Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bab 46


__ADS_3

Pada malam hari, Putra mengirimkan pesan pada Abidzar karena dia ingin meminta nomor ponsel Mentari. Sebab, ada hal yang ingin dibicarakan pada sang pujaan hatinya.


Putra: Lek, kirim nomor ponsel Mentari!


Abidzar: Oke!


Putra langsung menyimpan nomor ponsel Mentari dan hanya menjadi pajangan, karena dia tidak memiliki keberanian untuk menelpon atau mengirim pesan pada Mentari.


"Gue ini cowok atau cewek, masa ngirim pesan aja gak berani?" tanya Putra pada diri sendiri.


Pria itu memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pada Mentari lewat WhatsApp.


Putra: Assalamualaikum, ini saya Putra Neng.


Putra melihat ponselnya dan tidak ada tanda-tanda kalua Mentari akan membalas pesannya, sehingga dia terus-menerus menunggu sampai dia lelah dan tertidur.


. . .


Mentari tahu kalau Putra mengirimkan pesan padanya. Namun, dia tidak berani membalas karena dia takut.


"Sebaiknya kalau aku bertemu dengannya, aku katakan saja! Jangan selalu berkomunikasi, agar kami menjaga jarak," ucap Mentari.


Gadis itu mematikan ponsel, karena besok dia harus kembali ke kota dan mulai bekerja kembali seperti biasanya. Sebab, masa cutinya sudah habis di pergunakan olehnya.


'Aku masih penasaran, pada pria yang namanya sama dengan bos. Sebab, wajah mereka juga sama, hanya agama mereka yang berbeda,' batin Mentari.


Gadis itu akan mencari tahu kebenaran, karena dia akan memberikan Poto pria kemarin pada Exel. Ya, Mentari kemarin memoto pria itu karena dia benar-benar penasaran.


Setelah Mentari tidur, Juminten masuk ke dalam kamar dan mengelus-elus rambut gadis itu dengan sangat lembut. Sebab, dia bersedih akan berpisah dari anaknya yang tersayang.


'Semua anakku, akan meninggalkan aku di sini. Karena, mereka akan menikah, hanya Awan yang akan bertahan di sini,' batin Juminten lirih.


Wanita paru baya itu meneteskan air mata, dia sangat sedih akan berpisah dari Mentari besok. Sejujurnya, dia tidak mengizinkan sang anak pergi. Namun, ia juga tidak bisa menghancurkan cita-cita Mentari menjadi seorang Asisten yang sekarang sudah tercapai.


"Semoga Allah, selalu melindungi kamu Nak. Dari segala bahaya yang ada di kota," ucap Juminten lirih.


Juminten mencium wajah sang anak dengan lembut, kemudian dia menyelimuti Mentari karena gadis itu tidak mengunakan selimut.

__ADS_1


"Selamat malam sayangku," ucap Juminten dengan lirih.


Juminten bergegas pergi dari sana, menuju ruang tamu dan menangis karena tidak bisa berpisah dari kedua anaknya.


"Ummi," ucap Fatimah dengan lembut.


Gadis itu langsung menghampiri sang mertua dan memeluknya dengan lembut, karena dia sudah menganggap wanita paruh baya itu sebagai ibu kandungnya sendiri.


"Ummi jangan bersih! Karena, di sini ada Fatimah yang akan menjaga Ummi dan menemani Ummi, selama mereka tidak ada," ucap Fatimah dengan lembut.


Juminten tersenyum, karena sang menantu sangat baik padanya dan dia mencium gadis itu dengan lembut.


"Terimakasih sayang, karena kamu sudah baik pada Ummi seperti sekarang, ummi sangat menyayangi kamu," ucap Juminten dengan lembut.


Fatimah melepaskan pelukannya, dan bergegas pergi dari sana karena dia ingin mengamankan air untuk sang suami, dan malah bercerita dengan Umminya.


"Masya Allah, aku sangat senang bisa melihat Fatimah menjadi istri yang baik untuk Awan, apa lagi dia sangat sayang padaku. Jarang menantu yang sayang pada mertuanya," ucap Juminten.


