Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Mencoba Menerima


__ADS_3

Awan dan Fatimah menikmati hembusan angin taman, karena mereka ingin menenangkan diri. Sebab, terlalu banyak pikiran yang mereka simpan.


"Mas, andai kita memiliki anak," ucap Fatimah dengan lirih.


Awan langsung memeluk sang suami, karena dia tahu kalau sang istri menginginkan seorang anak dalam rumah tangga mereka.


"Kita harus sabar sayang, karena kita baru saja menikah," ucap Awan dengan lembut.


Fatimah mengerti dan mencoba untuk bersabar, karena buah kesabaran itu indah. Semua akan ada pada masanya.


"Baiklah, mungkin kita harus lebih sabar lagi, karena pernikahan kita masih muda. Tapi, Cahaya saja sudah diberikan momongan," ucap Fatimah dengan lirih.


Awan menasihati sang istri, karena Allah pasti mengabulkan doa mereka berdua, suatu saat nanti.


. . .


Setelah pulang kerja, Abidzar duduk bersama sang mertua dan menceritakan kalau sahabatnya ingin melamar Mentari. Namun, gadis itu tidak bisa.


"Kenapa?" tanya Abidzar dengan lembut.


"Karena, aku belum siap menikah," jawab Mentari dengan jujur.


Dia belum siap, kalau harus menikah dengan pria yang masih muda seperti Putra. Sebab, dia takut pria itu tidak bisa bersikap dewasa.


"Mentari, jangan melihat orang dari umurnya. Tapi, dari sikapnya," sambung Juminten dengan lembut.


Mentari terdiam, dan mengingat umur Abidzar dan Putra sama. Namun, apakah mereka sama?


"Ummi, setiap manusia tidak ada yang sempurna. Tapi, Mentari harap bisa memiliki iman yang baik, walaupun dia tidak kaya," jawab Mentari.


Gadis itu memeluk sang ummi, karena dia mengerti apa yang di ucapkan oleh wanita paruh baya itu.


"Jadi, apakah lamarannya di terima?" tanya Abidzar.


Sebab, dia tidak bisa menunggu lama takut Mentari akan di pinang orang lain, dan sang sahabat akan batah hati sedalam mungkin.


"Bagaimana Mentari?" tanya Juminten juga.


Karena, dia tidak mungkin menjawab pertanyaan yang di tujukan untuk Mentari. Gadis itu bingung harus menjawab apa. Sejujurnya dia tidak mau menikah muda, apa lagi saat ini karirnya baru berjalan.


"Apakah bisa menunggu usia Putra 20 tahu? Aku, ingin dia menyelesaikan kuliahnya dulu," jawab Mentari.


Abidzar tersenyum, dan menganggukkan kepalanya karena dia juga setuju, yang terpenting Mentari sudah menerima lamaran Putra.


"Kalau begitu, kami akan melamar Mentari ke pesantren akhir pekan," ucap Abidzar dengan lembut.

__ADS_1


Juminten dan Mentari menyetujui keinginan Abidzar, dan mereka kembali ke dalam kamar masing-masing.


Mentari menidurkan tubuh di kasur sambil menatap wajah sang ummi dengan dalam, karena dia takut Abi tidak menyetujui lamaran Putra.


"Kamu tenang saja! Karena, abi tahu seperti apa mantan muridnya, dan dia pasti akan merestui kalian. Yang terpenting adalah kamu mau atau tidak?" ucap Juminten dengan lembut.


Mentari menganggukkan kepala, karena dia juga menyetujui lamaran itu. Sebab, Putra adalah pria baik kalau dia perhatikan.


"Baguslah kalau begitu, karena ummi senang kalau kamu mau menerima lamarannya. Sebab, lebih baik berpacaran setelah menikah," ucap Juminten dengan bergembira.


Mentari tersenyum, karena sekarang dia tengah berpikir. Apakah dia bisa meninggalkan pekerjaan untuk sang suami kelak?


'Semoga aku bisa, karena seorang istri memang tinggal di rumah. Bukan bekerja,' batin Mentari.


. . .


Abidzar sangat bahagia, karena sang sahabat akan menjadi adik iparnya. Pria itu langsung menelpon Putra di balkon rumahnya.


Putra: Ada apa?


