
Abidzar baru pulang, dan dia langsung mandi kemudian bersiap-siap. Sebab, ingin memijat sang istri yang tengah terbaring lema di atas ranjang.
"Sayang, pasti sangat mual ya?" tanya Abidzar dengan lembut.
Cahaya menggunakan kepala, karena dia merasa sangat pusing. Sebab, sejak tadi pagi ia terus-menerus muntah sampai sekarang.
"Sayang, mas pijitin aja ya?" tanya Abidzar dengan lembut.
Cahaya menjawab dengan gumam, kemudian Abidzar langsung memijat sang istri dengan sangat lembut.
"Sayang, besok kita periksa kandungan kamu lagi. Sebab, semua vitamin sudah habis," ucap Abidzar dengan sangat lembut.
"Iya Mas," jawab Cahaya.
Abidzar mencium kening sang istri, dan juga perut gadis itu yang sudah mulai membuncit. Padahal, usia kehamilannya masih delapan Minggu.
'Ya Allah, sembuhkan Cahaya dan berikanlah dia selalu kesehatan, juga anak kami,' doa Abidzar dalam hatinya.
Pria itu mengoleskan minyak kayu putih di kepala sang istri, agar tidak terlalu pusing dan juga perut Cahaya. Supaya rasa mual berkurang.
"Mas, sudahlah ... pasti kamu juga lelah bukan?" ucap Cahaya dengan lembut dan pelan.
Abidzar tersenyum dan membantu sang istri bangun, kemudian memeluk gadis itu dengan sangat lembut.
"Sayang, aku tidak lelah kalau kamu sehat," jawab Abidzar dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan mencium tangan sang suami, karena dia bersyukur mendapatkan suami seperti Abidzar. Walaupun umurnya masih muda, tetap pemikiran dan sikapnya dewasa.
"Cahaya sangat bersyukur bisa memiliki suami yang berpikir dewasa seperti Mas," ucap Cahaya dengan sangat bersyukur.
Abidzar mencium pipi sang istri dengan bertubi-tubi, sehingga gadis itu marah dan langsung menidurkan tubuh.
"Ada yang ngambek," sindir Abidzar.
Cahaya hanya diam, karena sejak hamil dia tidak suka kalau Abidzar menciumnya seperti tadi.
"Sayang, mas shalat Maghrib dulu ya?" Abidzar bergegas pergi dari sana, karena dia mendengar suara adzan berkumandang.
Cahaya hanya diam, dan dia bergegas melaksanakan shalat walaupun keadaannya kurang sehat.
Setelah selesai melaksanakan shalat, Cahaya menunggu sang suami. Sebab, Abidzar shalat di masjid bukan di rumah.
"Kok mas Abidzar, gak pulang-pulang ya?" ucap Cahaya dengan cemas.
Karena, dia takut terjadi sesuatu pada sang suami di jalan pulang atau di masjid. Sebab, celaka tidak mengenal tempat.
Tak berselang lama akhirnya Abidzar pulang, dan Cahaya bernafas lega. Sebab, sang suami pulang dengan keadaan selamat.
"Alhamdulillah, kamu pulang juga Mas," ucap Cahaya dengan lega.
__ADS_1
Abidzar tersenyum, karena sang istri menanti kepulanganya. Padahal, tadi mereka masih diam-diam.
"Assalamualaikum sayangku," ucap Abidzar dengan lembut.
"Waalaikumsalam," jawab Cahaya dengan lembut.
Gadis itu menghampiri Abidzar dan mencium tangan sang suami, kemudian mereka berjalan menuju ruang makan. Sebab, Abidzar belum makan begitu juga dengan Cahaya.
"Mentari mana?" tanya Abidzar.
Pria itu selalu ingat pada sang adik, karena tidak seperti biasanya Mentari tidak ada di meja makan. Padahal, belum terlalu malam.
"Entahlah, sejak pulang tadi dia ada di kamar," jawab Cahaya.
Abidzar baru mengingat kalua Mentari tadi membawa pulang pekerjaan yang menumpuk, sedangkan dia memberikan pekerjaan di kantor.
"Nanti antar saja, karena dia bawa kerjaan pulang," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya menganggukkan kepala, karena dia mengerti sang adik banyak sekali pertanyaan di kantor, sampai membawa pulang.
