi, ada banyak tamu undangan yang akan datang juga ada anak yatim.
. . .
Eza menghampiri Abidzar, yang tengah memasang tenda untuk acara pernikahan besok. Sebab, akan ada banyak orang yang datang, termaksud teman-teman Mentari.
"Zar, gue bantuin pakai doa aja ya," ucap Eza sambil tersenyum.
Abidzar langsung menatap tajam ke arah sang sahabat, kemudian Eza langsung membantahnya.
"Elo, gak istirahat aja?" tanya Abidzar dengan lembut.
Sebab, ia tahu Eza baru sampai pasti lelah karena pejalan yang di tempuh lumayan jauh. Tidak mungkin pria itu tidak lelah.
"Gue udah biasa Zar, santai aja," jawab Eza sambil terus mengerjakan tugasnya.
Setelah selesai, Eza meminta bantuan Abidzar ke tempat yang sunyi tidak ada orang. Sebab, ia ingin merokok.
"Elo ya, gak ada berubahnya," ucap Abidzar sambil terus berjalan, menuju belakang pondok.
Sebab, hanya di sana yang tidak akan ada orang.
"Zar, gue dah coba kok untuk tobat, hanya belum semuanya siap," jawab Eza.
Abidzar hanya menggelengkan kepala, karena dia tidak tahu jalan pikiran sang sahabat. Setelah sampai, mereka langsung duduk di sana.
"Zar, elo gak mau nyoba lagi?" tanya Eza sambil memberikan rokoknya.
"Elo tahu gak? Kalau, gue nikah itu karena apa?" jawab Abidzar sambil bertanya, dan Eza menggelengkan kepala.
Sebab, dia sama sekali tidak tahu kenapa Abidzar menikah dengan terburu-buru sampai ia tidak mengetahuinya.
"Karena rokok," ungkap Abidzar.
Eza langsung tertawa dengan sangat kuat, karena dia lucu mendengar Abidzar menikah hanya karena ketahuan merokok.
"Astaghfirullah, gue sakit perut," kekeh Eza.
__ADS_1
Abidzar hanya diam, karena dia juga heran pada orang tuanya yang menikahkan dia hanya karena ketahuan merokok.
BERSAMBUNG.