Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bab 67


__ADS_3

Keesokan paginya . . .


Setelah semua orang selesai shalat Subuh, mereka beramai-ramai datang ke rumah Anto, karena akan mengadakan ijab kabul pagi ini juga. Walaupun jam 10.00 WIB, baru di mulai. Namun, semua tamu undangan datang untuk memberikan doa.


Putra sudah bersiap, sambil terus menghafalkan ijab kabul yang akan diucapkan nanti. Sebab, dia tidak mau salah sedikitpun.


'Ya Allah, semoga hamba bisa,' batin Putra sambil berdoa.


Pria itu melihat keluarganya yang mulai ramai berdatangan, dari kota dan juga ada beberapa teman-temannya.


"Ya ampun, pasti sangat ramai nanti saat aku ijab kabul, dan saat ini aku merasa sudah gugup," ucap Putra dengan lirih.


Pria itu masuk ke dalam kamar dan duduk di sana, sambil terus menenangkan hatinya agar tetap tenang sampai ijab kabul nanti.


. . .


Mentari sudah rapi, dengan pakaian pengantin dan berbalut cadar, karena akan ada banyak tamu undangan yang datang hari ini. Jadi, ia harus menutup auratnya dengan baik.


"Cantik sekali anak ummi ini," ucap Juminten dengan lembut.


Cahaya dan yang lain tersenyum, kemudian mereka memberikan hadiah masing-masing pada gadis itu.


"Terimakasih semuanya, sudah memberikan Mentari hadiah ini. Mungkin, setelah menikah Tari akan ikut Putra ke kota," ucap Mentari dengan lirih.


Juminten langsung diam, karena kedua anaknya akan pergi meninggalkannya di sini, walaupun masih ada Fatimah, ia tetap bersedih.


"Mbak, jangan bersedih, karena anak-anak akan selalu ada di sini bila Mbak rindu," ucap Inem dengan lembut.


Juminten hanya bisa tersenyum, karena dia sangat bersedih Mentari akan jauh darinya, juga Cahaya.


"Mari kita ke depan, sambut para besan kita," ucap Inem dengan lembut.


Juminten dan Inem bergegas pergi dari sana, karena mereka ingin menyambut para tamu dari keluarga Putra.


Cahaya dan Fatimah masih di dalam kamar, karena mereka akan menunggu sampai ijab Kabul selesai, barulah ke luar bersama.


"Mbak, Tari gugup," ucap Mentari dengan sengat gugup.


Cahaya tersenyum dan mendekati Mentari, kemudian memegang tangan gadis itu dengan lembut.


"Insyaallah, semuanya akan berjalan dengan lancar," ucap Cahaya dengan sangat lembut.


"Percayalah," tambah Fatimah.


Cahaya dan Fatimah memeluk Mentari, karena adik mereka akan menikah dan menjadi istri Putra.


"Terimakasih semuanya, karena kalian selalu ada untuk Mentari," ucap Mentari dengan sangat lembut.


Cahaya dan Fatimah tersenyum, karena sudah menjadi kewajiban mereka menjadi kakak yang baik untuk Mentari.

__ADS_1


. . .


Putra dan keluarga bergegas pergi menuju rumah Anto, karena sebentar lagi akan mengadakan ijab Kabul. Hati Putra sangat gugup sehingga keringat berjatuhan membasahinya.


"Put, santai aja kali," bisik Eza ditelinga pria itu.


Sebab, ia tahu kalau sang sahabat tengah gugup saat ini. Terlihat jelas dari raut wajah dan keringat yang mengalir deras.


"Apapan sih," sahut Putra.


Karena dia malu kalau ada yang mengetahui kegugupannya saat ini. Setelah sampai, mereka semua masuk ke dalam dan bersalam-salaman.


"Alhamdulillah pak penghulu sudah sampai," ucap Anto dengan sangat bergembira.


Sedangkan Putra, semakin gugup karena pak penghulu datang yang artinya dia harus menguatkan mental, agar lancar mengucapkan ijab Kabul nantinya.


"Alhamdulillah," sahut semua orang.


Beberapa orang masuk ke dalam ruang ijab kabul, dan yang sebagian tetap di luar dan menikmati jamuan dari Anto.


Putra bernafas lega, karena tidak semua orang yang melihatnya ijab kabul, dan hatinya langsung tenang.


