Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bab 40


__ADS_3

Rasa bersalah kian menghampiri Abidzar, karena sang istri belum makan. Sebab, menunggu kehadirannya.


Dengan perlahan, dia menghampiri sang istri dan mencium kening gadis itu dengan lembut. Membuat sang empunya terbangun.


"Mas," ucap Cahaya dengan lirih.


Sejujurnya, dia kecewa pada sang suami yang sudah ingkar janji ingin makan siang. Namun, malah datang sore hari.


"Maafkan aku, karena lupa akan janji yang aku buat, maaf." Abidzar bersujud di hadapan Cahaya.


Membuat gadis itu terkejut, dan langsung membantu Abidzar bangun kemudian tersenyum manis.


"Tidak usah minta maaf, karena Cahaya sudah memaafkan Mas. Sekarang kita makan ya,'' jawab Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum, karena sang istri mau memaafkannya dan dia berjalan menuju meja makan bersama Cahaya.


Walaupun sudah makan, dia tetap makan lagi. Sebab, ingin menghargai sang istri.


. . .


Jinan datang ke kantor Exel, karena dia kesal sepupunya tidak bisa menjalankan rencana yang di buat agar mentan kekasihnya menderita. Bahkan, sampai depresi kalau bisa.


Saat tengah berjalan, tiba-tiba ada wanita berhijab jalan dengan terburu-buru menabraknya, sehingga dia terjatuh ke lantai.


"Aaahhh!" jerit Jinan.


Mentari membuka mulut lebar-lebar, dan dia langsung membantu gadis itu bangun dan terkejut melihat Jinan.


"Jinan!" pekik Mentari.


Jinan juga terkejut saat melihat adanya Mentari di perusahaan sang sepupu, dan berpikir kalau gadis itu pasti bekerja di sini.


'Aku yakin, pasti dia bekerja di sini,' batin Jinan.


Jinan bergegas pergi dari sana, menuju ruangan kerja Exel tanpa mengatakan apapun pada Mentari.


"Astaghfirullah, baru juga aku mau minta maaf. Eh, taunya dia pergi gitu aja," ucap Mentari dengan pelan.


Gadis itu kembali ke ruangannya dan mengerjakan tugas sedikit lagi, agar dia bisa segera pulang dan istirahat.


. . .


Brak!


Jinan membanting pintu ruangan Exel dengan kuat, karena dia sangat kesal melihat Abidzar semakin ramai di kagumi orang.


"Jinan!" pekik Exel.


Jinan langsung menghampiri sang sepupu, kemudian memukul meja sehingga pria itu bangun.


"Ada apa?" tanya Exel dengan bingung.


Jinan tidak menjawab, karena dia kesal sepupunya berpura-pura tidak ingat dengan apa yang sudah mereka susun.

__ADS_1


"Kau bajingan! Melupakan tugas mu!" seri Jinan.


Exel mengerti dan membicarakan semua pada Jinan, karena dia tidak mau membuang emas seperti Abidzar.


"Ck, dasar kau!" Jinan bergegas pergi dari sana.


Karena dia sangat kesal sepupunya ingkar dan lebih memilih mempertahankan Abidzar ketimbang dirinya.


"Dasar pria busuk! Bisa-bisanya dia, lebih memilih pria bajingan yang membuat hatiku hancur!" geram Jinan.


Gadis itu terus-menerus mengumpat sang sepupu, karena tidak berpihak padanya membuatnya kesal, dan jengkel.


"Aku tahu," ucap Jinan sambil melihat mobil yang membawa buku-buku.


Gadis itu hendak membakar mobil tersebut. Namun, ada tangan yang menahannya sehingga rencananya gagal.


"Kau!" seru Jinan.


Gadis itu berbalik badan dan melihat Abidzar ada di belakangnya, sambil memegang tangannya.


"Lepaskan aku!" teriak Jinan.


Abidzar langsung melepaskan tangannya, kemudian menatap Jinan dengan tajam. Sebab, dia tidak menyangkal wanita yang sudah bersamanya selama empat tahun, akan berbuat licik seperti saat ini.


"Apa kamu tidak berpikir? Kalau kelakuan itu bisa merugikan, bos Exel ratusan juta?" tanya Abidzar dengan lembut.


Walaupun Jinan sudah berbuat kriminal, Abidzar tetap bersikap lembut. Sebab, wanita itu pernah bersamanya menjalin kasih bertahun-tahun.


