
Semua orang mempersiapkan pernikahan Abidzar dan Jinan, karena semua itu adalah permintaan dari Cahaya sendiri.
Semua di persiapkan sampai menunggu kedatangan orang tua Jinan dari kota, dan gadis itu sangat berbahagia.
Bagaimana tidak bahagia? Semua rencanya berhasil dan tinggal menghitung jam dia akan menjadi istri Abidzar. Walaupun hanya menjadi yang kedua.
. . .
Cahaya diam sambil menatap langit malam dari jendela kamar, karena dia malam ini tidur sendiri. Sebab, Abidzar tidur di kamar tamu hal itu ia yang memintanya.
"Ya Allah, rasanya hamba tidak bisa sanggup harus melihat suami hamba menikahi wanita lain," ucap Cahaya lirih.
Gadis itu tidak sanggup membayangkan kalau suaminya menikahi wanita lain di hadapannya, sehingga ia berpikir akan pergi sejauh mungkin agar Jinan dan Abidzar bisa bahagia.
"Ya Allah, semoga keputusan hamba tepat," gumam Cahaya lirih.
Gadis itu menyusun barang-barangnya masuk ke dalam tas, kemudian dia berjalan menuju jendela dan ke luar dari sana. Sebab, takut ketahuan kalau dia kabur dari rumah.
Gadis itu berjalan dengan perlahan, dan melihat pondok sangat sunyi karena jam sudah menunjukkan pukul 00.00, artinya semua santri sudah tidur.
Memudahkan dia untuk kabur tanpa adanya halangan sedikitpun. Setelah sampai di luar, Cahaya bernafas dengan lega.
"Alhamdulillah, tidak ada yang tahu," gumam Cahaya sambil terus berjalan.
Entah mau ke mana gadis itu pergi. Yang jelas dia akan pergi sejauh mungkin agar tidak melihat lagi suami dan Jinan menikah.
Saat tengah berjalan di tempat sunyi, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Membuat Cahaya ketakutan.
"Ya Allah, lindungi hamba," doa Cahaya.
Pintu mobil terbuka, dan ke luar seorang pria bertubuh besar tinggi, memiliki postur tubuh yang Sispacx.
"Aaahhh!" jerit Cahaya.
. . .
Jinan tersenyum dan menari-nari dengan sangat bergembira, karena dia akan menikah dengan Abidzar saat subuh nanti. Sehingga ia tidak tidur sama sekali.
"Akhirnya aku akan menikah dengan Abidzar, walaupun hanya menjadi istri kedua," ucap Jinan.
Gadis itu berniat menyingkirkan Cahaya, dan dia menjadi istri satu-satunya Abidzar, dengan rencana liciknya.
"Walaupun aku berbohong. Tapi, aku adalah pemenangnya," ucap Jinan dengan sangat bergembira.
Gadis itu menidurkan tubuh dan membayangkan seperti apa malam pertama bersama Abidzar nantinya, membuatnya tidak tahan menunggu beberapa jam lagi.
__ADS_1
Subuh tiba ...
Adzan Subuh berkumandang, semua santri dan orang yang ada di pondok pesantren itu bangun dan melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Sedangkan, pada wanita shalat di kamar masing-masing.
Juminten tidak tidur dari semalam, karena dia terus memikirkan perasaan Cahaya dan seperti apa kedepannya. Sebab, sang anak akan di madu.
'Ya Allah, semoga Cahaya bisa menerimanya,' doa Juminten dalam hatinya.
Wanita paru baya itu berjalan menuju kamar sang anak, karena ia ingin bersiap-siap menyambut orang tua Jinan.
Saat dia masuk, terlihat kosong tidak ada siapapun dan kamar itu sudah rapi. Juminten berpikir kalau Cahaya sudah bangun.
"Aku lihat di dapur saja, mungkin dia sedang membuat sarapan," gumam Juminten sambil terus berjalan.
Sesampainya di dapur, dia juga tidak melihat keberadaan Cahaya, membuatnya panik dan langsung berlari menuju luar. Menunggu kepulangan sang suami.
"Ya Allah, di mana Cahaya? Apa dia pergi ke pasar?" tanya Juminten dengan cemas.
