
Pagi ini, setelah semua orang shalat Subuh berjamaah, semua berkumpul di ruang tamu bersama seorang penghulu.
Awan duduk bersama sang Abi dan Abidzar, dan para ustadz lainnya juga di sana menunggu ijab Kabul yang akan terucap.
Jantung Awan berdegup dengan kencang, karena dia sangat gugup akan melakukan ijab Kabul.
'Ya Allah, hamba sangat bahagia sebentar lagi akan menjadi suami mbak Fatima,' batin Awan.
Pria itu sangat bahagia, bisa menikahi wanita yang sudah berpacaran dengan selama lima tahun lalu.
Di dalam kamar . . .
Fatimah mengunakan baju kebaya, dan Cahaya tengah menghias wanita itu dengan sangat cantik.
"Masya Allah, cantiknya adik ipar ku," ucap Cahaya dengan kagum.
Fatimah terdiam dan menatap semua orang yang ada di sana, karena dia merasa malu melihat dirinya sangat cantik.
Juminten tersenyum dan mendekati Fatimah, kemudian memberikan cincin emas. Mentari mendekati gadis itu bersama dengan Jinan juga.
"Terimakasih Bi," ucap Fatimah dengan lembut.
Juminten tersenyum dan memegang tangan Fatimah dengan lembut dan berkata, "Sekarang aku adalah Ummi mu juga."
"Benar itu Mbak," sambung Mentari dengan senyuman manisnya.
"Benar itu adik ipar," tambah Cahaya.
Fatimah tersenyum dan memeluk Juminten dengan lembut, karena dia sudah menganggap wanita itu sebagai ibu kandungnya sendiri.
Sebab, Fatimah sudah di besarkan oleh wanita itu setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
"Terimakasih Ummi, sudah membesarkan Fatimah sampai sekarang," ucap Fatimah dengan sangat lembut.
Juminten tersenyum dan memeluk ketiga anaknya, kemudian matanya melirik ke arah Jinan yang hanya diam saja.
"Hei Nak, ke marilah!" pinta Juminten.
Jinan tersenyum dan berjalan kemudian memeluk Juminten dan ketiga gadis itu, mereka berpelukan dengan lembut dan bahagia.
. . . .
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah," ucap Pak penghulu.
Awan merasa lega karena sekarang dia sudah menjadi seorang suami, dan menikahi wanita yang sangat di cintanya.
'Alhamdulilah ya Allah, sekarang hamba dan mbak Fatimah sudah menikah,' batin Awan.
__ADS_1
Pria itu sangat bahagia dan tidak sabar menemui Fatimah, dan memeluk gadis itu dengan halal tidak seperti sebelumnya.
"Alhamdulillah, sekarang anak abi sudah menjadi suami," ucap Anto dengan lembut.
Awan memeluk sang Abi dengan sangat lembut dan mencium tangan pria paru paru itu.
"Terimakasih Abi, sudah membuat hubungan kami halal," ucap Awan dengan sangat lembut.
Anto tersenyum dan berkata, "Seharusnya kalian berterus terang, jangan bersembunyi seperti itu!"
Awan merasa malu, karena dia mencintai sepupunya yang jauh lebih dewasa darinya. Sebab itu, ia tidak menceritakan hubungannya pada siapapun.
"Mas Awan, sekarang sudah menjadi seorang iman untuk mbak Fatimah. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan untuk hubungan kalian," ucap Abidzar dengan lembut.
Awan tersenyum dan langsung memeluk Abidzar yang ada di samping sang Abi, karena dia merasa senang memiliki ipar yang baik dan dewasa.
"Terimakasih Mas, karena kamu menjadi ipar yang baik untuk saya dan Mentari," jawab Awan dengan lembut.
Semua Ustadz yang ada di sana, bergegas pergi karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Abi, Mas Awan, saya permisi dulu mau siap-siap kuliah." Abidzar mencium tangan sang mertua dan iparnya.
Kemudian dia bergegas pergi dari sana menuju kamar, untuk berganti baju dan berangkat kuliah.
Saat di dalam kamar, matanya melihat semua keperluannya sudah di siapkan oleh Cahaya. Namun, gadis itu tidak ada di sini.
"Sangat beruntung memiliki istri baik, dan shalihah seperti mbak Cahaya," gumam Abidzar.
