
Abidzar tak kunjung bangun, membuat Mentari berlari, untuk memanggil sang Abi dan yang lainnya.
"Abi, tolong! Abidzar pingsan!" teriak Mentari.
Sontak membuat semua yang ada di sana terkejut, dan berlari mengikuti langkah Mentari ke tempat Abidzar pingsan.
"Astaghfirullah, tolong bantu dia," ucap Anto dengan lembut.
Putra dan santri yang lain membantu Abidzar masuk ke dalam rumah, dan meletakkannya di sofa.
Cahaya sangat terkejut melihat sang suami tidak sadarkan diri, sehingga dia menangis dan memeluk sang suami.
"Mas, bangun!" ucap Cahaya.
Putra dan yang lain bergegas pergi dari sana, karena mereka tidak enak kalau melihat Cahaya walaupun gadis itu memakai cadar.
'Kenapa Abidzar pingsan ya?' batin Putra sambil berpikir.
Jinan hanya melihat dari luar, karena dia takut masuk ke dalam. Sebab, Mentari sudah mengetahui rahasianya bersama Abidzar.
"Mbak!" Mentari menarik tangan Cahaya.
Sehingga gadis itu terkejut dan langsung bangun, kemudian menatap wajah sang adik dengan serius.
"Ada apa?" tanya Cahaya.
"Kenapa Nak?" tanya Anto dengan cemas.
Entahlah kenapa hatinya gelisah tidak menentu, setelah melihat Abidzar pingsan barusan.
Mentari menghela nafas panjang dan menceritakan apa yang di lihat, dan di dengarnya tadi. Sontak Cahaya terkejut.
"Astaghfirullah!" Cahaya terjatuh lemas ke lantai.
"Cahaya!"
Anto dan Mentari menghampiri Cahaya, dan mereka membantu gadis itu bangun kemudian membawanya ke sofa.
"Itu semua tidak mungkin," ucap Cahaya dengan lirih.
Hatinya sangat sakit dan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Terasa dunia ini runtuh saat membayangkan sang suami bersama Jinan sampai wanita itu hamil.
"Abi juga tidak percaya," ucap Anto sambil meneteskan air mata.
Pria itu juga sakit saat mendengar sang menantu menghamili wanita lain. Namun, dia harus sabar agar bisa menenangkan sang anak.
"Apa perlu kita panggilkan, Jinan?" tanya Mentari.
Cahaya hanya diam, karena dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini, dengan keadaan hati yang hancur, ia tidak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Jika itu yang terbaik, panggilkan dia!" jawab Anto.
Mentari bergegas pergi dari sana, saat di depan rumah ia terkejut melihat Jinan ada di sana. Kemudian gadis itu tersenyum simpul.
"Ternyata, kau pandai juga wanita busuk!" cibir Mentari.
Jinan tidak memperdulikan ucapan Mentari, karena dia memang menginginkan kehancuran rumah tangga Abidzar dan Cahaya.
"Kau tidak usah repot-repot!"
Jinan bergegas pergi dari sana masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang tamu, dan ia duduk di samping Cahaya sambil memperlihatkan perut yang membuncit.
Hati Cahaya seakan hancur berkeping-keping, dan ia menangis tak bersuara sedikitpun agar tidak ada yang tahu kalau dia tengah menangis saat ini.
'Ya Allah, kuatkan hamba menjalani semua ini. Apakah ini nyata? Atau, hanya mimpi?' batin Cahaya.
Gadis itu berharap kalau ini adalah mimpi, karena dia benar-benar tidak sanggup harus menerima kenyataan pahit.
"Nak, apa benar semuanya yang di ucapkan oleh Mentari?" tanya Anto pada Jinan.
Jinan tersenyum dan menganggukkan kepala, sambil memperlihatkan perut yang mulai membuncit.
Hati Anto sangat sakit, membuat pria itu duduk lemas di lantai sambil menitihkan air mata.
'Ya Allah, apa salah anak hamba? Sehingga engkau berikan ujian sebesar ini?' batin Anto lirih.
Mentari menghampiri sang Abi, dan memeluk pria itu dengan lembut agar sang Abi bisa tenang.