Karena sang anak tidak pernah pergi tanpa meminta izin darinya selama ini. Namun, kali ini ke mana perginya Cahaya?
Juminten menuggu kepulangan sang suami, dengan sangat cemas sambil mondar-mandir. Tak berselang lama akhirnya Anto pulang.
"Assalamualaikum," ucap Ando dengan lembut.
"Waalaikumsalam." Juminten mencium tangan sang suami dengan lembut.
Karena dia melihat Juminten sangat cemas, tidak seperti biasanya, dan wanita paru baya itu menceritakan semua yang terjadi.
"Astaghfirullah! Ke mana dia pergi?!" tanya Anto dengan cemas.
Sebab, sang anak tidak pernah pergi ke manapun tanpa berpamitan pada siapapun di rumah.
"Coba kita tanya pada semua orang, dan kita cari di sekitar pondok. Mungkin Cahaya masih di sini," ucap Juminten.
Anto menyetujui ucap Juminten, dan mereka berpencar mencari kebenaran Cahaya, dan bertanya pada semua orang apakah ada yang melihat Cahaya?
Juminten lelah, karena semua orang yang ada di rumah tidak tahu di mana Cahaya. Sehingga ia masuk lagi ke dalam kamar sang anak, dan melihat lemari yang sudah kosong.
"Astaghfirullah! Cahaya pergi ke mana?!" tanya Juminten dengan cemas.
Mentari dan Fatimah masuk ke dalam kamar, dan menghampiri wanita paru baya itu.
"Ada apa, Ummi?" tanya mereka berdua dengan cemas.
Juminten menceritakan semua pada kedua gadis itu, sehingga mereka langsung bergegas pergi. Mencari Cahaya di sekitaran pondok.
__ADS_1
Abidzar baru ke luar dari Madjid, dan melihat semua orang tengah memanggil-manggil Cahaya, membuatnya cemas.
"Ada apa?" tanya Abidzar.
Santri itu pun menceritakan semua pada Abidzar, membuat pria itu cemas dan langsung mencari keberadaan sang istri.
Semua orang sudah mencari di setiap sudut pondok, dan tidak menemukan Cahaya begitu juga dengan Abidzar.
"Ke mana, Cahaya?" tanya Juminten cemas.
Abidzar menghampiri Juminten, dan wanita itu menghempaskan tangan sang menantu karena hendak memegang nya.
"Ini semua karena kamu, Cahaya pergi!" seru Juminten.
Abidzar menangis, karena dia juga merasa bersalah akan kepergian Cahaya dari pondok. Sehingga, pria itu berlari ke luar pondok mencari kebenaran sang istri.
Jinan yang melihat hal itu terkejut, karena dia sudah bersiap-siap akan menikah dengan Abidzar. Namun, pria itu malah pergi mencari Cahaya.
"Bagaimana ini?" tanya Jinan.
Semua orang yang ada di sana langsung menoleh, dan baru ingat kalau Jinan dan Abidzar akan menikah.
"Maafkan Nak, kita tunggu Abidzar kembali dulu. Lagi pula orang tua kamu belum datang," ucap Anto dengan lirih.
Karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan sang anak, yang tengah mengandung dan entah ke mana perginya.
"Baiklah Paman, saya menunggu Abidzar kembali," jawab Jinan.
Juminten sangat kecewa pada Jinan, karena dia sudah menganggap gadis itu sebagai anaknya sendiri. Namun, tega menyakiti hati Cahaya.
Wanita paru baya itu pun bergegas pergi, karena dia tidak ingin melihat Jinan lagi, dan Mentari mengikuti langkahnya begitu juga dengan Fatimah.
Jinan masa bodoh dengan apa yang di lihatnya, karena yang terpenting adalah Abidzar akan menjadi suaminya.
. . .
"Cahaya!" teriak Abidzar sambil terus berjalan.
Pria itu berlari dengan masih mengunakan sarung, karena dia tidak sempat berganti baju.
"Cahaya! Di mana kamu, sayang!" jerit Abidzar.
Pria itu menangis sambil terus berjalan di jalan raya, yang banyak kendaraan berlalu lalang di sana. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.
"Cahaya!" jerit Abidzar lagi.
__ADS_1
Namun, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Cahaya, karena gadis itu tidak ada di sana.
BERSAMBUNG.