Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Menjelaskan


__ADS_3

Abidzar dan Mentari sudah sampai di kota, dan mereka memutuskan untuk berkunjung terlebih dahulu ke rumah orang Abidzar. Sebab, pria itu ingin menceritakan apa saja yang sudah terjadi.


Setelah sampai di rumah, mata Abidzar melirik ke arah sandal wanita yang sangat familiar sekali di matanya. Sebab, dia yang membelikan itu untuk Cahaya beberapa bulan lalu. Saat mereka berbulan madu di sini.


"Tari, coba lihat sandal itu. Apakah benar itu milik Cahaya?" tanya Abidzar.


"Mana?" Mentari melihat sandal itu.


Kemudian dia mengambil dan melihat ada nama Cahaya di sebalik sandal tersebut, membuatnya sangat girang.


"Ini benar-benar milik mbak Cahaya," ucap Mentari.


Abidzar langsung masuk ke dalam, karena dia tidak sabar ingin bertemu dengan Cahaya dan calon anak mereka yang masih ada di dalam kandungan.


"Assalamualaikum!" teriak Abidzar.


Inem tengah menyusun makanan, karena dia baru selesai shalat dan berniat akan makan bersama sang menantu. Namun, ia mendengar teriakan-teriakan dari luar.


"Siapa, ya?" Inem berjalan menuju luar dan melihat adanya Abidzar.


Abidzar hendak mencium tangan sang ummi. Namun, malah mendapatkan tamparan keras dari wanita paru baya itu.


Plak!


Abidzar memegang wajahnya dan menatap wajah sang ummi, kemudian menitihkan air mata. Sebab, dari kecil Inem tidak pernah memukulnya walaupun pelan.


Kali ini, wanita itu menamparnya dengan keras di hadapan adik iparnya. Ya, sejak tadi Mentari ada di sana dan melihat apa yang terjadi.


"Siapa wanita yang kamu hamili?!" tanya Inem dengan emosi.


Karena dia mengingat kembali wajah Cahaya saat menceritakan sang suami akan menikah lain.


"Ummi, semuanya salah. Abidzar di fitnah," ucap Abidzar.


Namun, sang ummi sama sekali tidak percaya sampai Mentari yang menceritakan semua. Barulah wanita paruh baya itu mempercayai Abidzar.


"Sekarang, temui istrimu. Dia ada di dalam, sedang bersedih karena suaminya menikah lagi," ucap Inem.


Abidzar menganggukkan kepala dan bergegas pergi dari sana menuju kamar, menemui Cahaya.


Sedangkan Mentari, di ajak Inem makan siang bersama karena dia tahu adik sang menantu pasti lapar.


"Terimakasih Ummi, Anda sangat baik," ucap Mentari dengan lembut.


Inem tersenyum, karena dia menginginkan anak perempuan seperti Mentari. Namun, ia cuma memiliki satu anak laki-laki.

__ADS_1


"Sama-sama, kamu juga baik sama ummi, sewaktu ummi di pondok. Oh ya, apakah orang tua mu baik?" tanya Inem.


"Baik Ummi," jawab Mentari.


"Alhamdulillah," ucap Inem.


Mentari kembali menyantap makan siang yang sangat menggugah selera, bersama dengan mertua sang kakak.


. . .


Abidzar masuk ke dalam dan melihat sang istri tengah tertidur pulas, dan dia langsung menghampirinya.


"Sayang," ucap Abidzar lembut sambil mengecup puncak kepala sang istri.


Cahaya tersadar dan bangun, kemudian dia diam karena melihat sang suami ada di hadapannya saat ini.


'Seharusnya mas Abidzar bersama Jinan, menghabiskan bulan madu mereka berdua,' batin Cahaya lirih.


Abidzar memeluk sang istri dengan lembut dan tangisannya, karena ia sangat mencemaskan keadaan Cahaya.


"Mas sangat khawatir pada kesadaan kalian. Kenapa pergi dari rumah?" tanya Abidzar sambil melepaskan pelukannya.


Cahaya diam sambil meneteskan air mata, karena dia tidak bisa menjawab jujur. Kalau sejujurnya ia tidak sanggup melihat pernikahan itu dan memilih kabur.


"Hei, katakan saja! Kenapa, harus menangis?" tanya Abidzar yang juga ikut menangis.