Pria itu bersiap-siap mengunakan baju kuliah dan pergi dari kamarnya, setelah sampai di luar. Abidzar dan Cahaya berpapasan.
"Iya, hati-hati!" jawab Cahaya dengan lembut.
Abidzar tersenyum dan mengulurkan tangan, kemudian Cahaya mencium tangan sang suami dengan lembut.
"Assalamualaikum bidadari ku," ucap Abidzar dengan sangat mesra.
"Wa'alaikumsalam," jawab Cahaya dengan malu-malu.
Abidzar bergegas pergi dari sana, dan Cahaya masih menatap punggung suaminya menjauh. Gadis itu pun bergegas pergi dari sana dengan hati yang bergembira.
Seorang gadis menatap tajam dengan dendam yang membara, saat melihat Cahaya dan Abidzar tadi.
'Aku tidak akan membuat kalian bahagia, sedangkan aku? Terus-menerus menderita!' geram Jinan dalam hatinya.
Ya, Jinan sejak tadi melihat Cahaya dan Abidzar sangat mesra dan membuatnya semakin dendam.
Karena, dia berpikir kalau Cahaya merebut Abidzar darinya dengan curang sehingga dia kalah.
. . .
Awan tersenyum manis saat dia bisa dengan puas menatap wajah Fatimah, tanpa memikirkan dosa lagi.
__ADS_1
"Cantiknya istriku," ucap Awan dengan lembut.
Fatimah tersipu malu, dan menundukkan wajahnya. Awan langsung memegang tangan gadis itu dengan lembut.
"Untuk apa malu? bukankah, kita setiap hari bertemu?" tanya Awan sambil menatap Fatimah.
Fatimah hanya bisa tersenyum, karena saat ini dia sangat malu berhadapan dengan sang suami. Yang sebelumnya adalah sepupunya.
"Aku hanya malu, karena sekarang kita menjadi suami-istri," jawab Fatimah dengan lembut.
Awan tersenyum dan langsung mencium kening Fatimah, kemudian melahapnya. Sebab, rasa ini sudah sangat lama di tahan.
. . .
Jinan tersenyum saat melihat Abidzar di dalam kelas bersama santri yang lain, dan dia bergegas pergi dari sana menuju kelas satu SMP.
Gadis itu berjalan sambil menyusun rencana, agar dia bisa mendapatkan hati Abidzar kembali dan menghentikan posisi Cahaya.
'Tunggu saja mbak, kamu bakalan menjadi janda. Sebab, Abidzar akan kembali padaku,' batin Jinan.
Gadis itu sangat licik, dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan miliknya kembali. Sampai rencana jahat masuk ke dalam pikirannya.
Jinan mengajar anak kelas satu sampai selesai, dan ia langsung menjalankan misi untuk menjebak Abidzar.
"Itu dia," ucap Jinan sambil tersenyum licik melihat Abidzar.
"Abidzar!" panggil Jinan.
Abidzar menoleh dan menghampiri gadis itu, kemudian bertanya ada apa memanggilnya.
"Bawa buku ini, ke dalam kamar ku, dan buku yang ada di dalam kelas satu," ucap Jinan.
"Baik." Abidzar bergegas pergi menuju kamar Jinan membawa separuh buku.
Pria itu kembali ke kelas satu mengambil buku yang tertinggal, tanpa rasa curiga sedikitpun pada Jinan.
Saat pria itu masuk ke dalam kamar Jinan sambil membawa buku, terlihat kamar itu gelap gulita.
"Kok gelap ya?" tanya Abidzar.
Saat hendak keluar, tiba-tiba saja pintu tertutup dan terkunci. Kemudian Abidzar terjatuh pingsan karena obat bius yang diberikan oleh Jinan.
"Berhasil," ucap Jinan.
Gadis itu menyalakan lampu dan langsung menjalankan misi, agar bisa memiliki Abidzar kembali. Walaupun ia harus melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi.
tiga jam kemudian . . .
Abidzar membuka kedua mata dan memegang kepala yang terasa sangat sakit, kemudian dia melihat dirinya ada di dalam kamar yang asing.
"Astaghfirullah!" pekik Abidzar.
__ADS_1
Pria itu terkejut saat melihat dia sama sekali tidak mengunakan sehelai benang, dan melirik ke arah samping. Terlihat ada Jinan yang sama sepertinya.
BERSAMBUNG.