
Cahaya bersama Abidzar duduk di hadapan Inem, dan wanita tua itu tersenyum karena bisa melihat wajah sang menantu yang sangat cantik dan manis.
"Masya Allah, kamu cantik sekali Nak," ucap Inem dengan sangat lembut, sambil terus menatap wajah Cahaya.
Cahaya tersenyum malu-malu karena sang mertua memujinya.
"Ummi, tidak boleh memuji berlebihan," ucap Cahaya yang mengambil makanan untuk sang suami.
Inem tersenyum dan menganggukan kepalanya, kemudian mulai memakan makanannya.
Sedangkan Abidzar masih diam, menunggu susu rempah dari sang istri yang tengah membuatnya.
"Minum Mas susunya," ucap Cahaya dengan sangat lembut sambil meletakkan susu di hadapan sang suami.
Abidzar tersenyum dan langsung meminum susu rempah tersebut sampai habis tak bersisa, membuat Inem terkejut karena biasanya sang anak sama sekali tidak menyukai susu.
"Wah, sejak kapan anak Ummi suka susu?" tanya Inem sambil tersenyum manis pada Abidzar.
Abidzar tersenyum dan melirik ke arah Cahaya, memberikan kode kalau sang istri yang membuatnya suka pada susu.
Inem mengerti, dan kembali memakan makanannya sampai habis dan langsung membereskan bekas makannya.
"Ummi, biar Cahaya saja!" pinta Cahaya yang baru saja menyelesaikan makan.
Inem melarangnya, dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Sedangkan Abidzar langsung bergegas pergi dari sana karena dia ingin menulis komik yang sudah lama tidak di tulis.
. . .
Cahaya bersama Inem duduk di ruang tamu sambil menonton televisi, dan mengobrol bersama. Bercerita tentang masing-masing dan memiliki kesamaan.
"Ummi sangat bahagia kamu menjadi menantu Ummi," ucap Inem dengan sangat lembut.
Cahaya tersenyum sambil terus memijat kaki Inem membuat wanita paruh baya itu sangat bahagia, memiliki seorang menantu yang sangat baik padanya.
"Cahaya juga senang, bisa memiliki mertua yang sangat baik pada Cahaya," jawab Cahaya dengan sangat lembut.
Inem teringat akan kejadian tadi pagi dan berniat untuk bertanya pada Cahaya langsung.
"Cahaya, kenapa tadi pagi kalian pulang cepat sekali?" tanya Inem membuat Cahaya terdiam.
Gadis itu bingung harus menjawab apa, karena dia tidak mau sampai sang mertua tahu yang sebenarnya terjadi di antara dia dan Abidzar.
"Hanya masalah kecil Ummi. Tapi, tidak usah cemas," jawab Cahaya agar sang mertua tidak bertanya lagi padanya.
Inem tersenyum karena anak-anaknya tidak di terpa masalah. Sebab, dari tadi dia terus memikirkan hal itu.
__ADS_1
'Alhamdulilah semuanya baik-baik saja,' batin Inem.
Mereka kembali bercerita bersama dengan sangat baik sehingga Cahaya mengantuk, dan tertidur pulas di sofa membuat Inem tersenyum.
"Cahaya, kamu lucu seperti anak kecil saja! Baru bercerita dan sekarang sudah tidur," ucap Inem sambil menatap wajah sang menantu.
Wanita paruh baya itu memanggil sang anak agar mengangkat tubuh Cahaya, dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamar mereka.
Abidzar merasa lucu, karena Cahaya tertidur seperti anak kecil yang sedang bercerita. Pria itu terus-menerus menatap wajah sang istri yang tertidur pulas.
"Wanita ku sangat lucu, kamu adalah cinta yang selama ini aku cari," ucap Abidzar dengan sangat lembut.
Pria itu mencium pipi Cahaya dan kembali mengerjakan tugas membuat komik, dengan perlahan.
. . .
Jinan menangis di dalam kamar seorang diri, mengingat pertemuan tadi bersama Abidzar dan sangat sedih. Sebab, sang pacar sudah memutuskan hubungan mereka yang sudah di bangun lama.
"Aku tidak akan menyerah, aku akan terus memperjuangkan cinta mu. Sampai kapanpun!" Jinan bersungguh-sungguh mendapatkan cinta Abidzar lagi.
