
Toyib dan Inem baru selesai menelpon besan mereka yang ada di kampung, dan ingin sekali bertemu mereka lagi. Namun, tidak bisa karena jarak meraka jauh.
"Semoga kita bisa ke pondok lagi," ucap Inem dengan lembut.
"Aamiin," jawab Toyib dengan lembut.
Toyib dan Inem akan berkunjung besok sehabis mengisi acara, dakwah di salah satu kampung. Sebab, mereka belum sempat melihat anak yang sudah pindah ke apartemen.
"Sebenarnya Abah, ummi ingin sekali Mentari tinggal bersama kita. Tapi, Abah dan dia bukan mahram, jadi tidak boleh," ucap Inem lirih.
Toyib juga berpikir sama dengan sang istri. Sebab, ia ingin sekali memiliki anak perempuan yang belum terlaksana.
"Iya, sudahlah lagi pula kita masih bisa menemui nya di ruang Abidzar," jawab Toyib.
Toyib memang menganggap Mentari sebagai anaknya sendiri. Namun, dia menjaga takut adanya perasaan yang tidak seharusnya kelak.
. . .
Pagi ini, Mentari ada banyak pekerjaan. Sebab, buku Abidzar sudah terbit dan akan di pasarkan di beberapa daerah Indonesia.
Karena, itu adalah salah satu tugasnya juga sebagai asisten Exel. Sebab, pria itu tidak mempercayai orang lain mengawasi pemasaran buku.
"Aku bangga pada kak Abidzar, dia bisa membuat buku indah ini," ucap Mentari kagum.
Sebab, ia sudah membaca sebagian buku itu dan sangat menyukainya karena alur dan ceritanya sangat enak.
Mentari tidak menyangka, kalau dia memiliki kakak ipar yang pandai menulis novel dan komik.
"Mentari!" panggil Exel dan Mentari langsung menoleh.
"Iya Tuan," jawab Mentari dengan lembut.
Exel melihat kinerja kerja Mentari sangat bagus, tidak seperti asistennya sebelum. Yang selalu membuat kesalahan sampai dia mengalami kerugian sebanyak seratus juta.
"Ada masalah, Tuan?" tanya Mentari sambil meletakan buku yang di pegangannya.
Exel tersadar dan menggelengkan kepala, karena dia juga lupa untuk apa dia tangan dan memanggil Mentari.
"Kerja mu bagus, aku tunggu di ruangan meeting, karena ada sesuatu hal yang penting," ucap Exel dan Mentari menganggukkan kepala.
Setelah kepergian Exel, Mentari melanjutkan kembali pekerjaannya sampai selesai. Setelah itu, dia langsung menghampiri sang bos di ruangan meeting.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Mentari masuk ke dalam, dan terlihat hanya ada Exel seorang. Tidak ada siapapun, lalu? Kenapa sang bos memanggilnya?
"Masuk! Duduk di sini." Exel menepuk ruang kosong di sampingnya mempersilahkan Menteri duduk.
Gadis itu duduk, dengan rasa yang tidak karuan. Sebab, dia takut berada di dalam satu ruangan hanya berdua dengan pria yang bukan mahramnya.
Exel menyadari kalau Mentari takut padanya, sehingga dia menceritakan semua apa saja rahasia penting perusahaan. Sebab, dia percaya pada Mentari.
"Tapi Tuan, saya tidak bisa menyimpan rahasia sebesar itu," jawab Mentari dengan jujur.
Karena dia takut, membeberkan rahasia itu dengan sengaja atau tidak sengaja pada orang.
"Tidak, aku percaya kamu bisa menjaga rahasia ini. Sebab, banyak orang yang ingin menghancurkan aku, kalau semua saham perusahaan ada padamu, sudah pasti aku akan aman," sahut Exel.
Mentari tidak tega menolak, sehingga dia menyetujui keinginan Exel memegang semua saham perusahaan, senilai enam triliun. Membuat Mentari tidak bisa tidur.
'Ya Allah, semoga uang itu aman dan tidak ada yang tahu, kalau Pak Exel menitipkan padaku,' batin Mentari.
