
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dan lagi ini Abidzar dan Cahaya akan berangkat ke kota bersama Putra dan keluarga. sebab, pria remaja itu yang meminta agar mereka pulang bersama-sama.
Abidzar dan Cahaya mencium tangan Ummi dan Abi, kemudian mereka berjalan masuk ke dalam mobil ayahnya Putra.
"Kami pergi dulu Abi. Assalamualaikum!" ucap Abidzar sambil melambaikan tangannya.
"Wa'alaikum salam!" jawab Anto dengan sangat lembut.
Pria itu senang melihat sang anak pergi bersama suami pilihan nya, yang tidak mungkin salah memilih kan pasangan untuk sang anak.
"Ummi, Abi sangat senang bisa melihat anak kita pergi bersama suaminya," ucap Anto sambil berjalan masuk ke dalam.
"Sam, Ummi juga seperti itu," sahut Juminten sambil berjalan mengikuti langkah sang suami.
Mereka merasa sangat sunyi karena Abidzar dan Cahaya pergi dari rumah untuk berbulan madu.
'Sunyi sekali rumah ini. Tapi, bagaimanpun Cahaya memang akan pergi dari sini,' batin Anto lirih.
Pria itu seketika langsung berpikir bahwa sang anak akan pergi darinya dan meninggalkannya sendirian.
Sakit sekali rasanya jika itu terjadi. Namun, bagaimanpun Cahaya memang akan pergi darinya cepat atau lambat.
"Abi," panggil Juminten dengan sangat lembut saat melihat sang suami hanya diam termenung.
Terlihat jelas jika sang suami sedang memikirkan masalah besar, yang tidak lain adalah Cahaya karena dia tahu betul sikap sang suami.
"Sudah jangan di pikirkan lagi, anak kita sudah dewasa dan dia bisa melindungi dirinya. Apa lagi ada Abidzar yang sangat baik dan sayang pada Cahaya," ucap Juminten, dengan sangat lembut agar suaminya tidak bersedih lagi.
Anto terdiam dan berpikir bahwa yang di katakan oleh sang istri ada benarnya juga, dia memang akan di tinggal kan oleh sang anak.
"Baiklah, apa bisa kita ikut Cahaya? Karena, Abi tidak sanggup kalau berpisah dari anak kita itu," ucap Anto dengan sangat lembut.
Juminten sebenarnya sedih kalau harus melepas anak mereka. Namun, dia harus kuat dan menenangkan sang suami.
.
.
.
__ADS_1
Cahaya merasa senang akan ke kota, dan menemui mertua yang sudah di rindukan. Sebab, mereka jarang sekali bertemu seperti sebelumnya.
Sedangkan Abidzar hanya diam, karena dia berpikir jika sudah sampai di kota ia akan mencari kesempatan untuk memutuskan hubungan dengan Jinan. Walaupun mereka sudah berpacaran lama sekali.
Tetap saja, Abidzar akan memutuskan hubungan dengan Jinan karena sekarang dia adalah suami orang, dan tidak ingin melukai hati istrinya hanya karena gadis itu.
"Mbak capek gak?" tanya Abidzar dengan sangat lembut.
Cahaya langsung menoleh dan menatap wajah sang suami yang ada di sampingnya, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kalau lelah, tidur saja di pangkuan saya," ucap Abidzar dengan sangat lembut.
Orang tua Putra tersenyum karena sahabat anaknya sudah menikah dengan wanita bercadar, dan sangat sopan padanya.
"Abidzar, jika ada satu wanita yang sama seperti Cahaya. Sudah pasti akan tante jodohkan langsung dengan Putra," ucap ibunya Putra.
Semua orang tersenyum di sana karena lucu melihat wajah Putra yang sangat sedih. Sebab, sang ibu akan menjodohkan walaupun dia masih udah belum seharusnya menjadi suami.
"Sudahlah Tante, kasihan Putra sampai pingsan karena ungkapan Tante barusan," ucap Abidzar dengan sangat lembut.
Semua orang yang ada di sana tertawa, mendengar ucapan Abidzar barusan begitu juga dengan Cahaya yang tersenyum.
