
Semua orang yang mendengar tangisan bayi, sangat bergembira dan saling berpelukan. Hati Toyib dan Anto sangat terharu. Sebab, anak pertama mereka baru memiliki anak.
"Mas, Alhamdulillah anak kita sudah memiliki anak," ucap Toyib dengan sangat bergembira.
"Alhamdulillah Toyib," sahut Anto yang tak kalah senangnya dari sang besan.
Juminten dan Inem saling berpelukan, mereka bahagia bisa menggendong cucu pertama mereka.
"Alhamdulillah, kita sudah menjadi cucu," ucap Inem dengan sangat bahagia.
"Iya Nem, kita sudah menjadi nenek," sahut Juminten dengan lembut.
Mentari juga sangat bahagia, karena sekarang dia sudah menjadi seorang Tante, dan ia langsung berjalan menuju ruang operasi, agar bisa melihat anak Cahaya bila sudah ke luar nanti.
'Alhamdulillah mbak Cahaya sudah menjadi seorang ibu sekarang,' batin Mentari dengan sangat bersyukur.
Tak berselang lama, akhirnya perawat ke luar sambil mendorong box bayi bersama dengan Abidzar yang terlihat sangat bahagia.
"Abidzar," ucap Inem dengan nada bergetar.
Inem menghampiri sang anak dan mereka semua bergegas pergi, menuju ruang inap Cahaya. Sebab, bayi itu akan di letakan di sana.
"Ibu, Bapak, sebentar lagi Cahaya akan dipindahkan ke sini, di jaga bayinya ya," ucap perawat tersebut.
"Terimakasih Suster," ucap Inem dengan lembut.
Setelah perawat itu pergi, semua keluarga langsung menghampiri bayi kecil yang berwajah mirip sekali dengan Cahaya.
"Masya Allah, ini sama seperti Cahaya masih bayi dulu," ucap Juminten dengan lembut.
Wanita paruh baya itu, tidak menyangka sang cucu akan sangat mirip dengan anaknya. Sedangkan keluarga Toyib, juga senang karena cucu mereka sangat tampan.
"Masya Allah, anak Cahaya dan Abidzar sangat tampan," ucap Toyib dengan lembut.
"Benar sekali Paman," sahut Mentari.
Semua orang hanya memandang bayi yang masih tertidur pulas itu, karena tidak tega. Sebab, belum meminum susu, bila bayi itu terbangun, maka mereka semua akan bingung. Jadi, mereka mengambil cara yang aman saja.
"Semuanya, Abidzar pergi dulu ya, mau melihat keadaan Cahaya, tolong jaga Cahazar," ucap Abidzar dengan lembut.
"Pergilah Nak," jawab Toyib dengan lembut.
Abidzar bergegas pergi dari sana, karena saat ini Cahaya sangat membutuhkannya sebagai seorang suami.
Kebahagiaan Anto tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, karena dia senang bisa memiliki cucu dan diberikan umur panjang sampai saat ini.
__ADS_1
'Terimakasih ya Allah, sudah memberikan hamba umur panjang dan bisa melihat cucu hamba sekarang,' batin Anto dengan sangat bersyukur.
. . .
Cahaya sudah pulih, dan dia sudah dibawa oleh para perawat ke ruang inapnya bersama sang suami. Setelah sampai, ia sangat bahagia melihat sang anak ada di sampingnya.
'Alhamdulillah, aku bisa melahirkan putra pertama ku dengan sehat dan selamat,' batin Cahaya dengan sangat bergembira.
Anto dan Toyib bergegas pergi dari dalam, karena Cahaya akan menyusui bayinya. Sedangkan Abidzar masih di sana membantu sang istri.
"Sayang, tahan sedikit ya, karena rasanya akan sedikit sakit," ucap Juminten dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dan Juminten memberikan bayi kecil itu pada anaknya.
Cahaya merasakan sakit yang luar biasa, dan dia menahan rasa itu. Sebab, sudah kodrat wanita menyusui bayi yang dilahirkannya.
"Sakit, ya Ummi?" tanya Abidzar dengan lembut.
"Tidak," jawab Abidzar dengan lembut.
Padahal, dia merasa sangat sakit dan menutupi rasa sakit itu dengan senyumannya.