"Tampangnya saja lugu! Tapi, main juga sama si bos," cibir salah satu karyawan.
"Bener banget tuh, berduaan di dalam ruang meeting lama banget. Jelas mereka habis main," tambah yang lain.
Mentari langsung masuk, dia tidak mau memikirkan apa yang di ucapkan oleh mereka. Sebab, semuanya tidak benar.
Dia lama berada di dalam, karena memindahkan semua saham atas namanya. Tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
"Ya Allah, semoga orang-orang itu tahu, kalau aku dan pak Exel tidak berbuat apa-apa," ucap Mentari lirih.
Karena dia harus menebalkan kupingnya, menjadi asisten seorang CEO yang banyak di kagumi para wanita berbagai kalangan.
. . .
Abidzar tersenyum dan bersyukur, atas apa yang ia dapatkan saat ini. Pria itu berbagai makanan dengan para orang yang membutuhkan di jalan.
Sebab, ia baru mendapatkan uang yang lumayan, dan dia tidak lupa kalau ada hak orang lain di dalam rezekinya.
"Terimakasih banyak Nak, semoga Allah selalu melancarkan rezeki kamu," ucap salah satu orang tua di sana.
__ADS_1
Abidzar tersenyum, karena semua orang mendoakan agar rezekinya semakin lancar, dan dia juga meminta agar sang istri mendapatkan doa dari mereka semua.
"Semoga Allah, melancarkan kehamilan istri kamu Nak sampai bersalin nanti!" doa semua orang yang ada di sana dengan serempak.
"Alhamdulillah ya Allah, ada banyak doa untuk Cahaya," ucap Abidzar dengan senang.
Karena uang dengan mudah bisa di cari. Namun, doa tidak mudah di cari apa lagi orang yang ikhlas memberikan doa untuk sang istri.
"Terimakasih atas doa semuanya, saya permisi dulu." Abidzar undur diri.
Karena dia belum masuk kantor dari pagi. Sebab, ia berbelanja sembako untuk berbagai pada para orang yang membutuhkan.
Setelah sampai di kantor, Abidzar berjalan masuk ke dalam dan mendengar desah-desuh isu kedekatan Exel dan Mentari.
Membuatnya tidak percaya, karena Mentari tidak pernah dekat dengan pria manapun apa lagi kali ini mereka berbeda keyakinan.
'Sebaikya aku tanyakan langsung pada orangnya, setelah di rumah nanti. Sebab, bisa jadi itu tadi fitnah,' batin Abidzar.
Pria itu melanjutkan perjalanan masuk ke dalam ruang kerja, dan menyiapkan naskah untuk besok.
. . .
Eza tengah memijat kaki sang mertua, karena dia tidak di izinkan bekerja atau pergi lama-lama. Sebab, ayahnya Jinan sangat menginginkan anak laki-laki. Namun, tidak terlaksana.
Karena dia hanya memiliki satu anak dari istri, dan sudah menjadi kesepakatan bersama mereka hanya ingin memiliki satu anak dalam pernikahan.
"Ayah senang sekali kamu ada, jadi ayah tidak merasakan kesepian lagi," ucap ayahnya Jinan.
Eza tersenyum karena sang mertua sangat menyayanginya, dan dia juga merasa tenang. Sebab, semua keperluan kuliahnya di biayai oleh ayahnya Jinan.
"Eza juga senang Ayah. Tapi, mulai besok Eza sudah mulai kuliah, tidak bisa selalu bersama dengan ayah. Apa lagi Jinan juga sedang hamil," ucap Eza dengan lembut.
Agar sang mertua tidak marah dan mengerti posisinya, yang tidak bisa setiap saat bersama pria itu.
"Tidak masalah, karena kamu juga butuh kuliah untuk masa depan kalian kelak," jawab ayahnya Jinan.
Eza tersenyum, karena mertuanya bisa mengerti dia dengan mudah dan tidak marah.
'Mertua ku ini baik. Tapi, kenapa anaknya seperti ratunya setan. Bahkan, setan saja kalah di buatnya,' batin Eza.
BERSAMBUNG.
__ADS_1