
Adzan Maghrib berkumandang, Abidzar bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat berjamaah dengan para santri dan mertuanya.
Pria itu mengunakan baju Koko dan sarung, tak lupa dia memakai peci, dan terlihat sangat tampan dan tenang jika memandang wajahnya.
Setelah selesai Shalat, Abidzar bersama sang mertua duduk di antara semua santri pria yang sedang membaca Alquran, begitu juga dengan Abidzar, karena dia juga menjadi santri di sana.
Setelah selesai, Anto mengumpulkan semua santri untuk memperkenalkan Abidzar sebagai santri baru dan akan menjadi bagian dari mereka semua. Walaupun pria itu sudah menikah dengan anaknya.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Anto dengan sangat lembut.
"Wa'alaikumsalam!" jawab semua santri dengan serempak, begitu juga dengan Abidzar.
"Perkenalkan dia adalah, Abidzar suami Bu Cahaya," ucap Anto.
Pria itu memperkenalkan Abidzar sebagai suami Bu Cahaya, karena sang anak juga mengajar di sekolah yang ada di pesantren di sana. Walaupun di bagian santri Wati.
Semua santri di sana terkejut, karena meraka tidak tahu kalau Bu guru mereka sudah menikah dengan pria yang masih menjadi santri di sana.
"Saya harap semua bisa menerima, Abidzar dan bersahabat dengan baik," ucap Anto dengan sangat lembut.
"Insyaallah Ustadz," jawab semuanya dengan serempak.
Abidzar masih diam, karena dia belum bisa berkata-kata apapun. Sebab, masih merasa baru dan asing dari semuanya.
"Silahkan semuanya makan malam di kantin, kota bertemu dan belajar lagi setelah adzan Isya nanti," ucap Anto dengan sangat lembut.
"Baik Ustadz!" semua santri mencium tangan Anto dan bergegas pergi dari sana, begitu juga dengan Abidzar.
Pria itu bergegas pulang dan meninggalkan mertuanya, karena sang ustadz masih ada keperluan di sana.
Saat dia sampai di rumah, Cahaya tidak terlihat menyambutnya sehingga dia langsung masuk ke dalam kamar.
"Assalamualaikum," ucap Abidzar sambil masuk ke dalam kamar.
"Wa'alaikumsalam," jawab Cahaya dengan sangat lemas, karena rasa keram perutnya semakin terasa.
Abidzar menghampiri sang istri, dan Cahaya mencium tangannya kemudian dia duduk di samping gadis itu.
"Mbak sakit?" tanya Abidzar dengan sangat cemas, karena melihat sang istri sangat pucat.
"Ini biasa terjadi saat tamu bulan datang, karena baru tadi pagi datangnya," jawab Cahaya dengan sangat lembut.
__ADS_1
Abidzar tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh Cahaya, dan bulan apa dia tidak mengerti sedikit pun.
"Bisa saya usir tamu itu, Mbak?" tanya Abidzar membuat Cahaya tersebut dan memperlihatkan gigi gisul nya.
"Bukan seperti itu Mas, tamu itu adalah haid," jawab Cahaya dan Abidzar langsung mengerti. Kemudian dia tersipu malu karena sudah salah faham tadi.
Abidzar mengambil ikan rambut yang ada di sampingnya, kemudian membantu sang istri mengikat rambut panjang Cahaya.
"Terimakasih Mas," ucap Cahaya dengan sangat lembut.
Abidzar tersenyum kemudian memegang tangan Cahaya dengan sangat lembut dan berkata, "Bisakah saya makan, Mbak?"
Cahaya tersenyum, karena tadi dia sempat mengira kalau Abidzar akan berkata manis padanya dan ternyata dia salah.
"Tentu saja! Sekarang, ikutlah dengan ku," ucap Cahaya sambil mengunakan hijab dan cadarnya.
Abidzar mengikuti Cahaya menuju meja makan dan mereka duduk di sana, Cahaya menyiapkan semua keperluan sang suami dan membuatkan susu hangat.
"Di minum susu nya, Mas." Cahaya meletakan susu hangat yang di campur dengan kayu manis dan bahan lainnya, ke meja.
