
Hati Cahaya sedikit sakit, saat mengingat wajah cantik dan muda Jinan. Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya saat sang suami berpacaran dengan gadis itu.
'Ya Allah, hilangkan pikiran ini dalam hati hamba,' doa Cahaya dalam hatinya.
Gadis itu terus berjalan menuju ruang guru dan masuk ke dalam, terlihat sangat sunyi. Sebab, semua guru masih mengajar.
Cahaya berjalan dengan perlahan menuju bangkunya, dan duduk di sana. Gadis itu mulai mengerjakan tugas hingga selesai.
Pada satu itu, pintu ruangan terbuka terlihat Abidzar masuk ke dalam sambil membawa setumpuk buku.
Pria itu tidak melihat adanya sang istri di sana, sehingga dia langsung ke luar. Namun, saat ia berada di pintu dan handak menutup pintu. Matanya melirik sang istri yang terus menatap nya.
Abidzar tersenyum dan langsung masuk ke dalam dan menghampiri sang istri.
"Assalamu'alaikum bidadari ku" ucap Abidzar dengan sangat lembut.
"Wa'alaikumsalam," jawab Cahaya.
Abidzar duduk di hadapan sang istri dan memegang tangan gadis itu dengan lembut. Membuat Cahaya tersipu malu.
"Sejak tadi Mbak ada di sini, kenapa tidak memanggil saya?" tanya Abidzar.
Cahaya tertawa karena dia mengingat kembali wajah Abidzar yang sangat serius, saat masuk ke dalam tadi dan dia tidak tega memanggilnya.
"Seharusnya panggil saja! Mbak," ucap Abidzar.
"Mas tidak ada pelajaran lagi?" tanya Cahaya.
Abidzar langsung memeluk keningnya, karena dia ingat kalau di kelas masih ada pelajaran yang harus di selesaikan.
"Ya ampun, Mbak saya masuk kelas dulu!" Abidzar berlari ke luar dari ruangan guru.
Sebab, dia sudah tertinggal pelajaran yang masih ada karena berduaan bersama sang istri tadi.
Cahaya tertawa melihat tingkah sang suami, dan dia bergegas pergi dari ruangan guru. Sebab, tugasnya sudah selesai.
Saat dia berjalan, tiba-tiba ada yang manarik tangannya. Sontak Cahaya terkejut dan melihat siapa orang tersebut.
"Jinan!"
Jinan tersenyum dan melepaskan tangannya, kemudian membawa Cahaya duduk di bangku yang ada di taman.
"Mbak, saya minta maaf karena sudah membuat Mbak sakit hati," ucap Jinan lirih.
Cahaya tersenyum. Namun, Jinan tidak bisa melihat senyumannya karena dia mengunakan cadar.
"Saya maafkan, kamu terlihat sangat baik," jawab Cahaya dengan sangat lembut.
Jinan tersenyum karena rencananya sudah berjalan dengan lancar, agar Cahaya mempercain sebagai wanita baik.
"Alhamdulillah kalau Mbak maafkan saya," ucap Jinan dengan lembut.
__ADS_1
Gadis itu memegang tangan Cahaya dan memeluk gadis itu, agar mempercayainya dan tidak meragukannya.
"Ayo kita pulang, bertemu Ummi," ucap Cahaya.
Jinan menganggukkan kepala, dan berjalan bersama Cahaya menuju rumah untuk bertemu sang Ummi.
Setelah sampai di rumah, Cahaya berpamitan untuk berganti baju terlebih dahulu dan Jinan menunggu di ruang tamu.
Saat tengah asik bermain ponselnya, Awan datang dan duduk di samping Jinan. Sebab, dia mengira kalau itu adalah Fatimah.
"Mbak, nanti kita pergi berdua saja! Jangan sampai ada yang tahu," ucap Awan dengan pelan.
Jinan terkejut dan semakin menutup wajahnya mengunakan ponsel, karena dia takut kenapa pria itu tiba-tiba berbicara seperti itu.
Awan mendekati Jinan dan memeluknya membuat gadis itu membuka mata lebar-lebar.
"Mbak, sekarang aja yuk perginya," ucap Awan dengan manja.
Jinan menghempaskan tubuh Awan, dan mantap pria itu dengan tajam. membuat Awan terkejut karena sudah salah peluk.