Setelah selesai makan, Abidzar bergegas masuk ke dalam kamar sambil menunggu adzan Isya berkumandang. Sedangkan Cahaya, mengantarkan makanan untuk sang adik.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mentari, kamu nanti makan yang kakak bawa," ucap Cahaya dengan lembut.
Sambil meletakan makanan yang di bawa ke meja kecil samping gadis itu, dan Mentari tersenyum karena sang kakak sangat perhatian padanya.
"Terimakasih banyak Mbak, karena sangat perhatian pada Mentari," ucap Mentari dengan sangat bahagia.
Cahaya tersenyum, dan memeluk sang adik dengan lembut. Sebab, dia sangat menyayangi gadis itu.
"Untuk apa berterimakasih? Karena, mbak sangat sayang sama kamu," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari sangat bersyukur bisa memiliki seorang kakak selembut Cahaya, dan sangat tabah juga sabar.
"Kamu lanjutkan pekerjaan itu, mbak mau istirahat dulu," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari menganggukkan kepala, dan Cahaya bergegas pergi dari sana menuju kamarnya. Setelah masuk.
Cahaya langsung menghampiri sang suami, dan memijat kaki Abidzar dengan lembut.
"Sayang, kamu istirahat saja! Biarkan mas pijit sendiri nanti," pinta Abidzar dengan tegas.
Sebab, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada sang anak kalau istrinya kelelahan, karena memijatnya.
__ADS_1
"Mas, hanya memijat saja," rengek Cahaya.
Abidzar langsung bangun dan menatap wajah Cahaya dengan lekat. Sebab, gadis itu sudah membantah ucapannya.
"Ternyata, sekarang kamu sudah membantah ucapan suamimu ini," ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya diam, karena maksudnya tadi bukan melawan sang suami. Namun, ingin memijat Abidzar.
"Sekarang kamu istirahat, setelah Isya kamu boleh tidur," ucap Abidzar.
"Baik Mas," jawab Cahaya.
Cahaya tidak berani membantah Abidzar lagi, karena ia tidak mau menjadi istri yang membangkang.
'Ternyata dia menurut juga,' batin Abidzar.
Pria itu tersenyum dan memijat kaki sang istri dan juga tangan Cahaya dengan lembut. Setelah itu, mereka berdua shalat berjamaah di kamar.
Setelah selesai shalat, mereka berdua sama-sama tidur karena besok lagi harus memeriksa kandungan Cahaya di rumah sakit.
Keesokan harinya . . .
Abidzar tersenyum melihat sang anak sudah tubuh dengan sangat baik, dan keadaan Cahaya juga bagus tidak ada masalah apapun.
"Alhamdulillah, kalau tidak masalah apapun," ucap Abidzar dengan lega.
"Alhamdulillah Mas," sahut Cahaya dengan lembut.
Dokter Ike langsung menyiapkan susu dan vitamin untuk Cahaya, karena gadis itu tidak ada keluhan apapun.
"Semoga tidak ada keluhan sampai hari persalinan nanti," ucap Dokter Ike dengan sangat lembut.
"Aamiin," jawab Abidzar dan Cahaya bersamaan.
"Karena Cahaya tidak ada masalah, saya hanya memberikan vitamin dan susu. Rasa mual juga sudah berkurang bukan?" ucap Dokter Ike dengan lembut.
"Sudah Dokter," jawab Cahaya dengan jujur.
Sebab, hanya kemarin dia merasakan mual dan sekarang sudah tidak merasakan lagi.
"Dok, apa saja larangan untuk Cahaya selama masa kehamilan?" tanya Abidzar.
Sebab, dia tidak mau sampai calon anaknya dan sang istri kenapa-kenapa, karena kelalaiannya menjaga mereka berdua.
"Begini ... "
Dokter Ike menjelaskan semua pada Abidzar, apa saja yang boleh dan tidak boleh selama masa kehamilan Cahaya. Pria itu mengerti dan menatap wajah sang istri dengan tajam.
'Ya Allah, semoga Mas Abidzar tidak terlalu mengekang ku melakukan pekerjaan rumah,' batin Cahaya.
__ADS_1
Ya, Dokter menjelaskan kalua wanita hamil tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah yang sangat berat. Seperti mengepel dan lainnya.
BERSAMBUNG.