"Tapi, saya tidak suka susu Mbak," jawab Abidzar dengan sangat lembut, karena dia takut melukai perasaan sang istri.
"Di minum dulu," sahut Cahaya dengan sangat lembut, sambil duduk di samping pria remaja itu.
"Masya Allah, susu ini enak sekali. Tapi, susu ini sama dengan susu yang ada di supermarket bukan, Mbak?" tanya Abidzar sambil terus menghabiskan susu tersebut.
Cahaya tersenyum sambil menunjuk ke arah gelas susu yang tertulis, susu herbal.
"Wah, ternya Mbak pandai membuat susu seperti ini. Pantes saja wajah Mbak terlihat sangat muda," ucap Abidzar penuh kagum pada sang istri.
"Masya Allah, itu hanya ilmu pengetahuan saya selebihnya adalah kuasa Allah," jawab Cahaya dengan sangat lembut.
Abidzar semakin kagum pada sang istri, karena sangat pandai dalam ajaran Islam melebihi nya.
'Ya Allah, hamba sangat bersyukur memiliki istri yang pandai ajaran Islam. Walaupun umurnya lebih dewasa daripada hamba,' batin Abidzar.
Mereka berdua makan bersama, karena semua orang tidak ada, dan mungkin juga sudah makan sejak tadi.
Setelah selesai makan, Abidzar berpamitan pada sang istri untuk belajar malam ini, karena dia masih baru dan perlu mengenal para santri.
"Saya pergi dulu, Mbak." Abidzar bergegas pergi dari sana dan meninggalkan sang istri sendirian.
__ADS_1
Cahaya tersenyum menatap kepergian sang suami sambil membersihkan meja makan, dan tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Astaghfirullah!" Cahaya langsung berbalik badan, dan dia langsung menatap kesal pada Fatimah.
"Assalamualaikum Cahaya," ucap Fatimah sambil tersenyum pada sang sahabat.
"Wa'alaikumsalam," jawab Cahaya.
"Kamu ngagetin aja," ucap Cahaya sambil terus membersihkan meja makan bekasnya makan tadi.
"Maaf, kamu kira pasti suamimu, ya?" goda Fatima pada Cahaya, dan gadis itu tersenyum. Namun, sang sahabat tidak dapat melihatnya.
"Cahaya, sama suami sendiri gak papa kok, kalau bucin. Karena, cinta itu bukan karena kamu lama mengenalnya akan tetapi, tentang berapa lama dia membuatmu bahagia," ucap Fatimah.
Cahaya terdiam dan tersenyum, karena dia juga berpikir sama degan apa yang di ucapkan oleh Fatimah.
'Apa aku sudah jatuh hati pada suami kecilku itu?' batin Cahaya sambil berpikir.
Mereka berdua melanjutkan kembali cerita mereka, yang menceritakan tentang apa itu cinta dan seperti apa rasanya cinta.
.
.
.
Semua santri melaksanakan Shalat Isya berjamaah di masjid dan Anto yang menjadi imamnya. Setelah selesai mereka langsung belajar tentang Agam Islam.
Apa yang di larang dan di perbolehkan dalam Islam, dan Abidzar baru memahami hal walaupun dia sering di acara oleh sang Abah tentang itu.
Namun, karena dia berteman dengan para sahabat yang tidak mengenal Agama membuatnya melupakan ajaran Islam.
'Ya Allah, selama ini hamba sudah lalai dan mengabaikan ajaran Mu dan berjalan di jalan yang salah,' batin Abidzar.
Pria itu bahagia bisa masuk pesantren, karena itu dia bisa mengenal Agama dengan lebih dalam.
"Masya Allah, ternyata selama ini saya sudah meninggalkan tugas saya sebagai seorang muslim," ucap Abidzar dengan sangat lirih.
"Alhamdulillah, sekarang Abi dan yang lain akan mengajarkan mu tentang Agama Islam lebih dalam lagi," ucap Anto dengan sangat lembut pada sang menantu.
"Alhamdulillah," sahut Abidzar.
__ADS_1
Mereka kembali belajar dan Abidzar semakin pandai dan memahami apa itu Agama Islam lebih dalam lagi.
Bersambung.