Karena rasa kesalnya semakin meluap-luap, semua rencanya gagal total. Sebab, kedua pria itu.


"Ternyata mereka sepupu?" ucap Abidzar dengan pelan sambil menatap kepergian gadis itu.


. . .


Mentari menutup mulut, karena sejak tadi, ia mengintip percakapan Exel dan Jinan tanpa sengaja. Sebab, gadis itu hendka memberikan berkas pada sang bos.


Namun, malah dia melihat pertengkaran antara sepupu itu. Ya, dia sudah tahu kalau mereka adalah sepupu.


"Permisi, Pak!" ucap Mentari.


Gadis itu masuk dan memberikan berkas pada sang Bos, kemudian hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Exel memanggilnya.


"Tunggu Mentari!"


Gadis itu langsung menoleh dan melihat kalau sang bos mendekatinya, dan memberikan sebuah kotak kecil, yang entah apa isi dalamnya.


"Untuk apa ini, Pak?" tanya Mentari dengan lembut.


Exel memberikan itu untuk Mentari, karena kinerja kerja yang sangat bagus beberapa hari ini.


"Terimakasih banyak, Pak. Saya permisi dulu!" Mentari bergegas pergi dari sana.


Karena, dia ingin segera membuka kotak itu. Sebab, sangat penasaran. Apa isinya?

__ADS_1


Setelah sampai di ruangannya, dia langsung membuka kotak itu dan langsung membuka mata lebar-lebar.


"Ya Allah, kalung ini cantik. Walaupun hanya perak," ucap Mentari.


Ya, Exel memberikan Mentari kalung perak berhiaskan kupu-kupu di tengahnya, memperlihatkan keindahan yang memakai kalung itu.


"Tapi, apa iya kalau karyawan bekerja bagus harus diberikan kalung seperti ini?" gumam Mentari.


Gadis itu sengaja menyimpan kalung itu, karena dia tidak mau menggunakannya. Sebab, merasa semua ini terlalu berlebihan.


. . .


Di desa . . .


Juminten terbaring lemas, karena dia sakit merindukan sang anak yang sudah beberapa hari ini tidak bersamanya.


"Ummi, minum obatnya ya?" pinta Fatimah dengan lembut.


Juminten langsung meminum obat itu, dan memeluk Fatimah. Sebab, sang menantu sangat baik merawatnya dengan cekatan.


"Terimakasih, sudah menjaga ummi dengan baik sayang," ucap Juminten dengan lembut.


Fatimah membantu sang mertua tidur dan tersenyum, karena dia sudah menganggap wanita paruh baya itu sebagai ibunya sendiri.


"Ummi sudah merawat Fatimah dari dulu, dan sekarang giliran Fatimah membalas budi," jawab Fatimah dengan lembut.


Juminten sangat bahagia bisa memiliki dua menantu yang baik. Walaupun yang satu tidak ada di sampingnya.


"Ummi bersyukur, Awan menikah dengan kamu. Sebab, kita tidak akan berpisah," ucap Juminten dengan lembut.


"Alhamdulillah Ummi," jawab Fatimah dengan sangat bahagia.


Tidak pernah terbayang kalau sang Bibi akan sangat senang padanya. Sebab, dia berpikir meraka semua akan menentang hubungannya dengan Awan.


Namun, malah semua orang menrestui dan menikahkan mereka dan sekarang hidup bahagia.


"Ummi, bagaimana kalau kita ke kota saja?" usul Fatimah.


Sebab, dia sangat merindukan Cahaya dan Mentari karena mereka sudah beberapa hari ini tidak bertemu.


"Bagus itu, kita akan pergi bersama Awan. Karena, tidak mungkin abi pergi," jawab Juminten.


Fatimah tersenyum, dan mereka akan pergi ke kota menemui Cahaya, dan Mentari, saat Juminten sudah sembuh total.


'Ya Allah, aku sangat merindukan Cahaya dan Mentari. Semoga engkau berikan mereka berdua kesehatan, aamiin,' doa Juminten dalam hatinya.


"Ummi, istirahat saja! Fatimah akan kembali lagi setelah memasak makan siang," ucap Fatimah dengan lembut.


"Baik Nak, maaf ya ummi tidak bisa membantu mu," jawab Juminten dengan lirih.


"Tidak apa Ummi." Fatimah bergegas pergi dari sana, karena dia ingin memasak makan siang untuk sang suami.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2