
Sore hari tiba. Abidzar tak kunjung kembali membuat Cahaya cemas. Gadis itu pun bergegas pergi mencari kebenaran sang suami di sekitar pesantren.
"Ya Allah, di mana mas Abidzar?" gumam Cahaya sambil terus berjalan.
Gadis itu menghentikan langkah saat melihat pria yang sejak tadi di cari, berada di pos ronda seorang diri. Dengan perlahan Cahaya menghampiri Abidzar.
"Mas," panggil Cahaya dengan sangat lembut.
Abidzar langsung menoleh dan tersenyum, kemudian bangun dari duduknya dan menghampiri sang istri.
"Mas dari mana saja? Kenapa tidak pulang, hari sudah senja?" tanya Cahaya dengan sangat cerewet.
Abidzar tersenyum dan langsung mencium kening sang istri, kemudian dia menarik tangan Cahaya duduk di pos ronda.
"Kita pulang, saya akan menceritakan semua pada Mbak, apa yang terjadi," ucap Abidzar dengan sangat lembut.
Cahaya menganggukan kepalanya, dan berjalan dengan perlahan pulang ke rumah. Setelah sampai, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar.
Abidzar dan Cahaya mandi bersama, setelah selesai. Mereka berdua duduk di bibir ranjang, karena pria itu ingin mengatakan sesuatu pada sang istri.
"Ayo Mas, katakan saja! Ada apa sebenarnya?" tanya Cahaya.
Gadis itu merasa sangat penasaran, apa yang ingin di ucapkan oleh sang suami. Namun, Abidzar masih diam.
'Sebaiknya aku ceritakan saja, kalau Jinan berada di pesantren ini juga,' batin Abidzar.
Abidzar berpikir kalau dia harus memberitahu Cahaya, karena ia takut akan ada kesalahpahaman di antara mereka nantinya.
"Sebenarnya ... " belum sempat Abidzar meneruskan ucapannya.
Adzan Magrib berkumandang, sehingga dia harus menahan ungkapan sampai mereka selesai shalat berjamaah nanti.
"Kita shalat dulu, setelah itu baru lanjutkan ceritanya," ucap Cahaya sambil tersenyum manis.
"Iya," jawab Abidzar.
Pria itu semakin takut memberitahu Cahaya, karena dia mengingat pertemuan sang istri dan Jinan beberapa hari yang lalu.
'Ya Allah, semoga tidak ada masalah karena kehadiran Jinan di sini,' doa Abidzar dalam hatinya.
Abidzar takut kalau Cahaya akan semakin sakit hati, karena adanya Jinan di pesantren. Sebab, kedua wanita itu tidak akan pernah akur.
Abidzar memilih shalat berdua bersama Cahaya, dan tidak shalat bersama santri yang lainnya. Sebab, dia ingin menceritakan kalau Jinan ada di sini.
Setelah selesai shalat, Cahaya mencium tangan Abidzar dan pria itu mencium kening sang istri dengan lembut. Kemudian meraka berdoa.
"Tadi Mas mau cerita apa?" tanya Cahaya sambil bangun dari duduk.
__ADS_1
"Ayo duduk." Abidzar membawa sang istri duduk di sofa dan saling bertatapan.
"Sebenarnya ... " Abidzar menceritakan semua pada Cahaya.
Karena, pria itu tahu kalau kedepannya akan ada masalah yang berakibat pada hubungan mereka.
"Sudahlah Mas, kalau dia ingin berjalan di jalan Allah. Kenapa kita melarangnya?" ucap Cahaya.
Abidzar tersenyum, karena hati sang istri sangat baik dan tidak memiliki dendam pada Jinan sedikitpun.
"Tapi, kalau sampai Abi dan ummi tahu kalau saya dulu berpacaran dengan Jinan bagaimana, Mbak?" tanya Abidzar.
Cahaya tersenyum dan memegang tangan sang suami dan berkata, "Insyaallah, kejujuran adalah hal terbaik."
Abidzar memeluk sang istri dengan sangat lembut, dan dia mencium seluruh wajah Cahaya secara bertubi-tubi.
"Hati kamu itu terbuat dari apa, Mbak baik bangat?" tanya Abidzar.
Cahaya tersenyum dan menujuk ke atas, dan Abidzar paham kemudian dia memeluk sang istri dan membisikan sesuatu.
