Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Bab 61


__ADS_3

Cahaya sudah selesai berganti baju, dan kini ia bersama sang anak di atas ranjang. Sedangkan Abidzar, masih membereskan ruang tamu yang lumayan berserakan.


Cahaya tersenyum melihat sang anak tertidur dengan pulas, ia pun juga menidurkan tubuh di samping sang anak. Kemudian, dua tertidur pulas.


Saat Abidzar masuk ke dalam kamar, terlihat sang istri tertidur dan ia menghampiri Cahaya, kemudian mencium puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Kamu pasti lelah," ucap Abidzar dengan lembut.


Pria itu juga mencium sang anak dengan lembut, setelah itu dia bergegas pergi dari sana karena ingin membersihkan diri. Sebab, sebentar lagi adzan berkumandang.


Setelah selesai membersihkan diri, Abidzar mendekati Cahaya dan membangunkan gadis itu. Sebab, saat adzan tidak boleh tidur.


"Mas, kamu shalat saja! Saya, belum bisa shalat," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar menganggukkan kepalanya dan bergegas mengambil wudhu, dan melaksanakan shalat Maghrib sendirian.


Cahaya menyusui sang anak, karena menangis dan sang suami belum selesai shalat.


"Sayang, Abi lagi shalat jangan menangis ya," ucap Cahaya dengan lembut.


Bayi kecil itu berhenti menangis karena dia sudah mendapatkan susu, dan Abidzar juga sudah selesai shalat.


"Anak abi, sudah bangun." Abidzar tersenyum dan menghampiri sang anak yang tengah meminum asi.


Pria itu mencium sang anak, sehingga bayi kecil itu tertawa dengan sangat gembira. Sebab, di cium oleh abi nya.


"Masya Allah, anak abi sudah pandai tertawa," ucap Abidzar dengan heran.


Sebab, anak yang berusia satu bulan sudah pandai tertawa dengan sangat bergembira sama seperti bayi berusia tujuh bulan.


"Anak kita sangat istimewa," ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum dan gemas, sehingga dia mengambil sang anak kemudian menggendong bayi itu dengan lembut.


"Anak abi ini sangat bijak," ucap Abidzar dengan sangat bergembira.


Cahaya tersenyum melihat mereka berdua, karena harta yang paling berharga adalah keluarga kecilnya.


'Terimakasih ya Allah, karena engkau memberikan aku keluarga kecil yang bahagia seperti sekarang,' batin Cahaya dengan sangat bersyukur.


. . .


Malam ini Mentari merasa sunyi, karena biasanya dia selalu bersama Cahazar. Namun, sekarang ia sendiri walaupun di pondok ramai.

__ADS_1


"Cahazar, semoga kamu sehat selalu dan tidak ingat tante. Sebab, takutnya kamu malah demam," ucap Mentari lirih.


Entah benar atau tidak, bayi yang merindukan seseorang maka akan jatuh sakit. Itulah yang di dengarnya saat orang-orang bercerita.


Ponselnya berdering, dan dia melihat Putra mengirimkan pesan padanya dan langsung dibaca.


Putra: Assalamualaikum Mentari, kamu sehat?


Mentari tersenyum dan membalas pesan Putra dengan sangat bahagia.


Mentari: Waalaikumsalam, Alhamdulillah sehat. Tapi, maaf ya tidak bisa berbalas pesan karena takut terjadi dosa.


Mentari tidak dapat lagi pesan dari Putra, karena pria itu sudah membaca pesannya. Mentari meletakan ponselnya sambil mengingat masa-masa indahnya di kota.


"Untungnya uang pak Exel sudah di kembalikan, saat aku masih di sana. Kalau tidak, mungkin aku akan tetap di kota dan bekerja keras sampai kesehatan ku menurun," ucap Mentari dengan lirih.


Jujur, selama berkerja di perusahaan Exel dia selalu lembur dan banyak sekali pekerjaan yang lain dari pria itu. Sehingga ia memutuskan untuk berhenti bekerja.


"Ya Allah, semoga dua tahun ini cepat berlalu," ucap Mentari dengan penuh harapan.


Sebab, ia juga tidak sabar bisa bersama dengan Putra selamanya tanpa memikirkan dosa lagi. Namun, dia belum mau bila menikah sekarang, karena umur pria itu masih belum mencukupi.