"Jadi, Mas tidak tidur dengan Jinan?" tanya Cahaya dengan sangat tidak percaya.


Abidzar menganggukkan kepala, dan Cahaya langsung masuk ke dalam pelukan pria itu. Sejujurnya dia senang mendengar kabar gembira itu.


'Terimakasih ya Allah, karena mas Abidzar tidak berbuat dosa,' batin Cahaya.


Gadis itu benar-benar sangat bahagia, sampai dia memeluk Abidzar dengan erat sehingga sang suami tercekik.


"Mbak, saya ... tercekik," ucap Abidzar dengan sangat sulit.


Cahaya langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia, karena badai dalam rumah tangganya sudah berlalu.


"Alhamdulillah Mas, karena sekarang kita lega masalah ini sudah selesai. Tapi, siapa yang menghamili Jinan?" tanya Cahaya.


Abidzar menceritakan semua tentang perselingkuhan Jinan dan Eza, karena keduanya melakukan itu dengan sengaja.


"Astaghfirullah, kenapa mereka tega ya?" ucap Cahaya dengan sangat tidak percaya.


Kalau sahabat dan pacar suaminya, tega mengkhianati sang suami. Bahkan, hampir membuat rumah tangga mereka hancur.

__ADS_1


"Sudahlah, lupakan saja! Sekarang kamu tahu, 'kan Neng, kalau suamimu ini setia dan jujur," ucap Abidzar dengan berbangga diri.


Cahaya tersipu malu, karena melihat Abidzar mengedipkan sebelah mata dan ia langsung masuk ke dalam selimut.


"Wah, sepertinya ada mangsa!" Abidzar masuk juga ke dalam selimut.


Kemudian membuat sang istri berteriak, karena di gelitiki olehnya.


. . .


Jinan sangat kesal, karena dia menikah dengan Eza bukan Abidzar, pria idamannya. Bahkan, ia harus pulang karena di ke luarkan oleh Anto.


Karena sudah memfitnah menantunya, dan membuat sang anak pergi karena salah paham pada Abidzar.


"Seharusnya kau tidak datang!" seru Jinan.


Eza hanya diam sambil terus mengemudikan mobil menuju kota, bersama kedua orang tua Jinan.


"Seharusnya aku menikah dengan Abidzar, bukannya kau!" teriak Jinan.


Gadis itu sangat kesal, karena penantiannya selama berbulan-bulan hancur berantakan hanya karena Eza.


"Nak, jaga bicaramu pada Eza. Karena, sekarang dia adalah suamimu," ucap ayah Jinan.


Jinan sama sekali tidak memperdulikan ucapan sang ayah, dan dia menyusun rencana agar bisa memiliki Abidzar apapun caranya.


Bahkan, dia tidak segan-segan melenyapkan seseorang demi bersama Abidzar dan hidup bahagia selamanya.


'Aku sangat yakin, kalau dia masih memiliki rencana jahat. Sebab, pikiran dia bisa terbaca dari wajahnya,' batin Eza.


Pria itu sengaja menikahi Jinan, karena gadis itu akan menghancurkan hubungan Abidzar dan Cahaya, dan juga karena anak yang di kandung Jinan adalah anaknya.


"Eza, maafkan Jinan mungkin dia masih belum bisa menerima kalau Abidzar sudah menikah," ucap ayah Jinan.


Eza menganggukkan kepala, karena dia tahu hal itu yang akan terjadi saya ia mengambil keputusan tadi.


'Sampai kapanpun, aku tidak akan mau memaafkan kalian yang sudah membuatku depresi!' geram Jinan dalam hatinya.


Hati wanita mana yang tidak sakit melihat sang pacar menikahi wanita lain. Padahal, sudah berjanji akan menikahinya setelah lulus sekolah.


Namun, semua itu tidak terjadi. Hanya sakit yang masih tersiksa untungnya.


Orang tua Jinan malu, karena sikap sang anak yang sudah memfitnah orang hanya karena jatuh cinta.


"Ayah tidak ingin sampai kamu berbuat hal seperti itu lagi. Membuat malu saja!" geram ayah Jinan.

__ADS_1


Jinan semakin kesal, karena semua orang selalu menyalahkan atas apa yang dibuat. Padahal, semua terjadi karena Cahaya, kalau saja gadis itu tidak merebut Abidzar darinya. Semua akan baik-baik.


Bersambung.


__ADS_2