"Astaghfirullah, aku salah orang," ucap Awan sambil menutup mulutnya.
"Jangan kurang ajar ya!" seru Jinan.
"Maaf Mbak, saya kira kamu tadi Mbak saya," ucap Awan dengan sangat lembut.
Jinan bangun dan menghampiri Awan, kemudian dia menatap tajam pria itu.
Saat mereka tengah berdebat, Cahaya sampai dan menghampiri Jinan menarik tangan gadis itu.
"Ada apa?" tanya Cahaya.
Awan memilih duduk dan menunjuk Jinan, agar gadis itu yang menceritakan semua pada Cahaya.
"Sebenarnya ... " Jinan menceritakan semua pada Cahaya dan gadis itu langsung menghampiri Awan.
"Kamu kenapa mau meluk Fatimah?" tanya Cahaya.
Awan membulatkan matanya, karena rahasianya akan terbongkar saat ini.
"Kita emang dekat Mbak," jawab Awan dengan gugup.
Cahaya tidak percaya akan ucapan sang adik, karena dia tahu kalau Fatimah tidak akan mau di peluk oleh pria.
"Kamu sama dia tidak mahram, buat apa berpelukan?" tanya Cahaya lagi.
Jinan hanya menonton karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada kedua kakak dan adik itu, dan apa yang tengah di bicarakan.
"Tapi Mbak, kita bersaudara," jawab Awan dengan gugup.
Cahaya semakin heran karena jawaban Awan. Sebab, dia tahu kalau sang adik pasti mengetahui hukum mahram.
__ADS_1
"Sekarang Mbak tanya sekali lagi, ada hubungan apa kamu sama Fatimah?" tanya Cahaya.
Awan bingung mau menjawab apa, sehingga dia kabur dari sana dengan sangat cepat. Membuat Cahaya sedikit kesal.
"Astaghfirullah Awan!" jerit Cahaya.
Jinan memegang tangan Cahaya, agar gadis itu tenang tidak terpancing emosi yang sudah meluap.
"Mbak, tenang jangan emosi. Masalah bisa di selesaikan dengan baik," ucap Jinan dengan sangat lembut.
Cahaya tersenyum dan menganggukkan kepala, sambil terus berpikir ada hubungan apa Awan dan sepupunya itu.
"Jinan, kamu temui Ummi di dapur ya, Mbak mau menemui Fatimah," ucap Cahaya.
"Baik Mbak," jawab Jinan.
Cahaya bergegas pergi dari sana memacari keberadaan Fatimah, sedangkan Jinan langsung ke dapur menemui Juminten.
Cahaya masuk ke dalam kamar Fatimah, dan melihat sang sepupu tengah duduk sambil mengerjakan tugas kuliahnya.
"Fatimah, aku ingin bicara."
Cahaya berjalan mendekati sang sepupu dan duduk di samping gadis itu.
"Ada apa Cahaya?" tanya Fatimah.
Cahaya menceritakan semua yang terjadi tadi, dan Fatimah langsung diam sambil menundukkan wajah.
"Ungkapkan saja! Sebelum semua orang tahu," ucap Cahaya.
Fatimah menatap wajah Cahaya, dan mulai menceritakan kalau sebenarnya dia dan Awan memiliki hubungan spesial.
"Astaghfirullah," ucap Cahaya.
Gadis itu sama sekali tidak percaya kalau sepupu dan adiknya berpacaran, tanpa sepengetahuan siapapun.
"Fatimah, kalian tahu bukan? Pacaran di larang," ucap Cahaya dengan pelan.
"Maaf Cahaya, rasa ini tidak bisa di pendam," jawab Fatimah lirih.
Cahaya diam dan bergegas pergi dari sana, karena dia kecewa pada sang adik dan sepupunya.
Gadis itu berpikir akan menceritakan semua pada sang Abi, agar Awan dan Fatimah mendapatkan jalan ke luar nya.
"Ya Allah, apa yang sudah mereka buat." Cahaya terus berjalan mencari kebenaran sang Abi.
Karena dia tidak bisa menunggu lama untuk menyelesaikan masalah Fatimah dan Awan, karena dia tidak mau kedua yang di sayang berbuat dosa besar.
"Semoga mereka mendapatkan jalan ke luar," ucap Cahaya sambil terus berjalan.
BERSAMBUNG.
__ADS_1