Walaupun dia tahu pria itu sudah menikah, dan tetap saja akan mengejar cinta yang belum bisa dia lupakan begitu saja.
Jinan menelpon seseorang, karena dia ingin segera melancarkan aksi untuk merebut kembali cinta Abidzar.
Eza: Untuk apa?
Jinan: Katakan saja!
Eza dengan polos memberitahu di mana Abidzar mondok, karena dia tidak tahu apa maksud Jinan bertanya padanya.
Jinan tersenyum bahagia karena sudah tahu di mana pesantren Abidzar, dan ia langsung menyusun rencana agar dia bisa bertemu sang mantan setiap harinya.
. . .
Tig hari kemudian . . .
Abidzar dan Cahaya sudah empat hari berada di kota, dan malam ini meraka berdua berjalan-jalan ke pasar malam. Sebab, pria itu yang membawa sang istri.
Abidzar bersiap-siap seperti biasanya, dia mengunakan kemeja dan celana panjang. Namun, kali ini berbeda sedikit karena dia memakai celana yang tidak sempit.
Cahaya tersenyum dan mendekat kemudian memeluk suami bocilnya dari belakang, entah kenapa dia menjadi sangat bucin pada suaminya itu.
"Mbak, jadi pergi atau kita tidur saja?" tanya Abidzar.
Sebab, pria itu akan mengeluarkan sisi nakalnya kalau sang istri sudah memeluknya seperti saat ini.
__ADS_1
"Jadi, ayo kita pergi," ucap Cahaya.
Abidzar tersenyum dan berjalan bersama sang istri dengan perlahan ke luar kamar, dan bertemu sang Abah yang baru pulang dari berceramah.
"Assalamualaikum anak-anak Abah," ucap Toyib dengan sangat lembut.
"Wa'alaikumsalam, Abah," jawab Cahaya dan Abidzar bersamaan.
Abidzar dan Cahaya mencium tangan Toyib karena mereka ingin segera pergi sebelum hari semakin malam.
"Kami pergi dulu Abah." Abidzar dan Cahaya bergegas pergi dari sana, karena takut terlalu malam di pasar malam.
Abidzar membonceng Cahaya dengan sangat perlahan, karena dia tidak ingin membahayakan keselamatan sang istri.
"Mbak, kita sebentar lagi akan kembali ke pesantren," ucap Abidzar sambil menggenggam tangan Cahaya.
"Iya, lalu kenapa?" jawab Cahaya.
Abidzar tersenyum dan mengeluarkan sisi jahilnya dan mengelus tangan sang istri. Membuat Cahaya tahu apa maksudnya.
"Kamu jangan seperti itu," ucap Cahaya dengan sangat manja dan imut di mata Abidzar.
Abidzar tertawa melihat sang istri marah padanya, dan terus melanjutkan perjalanan sampai di tempat tujuan.
Meraka berdua masuk ke dalam sambil bergandengan tangan, karena takut jika mereka terpisah.
"Mbak, mau apa?" tanya Abidzar sambil terus melihat ke sekelilingnya.
Cahaya bingung sehingga dia dan Abidzar terus-menerus berkeliling, sampai keduanya menghentikan langkah tepat di salah satu wahana.
"Yakin mau naik itu?" tanya Abidzar.
Cahaya menganggukan kepalanya, karena dia ingin sekali naik bianglala yang luman tinggi. Sedangkan Abidzar langsung bergidik ngeri karena dia takut ketinggian.
'Ya Allah, semoga kami tidak apa-apa. Jangan sampai Mbak Cahaya tahu kalau aku sebenarnya takut naik wahana itu,' batin Abidzar.
Cahaya dan Abidzar langsung naik dan wahana tersebut mulai berjalan dengan perlahan, sontak Abidzar langsung menutup kedua matanya agar tidak melihat apapun.
"Mas, kenapa tutup mata?" tanya Cahaya dengan sangat penasaran. Kenapa sang suami menutup mata?
"Iya, ada yang masuk mata saya, Mbak," jawab Abidzar dusta, karena dia tidak mungkin jujur.
Msngatakan dia takut ketinggian dan sang istri langsung ilfil padanya.
Bersambung.
__ADS_1