Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Hijab Itu Wajib


__ADS_3

Setelah selesai merokok, Eza dan Abidzar kembali ke pondok dan mereka langsung bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di masjid bersama para santri di sana.


. . .


Putra baru selesai mandi, dan bersiap-siap berangkat ke masjid dengan mengunakan jubah terlihat sangat tampan. Pria itu langsung masuk ke dalam dan menghampiri kedua sahabatnya.


"Masya Allah, ganteng banget pak ustadz Putra," ucap Eza dengan sangat meledek pria itu.


Putra langsung diam, karena dia tahu sang sahabat meledeknya, sehingga dia langsung duduk sambil menunggu adzan berkumandang.


"Putra, kamu Sholeh sekali," ucap Abidzar yang tak kalah dari Eza.


"Teruskan," jawab Putra dengan kesal.


Sebab, ia tidak ingin bercanda untuk hari ini karena keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.


"Yaelah Put, gue dulu gak setegang elo," ucap Eza dengan pelan, agar semua orang tidak mendengarkannya.


Putra hanya diam, karena dia kesal pada sang sahabat yang sudah memprovokasi keadaannya sekarang.


"Putra, tadi udah gue bilang bukan. Kalau, semuanya pasti lancar," ucap Abidzar dengan lembut.


Putra tersenyum, karena hanya Abidzar yang bisa membuatnya tenang sedangkan Eza, malah semakin memperkeruh suasana hatinya.


"Dasar kalian ya, pilih kasih," ucap Eza dengan kesal.


Sebab, ucapannya tidak ada yang masuk ke dalam pikiran Putra malah Abidzar yang baru berbicaralah yang di dengarkan.


Adzan berkumandang, semua orang berkumpul untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah.


. . .


Mentari meminum air hangat dari Cahaya, karena tiba-tiba dia datang bulan. Padahal, masih lama jadwal tamu bulannya.


"Tar, kamu istirahat saja! Ya, mbak mau shalat dulu. Kalau ada apa-apa cepat panggil mbak," ucap Cahaya dengan lembut.


"Baik Mbak," jawab Mentari sambil menahan rasa sakitnya.


Cahaya bergegas pergi dari sana, karena dia hendak melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah selesai, ia langsung bergegas mencari kebenaran sang anak.


Ya, tadi Hazar berpamitan untuk pergi mencari neneknya dan Cahaya langsung bergegas ke pondok di mana mertuanya menginap.


Setelah sampai, dia melihat sang anak tengah makan siang di pangkuan mertuanya. Gadis itu langsung menghampiri anaknya.


"Anak ummi, pandai sekali makan sama Nenek," ucap Cahaya dengan lembut.


"Ummi," ucap Hazar dengan sangat bergembira.


Cahaya langsung duduk di samping sang anak, kemudian dia yang mengambil alih menyuapi putranya.

__ADS_1


"Ummi, seharusnya biar Cahaya saja yang memberikan Hazar makan, karena Ummi pasti lelah. Sebab, baru sampai," ucap Cahaya dengan lembut.


Inem tersenyum, karena dia sangat gembira bisa menyuapi cucunya. Sebab, tidak tahu sampai kapan ia akan bersama sang cucu.


"Kamu ini seperti baru mengenal ummi, sudah berapa kali ummi katakan, ingin merawat cucu ummi sampai besar," jawab Inem dengan lembut.


Cahaya tersenyum dan menganggukkan kepala. Sebab, ia sangat bersyukur bisa memiliki orang-orang yang sayang padanya.


"Assalamualaikum," ucap Abidzar yang baru saja sampai.


"Waalaikumsalam," jawab Inem dan Cahaya bersamaan.


Abidzar langsung mengambil Hazar, dan mencium sang putra dengan sangat lembut. Membuat sang anak kesal.


"Abi, jangan cium!" teriak Hazar.


Abidzar tertawa, karena sang anak sudah tidak mau lagi di cium olehnya, sehingga dia langsung melepaskan gendongan sang anak.


"Abi jahat!" teriak Hazar sambil memeluk sang nenek.


Inem tersenyum, karena cucunya sangat bijak sudah tidak mau di cium oleh siapapun terkecuali sang ummi.


"Anak abi siapa ya?" tanya Abidzar sambil mencari-cari keberadaan sang anak.


Hazar hanya diam, karena dia tidak terlalu dengan pada Abidzar. Sebab, kesehariannya hanya bersama sang ummi.


