
Mentari diam dan tidak menjawab ucapan Abidzar. Sebab, ia takut akan ada salah paham, karena Putra hanya mengantar kue tadi.
"Mas, sepertinya enak," ucap Cahaya sambil melirik ke arah kue yang ada di tangan Abidzar.
Abidzar langsung memotong kue dari Putra, sedangkan Mentari kabur sebelum mereka bertanya tentang Putra lagi.
'Alhamdulillah bisa kabur,' batin Mentari.
Abidzar dan Cahaya memakan kue dari Putra, sampai lupa kalau Mentari belum makan kue tersebut.
"Dasar Putra, katanya saja! Dia mau membelikan kita kue. Tapi, selalu lupa," ucap Abidzar dengan pelan.
Cahaya tersenyum, karena mereka sedang memakan kue dari Putra, dan sang suami mengatakan sang sahabat tidak membelikan mereka.
"Lalu, yang kita makan ini apa?" tanya Cahaya dengan lembut.
Abidzar diam sambil terus menyantap kue dari Putra, dan ia tersenyum. Sebab, pria itu sudah salah bicara tadi.
"Maaf, mas lupa sama kue yang kita makan kita," ucap Abidzar dengan senyuman manisnya.
Pria itu melanjutkan kembali memakan kue itu sampai habis tanpa menyisakan, Mentari sedikitpun.
"Alhamdulillah, kita kenyang," ucap Abidzar.
Pria itu langsung membuka mulut lebar-lebar, karena baru mengingat kalau Mentari belum ada merasakan kue dari Putra.
"Astaghfirullah!" pekik Abidzar dan Cahaya bersamaan.
Mereka berdua saling pandang, kemudian berpikir kalau besok akan mengganti kue tersebut besok.
"Sudahlah, Mentari tidak akan marah pada kita," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan menganggukkan kepala. Sebab, ia tahu sang adik tidak akan marah karena mereka tidak menyisakan kue dari Putra.
"Mas, lebih baik saya beritahu Mentari saja! Takut, dia bertanya-tanya kue itu," ucap Cahaya dan Abidzar menganggukkan kepala.
Cahaya berjalan dengan perlahan menuju kamar sang adik, kemudian masuk ke dalam melihat Mentari duduk di sofa.
"Mentari," panggil Cahaya dengan lembut.
"Iya," jawab Mentari sambil menoleh.
Cahaya berjalan mendekati sang adik, kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi. Membuat gadis itu langsung tertawa.
"Mbak, kenapa harus minta maaf? Itu, juga untuk kalian. Biarkan saja Putra pasti akan membeli lagi," ucap Mentari dengan lembut.
Cahaya tersenyum, dan memeluk sang adik. Sebab, gadis itu sangat baik dan perhatian padanya yang tengah mengandung.
__ADS_1
"Tapi, kasihan dia selalu mengantarkan kue itu dan kamu tidak ada makan sedikitpun," jawab Cahaya.
Mentari tersenyum, dan terkekeh karena melihat Cahaya sangat tidak enak padanya. Padahal, hanya karena kue.
"Sudahlah Mbak, karena aku sudah sering bilang tidak usah membeli kue. Tapi, dia tetap membelinya tanpa memberitahu aku dulu," ucap Mentari.
Cahaya tersenyum, karena dia senang Putra adalah pria baik yang mau membahagiakan Mentari dari hal yang sederhana.
'Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk Mentari,' batin Cahaya.
Mereka kembali melanjutkan cerita sampai malam tiba, dan melaksanakan shalat masing-masing di dalam kamar.
. . .
Putra tersenyum sambil mengingat kembali wajah Mentari, karena dia senang bisa melihat senyuman gadis itu.
'Masya Allah, aku sangat senang bisa melihatnya tersenyum karena hal kecil yang aku buat,' batin Putra.
Pria itu sangat bahagia karena bisa dekat dengan Mentari, dan ia juga tidak akan terlalu dekat pada sang pujaan hati. Sebab, mereka sudah berjanji akan menjaga jarak pada sang Abi.
"Semoga kami bisa menjalankan semua, selama dua tahun lagi," ucap Putra dengan sangat berharap.
Putra ingin sekali menikah dengan Mentari secepatnya. Namun, umurnya yang belum mencukupi, ia harus menunggu waktu dua tahun lagi.
