
Keesokan harinya . . .
Mentari sudah merasa jauh lebih baik. Namun, dia belum diperbolehkan untuk bekerja oleh Exel, karena pria itu takut Mentari akan jatuh sakit lagi.
Padahal, masih banyak pekerjaan Mentari yang belum diselesaikan dan akan dikerjakan oleh Exel sendiri.
"Aku jadi tidak enak pada pak Exel, dia mengerjakan tugas ku yang sangat banyak," ucap Mentari dengan pelan.
Gadis itu bersiap-siap, ia dia ingin berjemur di balkon agar terkena sinar matahari pagi yang akan menyehatkan dirinya.
Namun, sebelum dia sampai di balkon. Cahaya memangilnya, sehingga gadis itu menghampiri sang kakak terlebih dahulu.
"Ada apa, Mbak?" tanya Mentari dengan lembut.
"Ayo kita ke rumah sakit, sekalian memeriksa keadaan mu," jawab Cahaya dengan lembut.
Mentari mengerutkan keningnya, karena dia merasa sudah sehat. Lalu, untuk apa ia ke rumah sakit lagi?
"Astaghfirullah, mbak lupa bilang sama kamu, kalau Jinan sudah melahirkan kemarin," ucap Cahaya dengan lembut.
Mentari diam, karena dia masih kesal pada gadis itu yang hampir menghancurkan hubungan Abidzar dan Cahaya. Namun, ia harus memaafkan Jinan.
"Baiklah Mbak, aku siap-siap dulu," jawab Mentari sambil bergegas pergi dari hadapan Cahaya.
Cahaya tersenyum dan menunggu Abidzar di ruang tamu, dan pria itu datang menghampirinya.
"Sayang, kamu sanggup pergi dengan keadaan perut besar seperti ini?" tanya Abidzar dengan cemas.
Sebab, dia takut sang istri kelelahan saat berjalan di rumah sakit nanti. Namun, Cahaya masih sanggup.
"Baiklah. Tapi, kalau kamu tidak sanggup katakan saja!" ucap Abidzar dengan lembut.
Cahaya tersenyum dan mencium tangan sang suami, kemudian mereka berpelukan dengan lembut.
"Mas, ayo kita berangkat sekarang karena Putra ada di bawah menunggu," ucap Cahaya.
"Baik. Tapi, di mana Mentari?" jawab Abidzar dengan pertanyaan.
"Ada di sini!" jawab Mentari.
Cahaya tersenyum dan mulai bangun dari duduknya, begitu juga dengan Abidzar dan mereka menghampiri Mentari.
"Kamu yakin sudah sehat?" tanya Abidzar sambil menatap wajah Mentari.
"Sudah, ayo kita berangkat," jawab Mentari sambil bergegas pergi dari sana.
Cahaya dan Abidzar berjalan dengan perlahan, karena gadis itu sudah mulai kesulitan berjalan. Sebab, perutnya sudah mulai membesar.
Sesampainya Mentari di bawah, terlihat Putra sudah ada di sana sambil membawa kado yang berukuran besar. Membuat Mentari penasaran apa yang dibawa pria itu.
__ADS_1
"Kamu bawa apa?" tanya Mentari dengan lembut.
"Assalamualaikum dulu Mentari," jawab Putra.
Mentari tersenyum, karena dia lupa mengucapkan salam pada pria itu.
"Waalaikumsalam," ucap Mentari dengan lembut.
Putra tersenyum, dan dia memberitahu kalau dia membawa perlengkapan bayi untuk Eza dan Jinan. Sebab, ia sudah menganggap bayi kecil itu sebagai keponakannya.
"Masya Allah, kamu baik sekali," ucap Mentari dengan lembut.
Gadis itu senang Putra bersikap baik pada bayi Eza dan Jinan, dan dia juga senang tenyata pria pilihan Abidzar baik.
"Tapi, aku tidak bawa apapun. Karena, mbak Cahaya tidak memberitahu jika ingin melihat anak Eza dan Jinan," ucap Mentari pelan.
"Untuk apa membawanya, karena aku sudah membawa ini. Anggap saja ini pemberian kita berdua," sahut Putra dengan lembut.
Mentari tersenyum dan naik ke atas motor Putra, kemudian dia meletakkan kado itu di tengah-tengah mereka, agar tidak bersentuhan.
"Kita berangkat sekarang saja ya?" ucap Putra.