Cahaya berjalan dengan perlahan masuk ke dalam kamarnya, dan merenungkan semua. Gadis itu telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
"Insyaallah, aku akan tabah," ucap Cahaya lirih.
Wanita mana yang tidak sakit kalau suaminya menghamili wanita lain? Padahal, mereka baru saja menikah dan juga segera mendapatkan keturunan.
. . .
Jinan bergegas pergi dari sana, karena niat dan rencananya sudah terlaksana. Sedangkan Mentari dan Anto, masih menunggu kesadaran Abidzar.
Abidzar perlahan membuka mata dan melihat ia ada di ruang tamu, dan ia langsung bangun.
"Akhirnya dia sadar juga!" ucap Mentari dengan ketus.
Abidzar langsung menoleh, dan menghampiri sang mertua. Kemudian bersujud di kaki pria paruh baya itu.
"Abi, maafkan Abidzar. Semua ini bukan kemauan saya," ucap Abidzar dengan lirih.
Anto hanya bisa menangis, saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Abidzar. Tadinya dia berharap kalau yang di katakan Jinan bohong. Namun, semua adalah kenyataan pahit baginya.
"Seharusnya kamu itu berpikir! Sebelum melakukannya!" sentak Mentari.
__ADS_1
Abidzar hanya diam karena dia memang bersalah, dan ia juga sangat menyesali perbuatan yang sama sekali tidak di sengaja itu.
"Bangun Nak," pinta Anto dengan lembut.
Abidzar bangun dan duduk di samping mertuanya, kemudian menatap wajah sedih dan kecewa pria paruh baya itu.
"Selesaikan masalah ini dengan istri mu," ucap Anto dengan lembut. Namun, begitu kecewa, terlihat jelas dari raut wajahnya.
Abidzar terkejut, karena sang istri sudah mengetahui kalau ia dan Jinan sudah berbuat dosa besar.
"Baik Abi, kalau begitu saya permisi dulu." Abidzar bergegas pergi dari sana menuju kamarnya.
Setelah kepergian Abidzar, Mentari sangat kesal karena sang Abi tidak menghukum pria itu.
"Seharusnya dia di usir dari sini!" geram Mentari dengan kesal.
Anto memegang tangan sang anak, agar tidak kalut dalam emosi dan Mentari bisa tenang dalam menghadapi masalah besar.
. . .
Abidzar masuk ke dalam kamar, dan melihat adanya sang istri di tempat tidur sedang menangis. Pria itu pun menghampiri Cahaya dan duduk di sampingnya.
"Neng," panggil Abidzar dengan lembut.
Cahaya semakin terisak, saat Abidzar memanggilnya dengan sebutan Neng.
"Maafkan saya, karena sejujurnya itu tidak di sengaja," ucap Abidzar lirih.
Karena, sampai saat ini ia masih saja tidak yakin kalau sudah berbuat dosa bersama Jinan. Namun, kenyataannya gadis itu hamil.
"Iya Mas," jawab Cahaya dengan nada bergetar.
Hati Cahaya sangat sakit, mendengar kenyataan pahit itu dari mulut Abidzar sendiri. Sebab, tadi ia sempat berpikir itu hanya akal-akalan Jinan.
Karena, dia tahu Jinan sangat mencintai suaminya. Namun, semua adalah kenyataan bukan mimpi.
"Maafkan saya Neng!" Abidzar memeluk Cahaya dan mulai menangis.
Sejujurnya dia sangat tidak bisa menerima semuanya. Namun, ia harus bertanggung jawab karena ada benih yang ia tanamkan di rahim Jinan.
Cahaya menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Abidzar, karena dia berharap ini semua adalah mimpi buruk yang datang di malam hari.
Gadis itu berdoa agar besok pagi dia bangun, suasana sudah seperti biasa. Semua masalah ini ikut ke dalam mimpinya.
'Ya Allah, apakah hamba sanggup melihat suami hamba menikahi wanita lain?' batin Cahaya lirih.
Cahaya menghentikan tangisannya, kemudian dia menatap wajah sang suami dan berkata, " Nikahi Jinan!"
Abidzar terkejut mendengar ucapan Cahaya, dan dia hanya diam tidak menjawab sang istri.
__ADS_1
BERSAMBUNG.