. . .


Putra sudah membuka cafe dengan awal, karena suasana hatinya sedang tidak enak dan mendung. Sebab, sang pujaan hati sudah kembali ke kampung.


"Kalian jaga cafe, aku ke kampus dulu," ucap Putra dengan sangat lemas.


"Siap Bos!" jawab semuanya dengan serempak.


Ya, sebenarnya Putra adalah pemilik cafe sebab itu dia yang menjaga kasir dan tidak memberitahu siapapun termaksud papa dan namanya.


Karena, dia mengumpulkan uang sendiri dan membangun cafe tersebut dengan sederhana, dan bisa sampai sekarang sudah berkembang.


'Entah mengapa saat Mentari jauh, aku jadi tidak bersemangat. Padahal, biasanya juga kami jarang bertemu walaupun dia ada di sini,' batin Putra dengan lirih.


Putra bergegas pergi menuju kampus dengan mengendarai motor miliknya, walaupun papanya memiliki mobil, dia tetap pada motornya yang sudah sejak SMP ada bersamanya.


. . .


Abidzar tidak tega meninggalkan sang istri dan anaknya berdua di rumah, karena biasanya ada Mentari dan kedua orang tua Mentari. Namun, mereka semua sudah pulang karena banyak kesibukan.


"Sudahlah Mas, pergi saja! Karena, kami di sini berdua dan juga nanti ada ummi datang," ucap Cahaya dengan lembut.

__ADS_1


Sebab, dia tahu kalau sang suami mengkhawatirkan keadaannya dan sang anak.


"Baiklah. Tapi, bila ada apapun beritahu saya secepatnya," jawab Abidzar dengan lembut sambil mencium sang anak.


"Baik," jawab Cahaya dengan lembut.


Abidzar bergegas pergi dari sana dengan sangat berat hati, karena dia takut terjadi sesuatu pada sang anak dan istrinya. Namun, dia dibuang pikiran itu.


'Ya Allah, semoga anak dan istri hamba, selalu sehat dan diberikan keselamatan. Aamiin,' doa Abidzar dalam hatinya.


Saat mengendarai motor, Abidzar bertemu dengan Putra, terlihat pria itu benar-benar sangat sedih.


"Ya ampun, sesedih itu dia ditinggal pergi oleh Mentari," kekeh Abidzar.


Abidzar mengejar motor Putra dan menyapa pria itu, membuat Putra terkejut dan menghentikan motornya.


"Elo kenapa?" tanya Abidzar dengan senyuman yang meledek Putra.


"Kayak gak tau aja!" jawab Putra dengan ketus.


Abidzar tertawa dan bercerita, kalau dua tahun itu waktu yang sangat cepat berlalu. Sebab, rasanya baru kemarin dia menikah dengan Cahaya, dan sekarang sudah satu tahun mereka menikah.


Bukankah waktu yang sangat singkat bagi mereka? Namun, Abidzar sangat menikmati hari-hari sekarang.


"Elo enak, baru kenal langsung dinikahin. Lah gue, udah kenal. Tapi, nikahnya dua tahun lagi," sahut Putra dengan lemas.


Abidzar memegang pundak Putra dan berkata, "Sabar, karena kamu belum memiliki penghasilan yang menjanjikan Mentari, dan juha umur mu."


Putra menata wajah Abidzar, karena semua yang diucapkan pria itu ada pada dirinya.


"Zar, gue itu udah banyak penghasilan di cafe yang gue buat sendiri," sahut Putra dengan kesal.


Sebab, Abidzar terlihat sangat menghinanya tidak memiliki penguasaan apapun setiap bulannya.


"Apa? Cafe itu, elo yang buat?" tanya Abidzar dengan sangat terkejut.


Karena, Putra tidak pernah bercerita apapun tentang cafe itu. Yang dia ketahui, hanya pria itu bekerja di sana sebagai kasir.


"Iya," jawab Putra dengan sangat santai.


Putra menceritakan semua pada Abidzar dari awal mula dia membangun cafe, yang hanya berpenghasilan 20 ribu satu hari, dan sekarang sudah capai ratusan juga perbulannya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2