Karena dia sangat mengagumi sosok wanita bercadar yang menjadi istri Abidzar itu. Sampai dia berpikir ingin mencarikan sang anak wanita seperti itu juga.
"Tante ini bisa aja.Tapi, emang benar sih sangat beruntung," ucap Abidzar dengan sangat lembut sambil melirik ke arah sang istri.
"Abidzar, jangan gitu deh elo. Buat gue iri aja," ucap Putra yang seolah-olah sangat bersedih tidak memiliki pasangan.
Cahaya tersenyum karena dia sangat bahagia bisa menikah dengan Abidzar yang selalu membuatnya tersenyum, walaupun awalnya mereka tidak saling kenal.
'Ya Allah, hamba sangat bahagia bisa memiliki suami seperti mas Abidzar,' batin Cahaya.
"Neng, kok diam aja?" tanya ibunya Putra lagi, karena dia ingin sekali dekat dengan Cahaya.
"Maaf Bu, saya bingung mau ngomong apa," ucap Cahaya dengan sangat lembut.
Semua orang di sana tertawa mendengar ucapan Cahaya, dan merek melanjutkan ceritanya mereka.
Cahaya merasa sangat mengantuk sehingga dia tidur berdasar di pangkuan Abidzar, sampai di kota barulah dia bangun.
__ADS_1
Abidzar dan Cahaya turun di hotel, karena mereka ingin beristirahat dulu baru pulang ke rumah abah dan Ummi.
Kini mereka sudah ada di dalam kamar, dan Cahaya melepaskan jilbabnya sambil menatap wajah sang suami.
'Mas Abidzar uang dari mana. Ya, karena dia tidak bekerja bukan?' batin Cahaya dengan sangat penasaran.
Abidzar menghampiri sang istri dan mencium pipi Cahaya dengan sangat lembut, kemudian tidur di pangkuan istrinya.
"Mbak pasti mau tau, 'kan, saya uang dari mana?" ucap Abidzar dengan sangat lembut, karena dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Cahaya.
Cahaya terdiam karena dia terkejut sang suami yang tahu apa yang sedang di pikirannya.
"Iya. Tapi, mas tahu dari mana?" tanya Cahaya sambil menatap wajah sang suami yang ada di pangkuannya.
"Dari wajah kamu," jawab Abidzar dengan sangat lembut dan Cahaya kembali diam dalam pikirannya.
"Sebenarnya, saya itu membuat komik Mbak," ungkap Abidzar.
Cahaya benar-benar tidak percaya kalau sang suami pandai membuat komik dan menghasilkan uang.
"Yang bener?" tanya Cahaya dengan sangat penasaran.
Abidzar bangun dan menatap wajah Cahaya dan memegang tangan sang istri dengan sangat lembut.
"Benar Mbak, dan saya juga membuat beberapa novel online yang menghasilkan uang. Tapi, ponsel saya di sita sama abah," jawab Abidzar dengan sangat lirih.
Cahaya tersenyum dan berpikir akan memberikan ponsel nya pada Abidzar, agar pria itu bisa kembali menulis dan membuat komik.
"Mas, bagaimana kalau memakai ponsel saya saja? Tapi, di saat jam kosong. Agar semuanya tidak tertinggal karena ponsel," ucap Cahaya dan Abidzar sangat gembira akan ucapan sang istri.
Refleks Abidzar memeluk Cahaya dengan sangat erat, kemudian dia melepaskan pelukannya.
"Maaf Mbak, tadi saya tidak sengaja," ucap Abidzar dengan sangat pelan, karena dia malu sudah bertingkah seperti itu.
Cahaya tersenyum karena dia lucu melihat Abidzar yang meminta maaf karena memeluk istrinya sendiri.
Lucu Bukan? Namun, itulah yang terjadi di antara mereka karena masih canggung dan belum mengenal satu sama lainnya.
'Mas Abidzar sangat lucu, dan sangat polos dia tidak seperti pria yang ada di luar sana,' batin Cahaya.
__ADS_1
Bersambung.