Wanita paru baya itu bergegas masuk ke dalam kamar dan tidur, karena besok dia akan memeluk Mentari sebelum gadis itu pergi dengan puas.


. . .


Exel tersenyum saat melihat ruang kerja Mentari, karena dia sudah rindu pada gadis itu. Walaupun dia tahu Mentari sudah bertunangan dengan pria lain.


"Mencintai itu tidak salah, dan rasa ini hanya aku pendam sendiri. Juga tidak ada yang tahu tentang perasaanku," ucap Exel dengan lirih.


Pria itu meletakan berkas yang harus di tanda tangani oleh Mentari di meja, dan sudah banyak sekali berkas yang harus di kerjakan oleh gadis itu.


Setelah itu, dia langsung bergegas pergi dari sana karena ingin bertemu dengan Abidzar yang baru masuk kerja juga.


Namun, saat ia ada di depan ruangan Mentari, matanya membulat sempurna melihat pria yang berwajah buruk mirip dengannya.


"Astaga!" pekik Exel.


"Hei, ternyata kau mirip sekali denganku," ucap Exel.


Exel sangat terkejut melihat pria yang mirip sekali dengannya berwajah buruk itu, dah ia langsung membawanya ke ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa kamu, dan kenapa wajah kita mirip?" tanya Exel pada pria berwajah buruk itu.


Exel menceritakan semua, kalau namanya adalah Exelak dan dia kecelakaan beberapa bulan lalu bersama sang istri. Di desa tempat tinggalnya dan dia mengalami kerusakan wajah.


"Aku memanggil mu Lak saja! Karena, nama kita hampir sama. Tapi, kenapa wajah kita mirip?" tanya Exel dengan bingung.


Exelak menceritakan semua tentang kehidupannya, dan mereka tidak memiliki hubungan apapun. Lalu? kenapa wajah mereka mirip?


Bahkan, wajah saja mirip sekali kalua wajah Exelak tidak rusak maka mereka akan sulit dibedakan.


"Apakah, kau adalah saudara kembarku? Tapi, kita berbeda agama," ucap Exel.


Exelak tersenyum dan menceritakan mereka mungkin hanya kebetulan mirip, dan dia pamit unsur diri, karena sudah mendapatkan jawaban dari orangnya langsung yang mirip dengannya.


. . .


Abidzar mengerjakan tugas yang terdunda selama beberapa hari. Sebab, dia ke kampung menghadiri acara pertunangan Mentari dan Putra.


"Ya Allah, semoga besok sudah selesai. Sebab, komik baru ini akan segera terbit, dan yang memesan sudah sangat ramai," ucap Abidzar sambil berdoa.


Agar dia bisa diberikan kemudahan, untuk menjalankan tugas sebagai penulis buku dan komik. Sebab, banyak orang yang minat pada buku-bukunya.


"Alhamdulillah ya Allah, karena semua atas izinmu aku bisa menjadi penulis yang di kagumi banyak orang," ucap Abidzar dengan sangat bersyukur.


Pria itu terus mengerjakan tugas, karena dia ingin memberikan yang terbaik pada semua penggemarnya yang ingin membaca buku-bukunya.


. . .


Exelak bergegas pergi dari kota, karena dia ingin kembali mengerjakan tugas di kampung. Padahal, semua perusahaannya ada di kota, dia menetap di kampung karena kuburan sang istri ada di sana.


Sebab itu, dia tidak pergi dari kampung. Bahkan, tidak pernah pergi lama-lama dan kembali lagi ke kampung.


"Aku tidak mengerti apakah dia adikku. Tapi, kenapa kami berbeda keyakinan?" tanya Exelak dengan bingung.


Sebab, dia memang memiliki adik yang di bawa oleh sang ibu dan dia bersama ayahnya. Dari dulu sampai sekarang, dia tidak tahu di mana keberadaan adik dan ibunya.


"Dunia ini kejam, karena semua tidak tahu apa yang aku alami sejak kecil sampai sekarang. Selalu di tinggalkan oleh wanita tersayang ku," ucap Exelak dengan lirih.

__ADS_1


Pria itu kembali fokus pada jalanan, karena dia berharap sang istri masih hidup, dan jasad yang sudah di makamkan bukan istrinya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2