"Bisa kita mulai?" tanya Pak penghulu tersebut.


"Bisa," jawab Putra dengan lembut.


Pak penghulu membaca doa dan menjabat tangan Putra yang sudah bergetar. Namun, pria itu tidak terlihat gugup.


"Saya Pak," jawab Putra dengan cepat.


Pak penghulu langsung mengucapkan ijab Kabul, dan Putra menjawabnya dengan santai dan benar.


"Sah?"


"Sah!" jawab semua orang yang ada di sana dengan serempak.


Putra tersenyum lebar, karena hari yang ditunggu-tunggu tiba. Lengkap sudah impiannya memiliki Mentari seutuhnya.


'Alhamdulillah ya Allah, sekarang hamba menjadi suami Mentari,' batin Putra dengan sangat gembira.


Sedangkan Mentari, merasa gugup karena dia bingung harus bersikap bagaimana pada Putra yang sekarang sudah menjadi suaminya.


'Ya Allah, sekarang hamba sudah menjadi istri Putra, bagaimana hamba harus bersikap?' batin Mentari sambil berpikir.


Cahaya dan Fatimah berpelukan, karena mereka senang bisa melihat sang adik menikah.


"Alhamdulillah, mereka menjadi suami-istri," ucap Cahaya dengan lembut.


"Alhamdulillah," jawab Fatimah yang tak kalah bahagianya dari Mentari.

__ADS_1


Mereka semua merapikan penampilan Mentari, dan membawa gadis itu ke luar untuk menyambut keluarga Putra.


Sesampainya di luar, semua orang sudah bubar hanya tinggal keluarga Putra di ruang tamu. Mentari langsung ke sana dan mencium tangan mamanya Putra.


"Cantiknya Menantu ku," ucap mamanya Putra.


Mentari hanya bisa tersenyum dari balik Cadarnya, dan mereka duduk sedangkan Mentari mendekati Putra dan mencium tangan pria itu dengan sangat malu-malu.


Sebab, mereka tidak pernah bersentuhan sebelumnya, baru kali ini mereka berjabat tangan.


"Cantiknya istriku," ucap Putra dengan pelan.


Agar tidak ada yang mendengar ucapannya, dan Mentari tersenyum bahagia karena pujian dari suaminya.


"Terimakasih," jawab Mentari dengan lembut dan Putra tersenyum.


Mentari duduk di samping Putra, dan mereka semua berpoto bersama. Keempat anak kecil juga ikut, karena mereka yang sangat senang.


"Tante, mau Poto lagi," ucap Hazar dengan lembut.


"Baiklah," jawab Mentari dengan lembut.


Gadis itu menggendong Winda, dan mereka berpose bersama. Sebab, keponakanya sangat pendek dan kecil.


"Sekarang ini adalah paman kalian," ucap Putra dengan sangat lembut.


"Paman!" teriak ketiga bocah itu.


Cahaya dan yang lain tersenyum, karena anak mereka mau dekat dengan Mentari, juga Jizan yang tidak pernah bertemu Mentari juga senang pada gadis itu.


"Para wanita, bisa memberikan anak kalian padaku," ucap Mentari dengan lembut.


Semua orang tertawa, karena memang ketiga bocah itu senang bila berdekatan dengan Mentari yang sangat dewasa dan keibuan.


'Ya Allah, aku sangat senang bisa menjadikan Mentari istriku,' batin Putra.


Semua orang langsung bergegas ke luar, karena mereka sudah lapar dan ingin segera makan yang sudah disiapkan oleh Anto di depan.


Sedangkan Putra dan Mentari, masih di ruang tamu karena mereka masih ingin berdua tanpa harus memikirkan dosa lagi.


"Assalamualaikum istriku," ucap Putra dengan sangat lembut.


"Waalaikumsalam," jawab Mentari dengan malu-malu, karena ini kali pertamanya berhadapan dengan sang suami.


Walaupun mereka sering bertemu. Tatap saja, ada rasa canggung kali ini. Sebab, sangat jauh berbeda dari yang sebelumnya.


"Kamu makan ya, biar aku ambilkan?" ucap Putra dengan sangat lembut, dan Mentari menganggukkan kepalanya.


Sebab, ia tidak mau melawan sang suami. Walaupun hanya soal makanan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2