. . . .
Kehamilan Cahaya sudah semakin membesar, karena kini kandungannya sudah enam bulan. Hanya tinggal tiga bulan lagi sang anak akan bersamanya.
Semakin hari, Abidzar semakin bahagia karena sang anak sudah menendangnya. Bahkan, Cahaya sudah susah tidur karena gerakan sang anak.
"Anak Abi, sudah minum susu belum?" tanya Abidzar dengan lembut.
Sambil mengelus-elus sang anak dari perut Cahaya, membuat gadis itu tersenyum bahagia. Sebab, suaminya sangat menyayangi anak mereka yang belum terlahir.
"Mas, anak kita belum pandai menjawab," ucap Cahaya dengan lembut.
Abidzar sudah tahu. Namun, dia tidak memperdulikan hal itu dan masih mengajak anaknya berbicara.
"Kalau anak Abi sudah lahir, Abi berjanji akan selalu menjaga kamu," ucap Abidzar lagi.
Sebab, dia tidak akan percaya kalau akan segera memiliki momongan. Apa lagi di umur yang terbilang muda.
'Terimakasih banyak ya Allah, hamba sangat bersyukur memiliki Cahaya dan anak kami,' batin Abidzar dengan sangat bergembira.
Pria itu mencium sang anak lewat perut istrinya, dan mereka saling menatap satu sama lainnya.
"Sudahlah Mas, sama kamu pergi ke kantin nanti bisa telat ke kantor," ucap Cahaya dengan lembut.
__ADS_1
Sebab, dia menahan sang suami terlalu lama bersamanya dan pekerjaan pria itu menumpuk.
"Baiklah, mas pergi dulu," ucap Abidzar dengan lembut sambil mencium kening Cahaya.
Pria itu bergegas pergi dari rumah menuju kantor dan mengerjakan tugasnya, bersama karyawan yang lain.
. . . .
Kini usia kehamilan Jinan sudah memasuki sembilan bulan, dan tinggal menghitung hari saja dia akan melahirkan. Gadis itu bahagia karena sebentar lagi akan memiliki anak.
Begitu juga dengan Eza, pria itu sangat tidak sabar akan kehadiran sang anak di hubungan rumah tangga yang sudah membaik.
"Sayang, sudah minum susu?" tanya Eza dengan lembut.
Jinan tersenyum dan menghampiri sang suami, walaupun dia susah berjalan. Tetap, dia menghampiri Eza.
"Mas, tidak usah minum susu lagi. Sebab, tubuhku dan anak kita sudah besar, lihatlah," ucap Jinan dengan lembut.
Gadis itu terlihat sangat besar, karena kehamilan dan tubuhnya naik sehingga dia terlihat lebih gemuk.
"Bagus kalau begitu, karena kamu harus gemuk," jawab Eza.
Pria itu mencium sang istri dengan lembut, kemudian mengelus-elus perut Jinan, dan anaknya langsung menendang.
"Wah, anak papa sudah bangun," ucap Eza dengan sangat bergembira.
Jinan hanya tersenyum melihat kebahagiaan sang suami, dan mereka berpelukan agar sang anak dapat merasakan hangat dari mereka.
"Sayang, papa mau kuliah dulu ya?" ucap Eza dengan lembut.
Jinan bersedih sang suami akan kuliah, karena ia ingin selalu ada di samping pria itu. Entah mengapa dia juga tidak tahu.
Namun, Eza harus kuliah demi masa depan mereka nantinya.
"Hati-hati, kalau pulang jangan lupa! Seperti biasa," ucap Jinan.
Eza tersenyum dan mengangguk kepalanya, karena dia mengerti apa yang di pesan sang istri kalau ia pulang kuliah.
"Aku pergi," ucap Eza dengan lembut.
Jinan menganggukkan kepala dan Eza langsung bergegas pergi dari sana, karena dia takut akan terlambat kalau terlalu lama pergi.
"Semoga mas Eza ingat kalau aku pesan es krim," ucap Jinan sambil menatap kepergian sang suami.
Ya, Jinan selalu menitip es krim kalau sang suami pulang kuliah. Sebab, itu adalah keinginan barunya yang harus di turuti.
BERSAMBUNG.
__ADS_1