"Tidak mungkin, karena kami sudah melahirkan duluan daripada kamu," ucap Inem dengan lembut.
"Benar itu," tambah Juminten dengan lembut.
"Sayang, ummi mau panggil abi dulu karena dari kemarin dia belum makan," ucap Juminten dengan lembut.
"Iya Ummi," jawab Cahaya dengan lembut.
Juminten dan Inem bergegas pergi dari sana, karena mereka merasa sangat lapar. Sebab, belum makan sejak kemarin.
Setelah kepergian Juminten dan Inem, Mentari mendekati sang kakak. Kemudian, dia mencium keponakannya yang masih ada di dalam gendongan Cahaya.
"Nama anak mbak sangat unik dan cantik," ucap Mentari dengan lembut.
"Benar, nama itu kakak yang membuatnya," sahut Abidzar.
Cahaya tersenyum, karena nama sang buah hati adalah nama mereka berdua yang disatukan.
"Cahazar Muzzammil," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari tersenyum, karena nama sang keponakan sangat indah. Gadis itu tak henti mencium bayi kecil itu, dan menggendongnya dengan lembut.
"Sudah cocok kamu," ucap Abidzar dengan lembut sambil memberikan makan sang istri.
__ADS_1
Mentari hanya diam, karena dia belum sipa menikah dengan Putra, walaupun umur mereka hanya berbeda sedikit. Tetap, pria itu masih di bawah umur.
"Sudahlah, bila masanya tiba. Maka kami akan menikah juga," jawab Mentari dengan lembut.
Cahaya tersenyum, karena sang adik dewasa dan juga mendapatkan restu dari Abi mereka, menunda pernikahan sampai Putra cukup umur.
"Tapi, kalian berdua saling mencintai bukan?" tanya Cahaya dengan lembut sambil menatap sang adik.
Mentari diam, karena dia malu bila berkata jujur sudah mencintai Putra. Sebab, rasa cinta itu manusiawi.
"Cinta itu manusiawi kok," ucap Abidzar dengan lembut.
"Benar, hanya saja banyak yang salah dalam percintaan," sahut Cahaya dengan lembut.
Mentari diam dan menganggukkan kepala, karena dia benar-benar malu saat ini sudah ketahuan mencintai seorang pria untuk yang pertama kalinya.
Padahal, dia belum menikah. Sebab, setahunya wanita hanya boleh mencintai suaminya.
. . .
Putra tengah membungkus kado untuk anak Abidzar, karena sekarang dia sudah menjadi paman untuk bayi kecil itu.
Putra membeli perlengkapan bayi, sama seperti waktu dia memberikan kado untuk anak Eza. Sebab, ia akan adil pada kedua keponakanya.
"Bagaimana ya, aku gugup akan bertemu calon mertuaku," ucap Putra dengan pelan.
Entah mengapa, dia gugup akan bertemu kedua orang tua Mentari. Sebab, pria itu belum ada bertemu Juminten dan Anto, selama dua Minggu mereka ada di apartemen Abidzar.
"Ya Allah, semoga aku bisa tenang dan sopan saat bertemu pak Anton dan bu Juminten," ucap Putra dengan pelan.
Tidak pernah terbayang olehnya, akan menjadi menantu gurunya selama di pondok pesantren.
. . .
Jinan tengah membungkus kado untuk anak Cahaya, karena dia juga senang gadis itu sudah melahirkan.
Walaupun dia sangat repot mengurus sang anak, ia tetap menyempatkan diri untuk membungkus hadiah yang sudah disiapkan beberapa hari lalu.
Hanya saja, baru ini dia bisa membungkus karena sang anak bersama ayahnya dan ibunya.
"Aku senang, karena Abidzar sudah menjadi ayah. Jujur, aku sangat menyesali perbuatan ku yang hampir membuat rumah tangga mereka hancur," ucap Jinan dengan lirih.
Gadis itu bersyukur karena dia tidak jadi menghancurkan rumah tangga Abidzar dan Cahaya. Namun, ia juga masih sedih dan malu, bila bertemu dengan keluarga Cahaya.
"Semoga mereka bisa memaafkan aku," ucap Jinan penuh harapan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.