"Dasar mesum!" jerit Cahaya.
Gadis itu berlari dan tersangkut rok mukenah, membuat Abidzar tertawa dan tidak menolong sang istri.
"Astaghfirullah Mbak," kekeh Abidzar.
Cahaya langsung bangun dan menatap tajam Abidzar, karena suaminya tidak membantu malah menertawakan dia.
"Maaf," ucap Abidzar dan dia langsung menghampiri sang istri.
. . .
Keesokan harinya ...
Juminten membawa sarapan untuk Jinan, karena gadis itu baik dan membuatnya perhatian.
"Assalamualaikum Jianan," ucap Juminten dengan sangat lembut.
"Wa'alaikumsalam, Ummi." Jinan langsung menghampiri Juminten dan mengambil piring berisi makanan.
"Setelah ini, kita berkeliling dulu ya, baru besok kamu bisa mengajar anak-anak kelas satu," ucap Juminten dengan lembut.
Ya, Jinan masuk pesantren itu dengan alasan mengajar di kelas satu SMP di sini. Padahal, itu hanya alibinya agar muda bertemu Abidzar.
"Ummi pergi dulu, kamu jangan lupa sarapan dan datang ke rumah nantinya." Juminten bergegas pergi dari sana.
Jinan tersenyum licik, karena rencananya akan berhasil satu persatu. Sebab, dia sudah membuat Juminten mempercayainya adalah wanita baik.
__ADS_1
'Baguslah, hanya tinggal menjalankan misi, karena aku bisa membuat semua orang percaya kalau aku wanita baik,' batin Jinan licik.
Gadis itu memang sengaja membuat semua orang menganggapnya wanita baik. Padahal, semuanya hanya alibinya agar mendapatkan pujaan hatinya lagi.
. . .
Pagi ini, Cahaya akan mengajar kelas satu. Sebab, akan ada guru baru yang masuk nanti dan gadis itu sudah tahu siapa yang akan mengajar bersamanya.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Cahaya dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam Bu!" jawab semuanya dengan serempak.
"Alhamdulillah, pagi hari ini kita akan mendapatkan guru baru," ucap Cahaya dengan bergembira.
"Alhamdulillah!" jawab semua anak muridnya bersamaan.
Cahaya menceritakan semua pada anak muridnya, sampai pelajaran pertama mereka selesai.
"Bu, siapa yang akan mengajar di sini?" tanya salah satu santri di sana.
Cahaya tersenyum dan melirik ke arah pintu, terlihat Jinan sudah ada di sana. Gadis itu langsung menghampiri mantan kekasih suaminya itu.
"Ayo masuk dan perkenalkan dirimu," ucap Cahaya dengan sangat lembut.
"Terimakasih," ucap Jinna dengan lembut dan masuk ke dalam.
Cahaya tersenyum karena Jinan bersikap baik dan lembut padanya, tidak seperti pertemuan pertama mereka beberapa hari yang lalu.
"Assalamualaikum semua," ucap Jinan dengan sangat sopan.
"Wa'alaikumsalam Bu!" jawab semua anak murid di sana dengan serempak.
"Perkenalkan nama saya Jinan, yang akan mengajar kalian semua. Semoga saya bisa," ucap Jinan dengan lembut.
"Insyaallah!" jawab semua anak murid di sana dengan serempak.
Jinan tersenyum, karena semua anak murid itu sangat muda untuk di luluhkan. Padahal, ia berpikir akan sangat sulit merebut hati para santri.
"Semuanya, bicara dan kerjakan soal terakhir, saya permisi dulu. Assalamualaikum." Cahaya bergegas pergi dari sana.
Karena gadis itu masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini juga.
Jinan mengambil alih tugas Cahaya dengan sangat bagus, karena semua anak murid yang ada di sana sangat ramah padanya. Padahal, ia baru saja mengajar di sini.
'Dengan mudah aku mengambil hati semua orang yang ada di sini, setelah itu aku akan mendapatkan Abidzar kembali,' batin Jinan licik.
Gadis itu sengaja berpura-pura baik, agar mudah mendapatkan kembali hati Abidzar dan menghentikan posisi Cahaya.
__ADS_1
Gadis itu sama sekali tidak kasihan pada Cahaya, karena dia berpikir wanita bercadar itu yang merebut Abidzar darinya.
bersambung.