Sebab, dia tidak ingin berlama-lama pergi karena ia harus bekerja di cafe untuk mengumpulkan modal pernikahan.
"Iya," jawab Mentari.
Putra mengemudikan motornya dengan perlahan, pergi dari apartemen tersebut. Pada saat itu juga Abidzar dan Cahaya baru sampai.
"Sudahlah, kita ikuti saja! Sekarang," sahut Cahaya.
Abidzar langsung mengemudikan motornya dengan perlahan, dan bertemu dengan Putra yang ada di hadapan mereka. Terlihat pria itu sangat pelan membawa motor.
"Lihat, dia sengaja agar berlama-lama dengan Mentari," ucap Abidzar.
"Sudahlah Mas, yang terpenting mereka tidak berdekatan," sahut Cahaya dari belakang.
Abidzar diam dan melewati Putra, karena pria itu benar-benar sangat lambat membawa motor. Padahal, Abidzar juga lambat membawa motor.
"Eh, bukankah itu kak Abidzar?" ucap Mentari dengan pelan.
"Iya," jawab Putra sambil terus mengemudikan motornya.
'Jangan sampai Mentari tahu, kalau aku memang sengaja melambatkan motor ini, agar kami bersama,' batin Putra.
Mentari menyadari kalau Putra sangat pelan mengemudikan motor, tidak seperti biasanya. Namun, dia hanya diam tidak mau protes karena keselamatan mereka lebih penting.
Setelah selesai, Mentari dan Putra berjalan masuk ke dalam dan mencari kamar inap Jinan yang dikirimkan oleh Eza tadi.
"Seperti ini," ucap Putra dan Mentari menganggukkan kepala.
__ADS_1
Kemudian mereka masuk ke dalam, dan terlihat Cahaya sudah menimang bayi kecil lucu itu.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Mentari dan Mentari bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab semua yang ada di sana.
Putra memberikan kado yang dibawanya tadi pada Eza, dan mereka berpelukan dengan sangat haru.
"Terimakasih sahabatku," ucap Eza dengan lirih.
Sebab, dia tidak memiliki keluarga dan para sahabatnya yang ada saat ini bersamanya, membuat dia benar-benar sangat haru.
"Terimakasih pada kalian semua, karena sudah datang menjenguk anak kami," ucap Eza dengan sangat bahagia.
"Sama-sama," jawab semuanya secara bersamaan.
Semuanya tersenyum dan mengobrol bersama, Mentari menghampiri Cahaya kemudian dia mengendong bayi kecil itu dengan perlahan.
"Anak Eza benar-benar mirip dengannya," ucap Mentari dengan pelan agar bayi kecil itu tidak bangun. Ya, anak Eza dan Jinan sejak tadi tidur, walaupun mereka semua sangat berisik.
"Siapa nama bayi ini?" tanya Mentari dengan lembut.
"Jizan Farul," jawab Eza.
Mentari tersenyum, karena nama bayi ini sangat indah.
"Nama yang sangat indah, sama seperti bayi ini benar-benar lucu," ucap Mentari dengan lembut.
"Terimakasih Mentari," ucap Jinan dengan lembut.
Mentari menganggukkan kepala, kemudian dia memberikan Jizan pada Cahaya. Sebab, sang kakak ingin menimang bayi itu lagi.
"Kalian kapan lagi?" tanya Eza pada Putra.
Putra tersenyum sambil menunjuk Mentari, karena semua keputusan ada pada gadis itu. Membuat semua orang langsung menatap Mentari.
"Ada apa?" tanya Mentari.
Saat semua mata tertuju padanya, membuatnya sedikit malu dan canggung.
"Tidak ada, hanya jangan terlalu lama. Sebab, banyak wanita yang mengagumi Putra," jawab Eza dengan senyuman.
"Benar itu," tambah Abidzar.
Mentari semakin malu, karena dia memang belum ingin menikah. Sebab, umur Putra masih sangat muda, walaupun umurnya lebih dewasa dari pria itu. Tetap, dia masih menunda.
"Kalau jodoh tak akan ke manapun," jawab Mentari dengan lembut.
Semua orang langsung tersenyum, karena jawaban Mentari sangat tetap. Sedangkan Putra bersedih, sejujurnya dia ingin segera menikah gadis itu.
__ADS_1
Namun, masih terhalang akan umurnya yang masih muda. Padahal, pemikiran dan sikapnya sudah sangat dewasa.
BERSAMBUNG.