Abidzar: Lamaran elo, di terima!


Putra terdiam, karena seingatnya dia tidak melamar pekerjaan di manapun, atau melamar gadis.


Abidzar: Mentari nerima, lamaran elo!


Putra melemparkan ponselnya, dan berjoget di dalam kamarnya sendirian, karena dia sangat bahagia lamarannya bisa di terima oleh pujaan hati.


"Astaghfirullah, ponsel gue!" teriak Putra.


Pria itu langsung mengambil ponsel di lantai, dan melihat ponsel tersebut sudah mati dan dia kembali berjoget lagi.


"Kawin! Akhirnya, gue kawin!" teriak Putra.


Bahagianya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi, karena dia senang akan menikahi wanita impiannya. Walaupun Mentari tidak bercadar.


. . .


Cahaya menghampiri sang suami yang ada di balkon, dan Abidzar langsung memeluk sang istri dengan lembut.


"Sayang, adikmu akan menikah dengan Putra satu tahun lagi," ucap Abidzar dengan sangat bergembira.


Cahaya tersenyum dan menari-nari bersama sang suami, karena bisa melihat adiknya menikah dengan pria baik. Ya, Cahaya tahu kalau sahabat suaminya adalah pria baik yang tidak pernah main wanita.


"Alhamdulillah Mas, apa Mentari benar-benar menerimanya?" tanya Cahaya dengan bergembira.

__ADS_1


Abidzar menganggukkan kepalanya, dan mereka kembali berpelukan dengan bergembira. Sebab, sangat bahagia bisa mendengar kabar itu.


"Kalau begitu, kita harus mempersiapkan segala keperluan lamaran untuk Mentari dan Putra," ucap Cahaya dengan lembut.


"Benar, karena ada waktu beberapa hari," jawab Abidzar.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar, dan memesan keperluan untuk lamaran Mentari dan Putra.


. . .


Putra duduk bersama mama dan papanya di sofa dan dia menceritakan semua, kalau ia akan melamar Mentari di pondok pesantren yang pernah menampungnya.


Kedua orang tua Putra sangat bahagia, karena bisa memiliki menantu gadis berjilbab dan memiliki akhlak baik.


"Mama sangat senang, kalau begitu kita harus mempersiapkan semuanya dari sekarang," ucap mamanya Putra dengan sangat bergembira.


"Benar itu," tambah papanya Putra.


Putra sangat bahagia bisa mendapatkan restu dari sang mama dan papa. Sebab, hanya restu meraka yang dia harapkan.


"Alhamdulillah kalau semua setuju, sekarang kita persiapkan saja acara lamaran itu," ucap Putra dengan lembut.


"Setuju!" jawab papa dan mamanya Putra.


Mereka bertiga mulai segala semuanya, dari cincin pertunangan sampai box yang akan mereka bawa. Sebab, semuanya harus sesuai dengan keinginan Mentari.


'Ya Allah, terimakasih karena aku bisa melamar Mentari, gadis pujaan ku. Walaupun umurnya lebih dewasa dariku,' batin Putra dengan sangat bergembira.


. . .


Mentari duduk di sofa, sambil menatap jendela kamarnya, karena dia berharap calon suami yang dipilihkan oleh Abidzar adalah imam yang baik untuknya.


Karena, gadis itu hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupnya. Mentari tidak mau kalau dia harus berpisah hanya karena sang suami bersikap buruk padanya.


'Semoga Allah memberikan yang terbaik untukku,' batin Mentari.


Gadis itu berharap dia dan Putra bisa saling menerima satu sama lainnya, dan bisa seperti Abidzar dan Cahaya.


Walaupun mereka di jodohkan. Tetap, ada cinta yang tumbuh di antara mereka. Bahkan, sudah ada tanda cinta keduanya.


"Aku akan mencoba untuk menerima Putra, walaupun dia lebih muda dariku. Semoga, dia bisa menjadi imam yang baik untukku. Sejujurnya aku penasaran, kenapa dia mau menikah dengan ku, yang jauh lebih dewasa darinya?" gumam Mentari.


Gadis itu bingung, kenapa Putra mau padanya. Padahal, masih banyak gadis yang muda seumur dengan pria itu. Karena, dia merasa sudah tua dan tidak cocok untuk Putra.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2