
Jinan dan Eza bersama Jizan menjenguk Cahaya di rumah sakit, kini mereka tengah berjalan mencari kebenaran gadis itu.
"Ma, sepertinya itu ruangannya," ucap Eza dengan lembut sambil menggendong sang anak.
Jinan tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian mereka bergegas masuk ke dalam terlihat semua tengah berkumpul.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Eza dan Jinan bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab semuanya.
Jinan tersenyum dan memberikan kado yang ia bawa pada Cahaya, dan duduk di samping gadis itu.
"Jizan sudah benar ya," ucap Abidzar dengan lembut.
"Iya, sekarang dia benar-benar sudah aktif," jawab Eza dengan lembut.
Abidzar mengendong Jizan dan Eza pergi melayani Anto dan Toyib, kemudian duduk bersama mereka.
"Mbak, apa sudah mendingan?" tanya Jinan dengan lembut.
"Alhamdulillah sudah," jawab Cahaya dengan lembut.
Jinan tersenyum dan dia bercerita banyak pada Cahaya, kemudian dia duduk di dekat para orang tua, dan kembali bercerita.
"Kalau begitu kami permisi dulu semuanya, karena Jizan sudah mengantuk dan haus," ucap Eza dengan lembut.
"Iya, hati-hati," jawab Juminten dengan lembut.
Eza dan Jinan bergegas pergi dari sana, karena mereka harus menenangkan Jizan yang sudah mengamuk karena haus dan mengantuk.
"Sabar ya sayang," ucap Eza dengan sangat lembut.
Mereka masuk ke dalam mobil, dan Jinan langsung memberikan susu pada Jizan dan bayi kecil itu mulai mengantuk kemudian tertidur pulas.
"Syukurlah, anak kita sudah tidur," ucap Jinan dengan sangat lembut.
Eza tersenyum dan mencium sang anak, ia dia sangat gemas pada bayi yang sudah mulai gembul tersebut.
"Za, nanti dia bangun." Jinan mendorong wajah Eza menjauh dari sang anak.
Eza tersenyum sambil menatap wajah Jinan, membuat gadis itu malu dan langsung membuang pandangannya.
"Apa Mama juga mau?" tanya Eza dengan lembut dan Jinan langsung menoleh.
Eza langsung mengecup kening sang istri, kemudian mereka sama-sama tertawa dengan pelan. Sebab, takut membangunkan Jizan.
. . .
Putra baru sampai di rumah sakit, dan dia melihat mobil Eza baru saja pergi dan ia langsung masuk ke dalam sambil membawa kado yang lumayan besar.
__ADS_1
Saat dia masuk ke dalam, semua orang langsung menatapnya karena membawa kado berukuran besar.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Putra dengan sangat sopan.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di sana.
Putra meletakan kado yang di bawa di samping Abidzar, kemudian dia mencium tangan Anto dan Toyib.
"Apa kabar kamu, Nak?" tanya Anto dengan lembut.
Putra tersenyum sambil memegang tangan pria itu dengan lembut, karena sudah menjadi guru yang baik untuknya dan juga menjadi calon mertuanya.
"Alhamdulillah baik, Pak," jawab Putra dengan lembut.
"Hei, panggil abi saja sama seperti yang lain," ucap Anto dengan lembut.
Putra tersenyum malu-malu dan menganggukkan kepala. Mentari hanya diam di samping sang ummi sambil terus melihat Putra bersama Abi nya.
'Dia sangat sopan pada Abi dan juga yang lain,' batin Mentari.
Abidzar tersenyum karena sejak tadi, dia terus memperhatikan gelagat Mentari yang tersipu malu sejak kedatangan Putra.
"Put, kapan lagi kamu menikah?" tanya Toyib dengan lembut.
Putra tersenyum dan menunjuk ke arah Mentari, membuat gadis itu langsung tersadar dan membuang pandangannya.
Putra juga tersenyum, karena Toyib selalu bisa bercanda dengannya seperti saat ini tanpa melukai hatinya.
"Abah, sudahlah kasihan Mentari dia malu sejak tadi," ucap Abidzar dengan lembut.