"Apakah, anak abi tidak ada?" tanya Abidzar lagi, dan Hazar hanya diam sambil tersenyum menatap wajah sang Nenek.


Sebab, anak kecil itu sering berbicara lancar dan terkadang berbicara dengan celat seperti saat ini.


"Euum, cari anak abi," jawab Abidzar dengan lembut.


"Oh," sahut Hazar yang seolah-olah tidak tahu siapa yang tengah dicari sang abi.


Cahaya tersenyum sambil membisikkan sesuatu di telinga sang anak, membuat pria kecil itu langsung menghampiri sang abi.


"Anak Abi, ya Hazar lah," ucap Hazar dengan sangat manja.


Abidzar hanya diam, karena sekarang adalah gilirannya merajuk pada sang anak. Namun, Hazar tidak mengerti dan langsung pergi dari sana.


"Masya Allah, Hazar!" teriak Abidzar sambil berlari mengejar sang anak.


Cahaya hanya tersenyum melihat anak dan suaminya berlari di hadapannya, dan dia langsung duduk. Sebab, kepalanya langsung pusing.


"Cahaya, kamu kenapa?" tanya Inem dengan sangat cemas.


Abidzar langsung menghentikan langkahnya, dan menghampiri sang istri begitu juga dengan Hazar. Sebab, anak kecil itu cemas pada sang ummi.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Abidzar dengan sangat cemas.

__ADS_1


"Tidak apa, mungkin karena sudah satu bulan terlambat datang bulan," jawab Cahaya dengan sangat lembut.


Abidzar tersenyum karena dia akan memiliki anak lagi, juga Inem sangat bahagia kalau Cahaya mengandung.


"Alhamdulillah, karena Cahaya pasti hamil," ucap Inem dengan sangat bergembira.


"Alhamdulillah Ummi," jawab Abidzar dengan lembut.


Sejak tadi Hazar tidak mengerti apa yang diucapkan oleh sang Abi dan neneknya, karena yang ia tahu sang ummi tengah sakit.


"Abi, kenapa kita tidak membawa Ummi ke rumah sakit? Bukankah, tadi Ummi bilang sakit kepala?" tanya Hazar dengan sangat polos.


Abidzar gemas dan langsung menggendong anaknya, kemudian cium pria kecil itu dengan lembut.


"Sayang, Ummi tidak sakit. Tapi, Hazar akan segera memiliki adik," ucap Abidzar dengan lembut.


"Senang sekali, karena Hazar ada teman bermain," jawab Hazar dengan sangat bergembira.


Cahaya tersenyum, karena dia sangat bahagia kalau benar ia tengah mengandung. Sebab, belum memeriksa dirinya hamil tau tidak.


'Ya Allah, semoga hamba hamil karena Hazar sudah besar. Bahkan, tidak menyusui lagi,' batin Cahaya penuh harapan.


. . .


Mentari tersenyum sambil menggendong anak Awan yang masih berusia satu tahun lebih. Sebab, Fatimah ke luar membeli keperluan untuk besok.


"Winda," ucap Mentari dengan lembut.


Ya, anak Awan perempuan yang bernama Winda. Gadis kecil itu tersenyum dan langsung memeluk Mentari.


"Ante, ante," ucap Winda dengan lembut.


"Iya sayang," jawab Mentari dengan lembut.


Winda belum bisa berbicara, dia hanya berbicara sedikit dan masih sangat celat, susah untuk dipahami.


"Sayang sudah makan?" tanya Mentari dengan lembut.


"Dah," jawab Winda dengan polos dan celat.


Mentari sangat bahagia, karena sang keponakan sangat pandai sekarang. Walaupun dia sakit, tetap ia senang ada Winda.


"Winda pakai hijab ya, karena ada Jizan yang bukan mahram kamu," ucap Mentari dengan lembut.


Gadis itu langsung mengunakan hijab pada Winda, dan tersenyum karena sang keponakan sangat cantik dan manis bila mengunakan hijab.


"Walaupun kamu masih kecil, tetap harus memakai hijab sampai dewasa, mengerti Winda?" tanya Mentari dengan lembut.


"I-ya," jawab Winda dengan sangat sulit. Namun, bisa diucapkan.

__ADS_1


Mentari tersenyum, karena sang keponakan bisa menjawab pertanyaan dengan benar walaupun masih sangat celat.


BERSAMBUNG.


__ADS_2