Sontak Mentari langsung membuka matanya lebar-lebar, saat Abidzar mengetahui apa yang tengah ia rasakan saat ini.
"Sudah-sudah, kita bahas yang lain saja!" ucap Inem dengan lembut.
Sebab, dia tahu Mentari memang benar-benar malu saat ini terlihat jelas dari raut wajahnya sekarang.
"Baiklah," jawab Toyib.
Mereka membahas masalah lain, sampai bayi Cahaya menangis karena haus dan semua pria yang ada di sana langsung ke luar. Sebab, tidak mungkin mereka melihat Cahaya bukan.
Satu bulan kemudian . . .
Cahaya dan Abidzar mengadakan syukuran kelahiran Cahazar Muzzammil, dan mengadakan akikah sang putra pada hari ini.
Banyak tamu undangan berdatangan, dari rekan kerja Abidzar sampai anak santri dan juga anak yatim.
"Alhamdulillah ya Mas, semua berjalan dengan lancar," ucap Cahaya dengan lembut sambil menggendong bayi Kecilnya.
"Alhamdulillah," sahut Abidzar dengan lembut.
__ADS_1
Semua acara berjalan dengan lancar sampai selesai, dan kini kedua orang tua Cahaya akan kembali ke kampung bersama Mentari.
Gadis itu sangat sedih, karena sang adik akan jauh darinya begitu juga dengan Putra karena sudah pasti mereka akan bertemu saat hari pernikahan nantinya.
'Ya Allah, cepatkan waktu berlalu dan semoga dia tahun adalah waktu yang cepat,' batin Putra lirih.
Mentari mencium sang keponakan dengan lembut, karena dia akan sangat merindukan bayi kecil itu. Sebab, mereka sudah pasti akan jarang bertemu karena jarak mereka jauh.
"Mbak, jaga Cahazar dengan baik dan jaga kesehatanmu juga. Aku pamit," ucap Mentari dengan lirih.
Cahaya menangis dan memeluk Mentari, dengan sangat erat dan haru juga orang yang ada di sana karena merasa sedih melihat perpisahan adik dan kakak itu.
"Kamu juga jaga kesehatan, jangan pikirkan pekerjaan utamakan keselamatan mu dulu," ucap Cahaya dengan lirih.
Mentari mengangguk tanda mengerti, dan dia langsung bergegas pergi menuju Inem dan memeluk wanita itu.
"Ummi, Mentari pulang ya, jangan lupa untuk menjaga kesehatan," ucap Mentari dengan lembut.
Inem menangis, karena Mentari akan kembali ke kampung yang pasti mereka akan lama baru bertemu kembali.
"Iya Nak, kamu juga jaga kesehatan," jawab Inem dengan lembut.
Mentari melepaskan pelukannya, kemudian mencium tangan wanita itu dengan lembut dan sopan.
"Besan, kami pulang dulu, titip mereka semua," ucap Juminten dengan lembut.
"Baik, kalian juga harus hati-hati," jawab Inem dengan lembut.
Cahaya memeluk ummi nya dengan sangat lembut, kemudian dia mencium wanita itu dengan lembut.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Juminten dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab semua dengan serempak.
Mentari dan kedua orang tuanya bergegas pergi dari sana, dan gadis itu sempat melambaikan tangan ke arah Putra membuat pria itu tersenyum.
'Sakit sekali berpisah seperti ini, aku ingin secepatnya menghalalkan Mentari, dan kami akan bersama selamanya,' batin Putra lirih.
Keluarga Mentari sudah tidak terlihat lagi, dan Putra berpamitan pulang karena dia ingin menenangkan hatinya yang sedih karena perpisahan mereka.
Sedangkan Cahaya, masih bersama sang mertua di ruang tamu sambil menyusun semua kado dari tamu undangan untuk Cahazar.
"Setelah ini ummi dan abah pulang, kalian yang akur dan jaga Cahazar bersamaan, karena tidak ada lagi yang membantu Cahaya," ucap Inem dengan lembut.
"Baik, Ummi!" jawab Abidzar dan Cahaya bersamaan.
Setelah selesai, Inem dan Toyib berpamitan pulang dan meninggalkan mereka bertiga di sana.
BERSAMBUNG.
__ADS_1