Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Merasa Aneh


__ADS_3

Satu Minggu kemudian . . .


Hari-hari Cahaya semakin membahagiakan buatnya, karena semakin hari perutnya semakin membesar, yang artinya dia akan segera melahirkan dan bertemu buah hatinya.


'Ya Allah, semoga aku bisa melahirkan seperti Jinan dengan normal, dan bayiku selamat,' batin Cahaya lirih.


Entah mengapa, setiap hari ada rasa cemas menghampiri Cahaya karena hari persalinannya semakin dekat.


Mungkin karena ini adalah anak pertama buatnya, jadi ia sedikit takut dan cemas menjadi satu.


"Mbak! Mentari pergi ya!" teriak Mentari dari dalam kamar.


Cahaya langsung menghampiri sang adik dan memberikan gadis itu bekal, karena Mentari tidak makan apapun sejak pagi tadi.


"Hati-hati, jangan lupa kamu makan bekal ini," ucap Cahaya dengan lembut.


Mentari mencium sang kakak kemudian dia memeluk wanita itu dengan lembut.


"Terimakasih Mbak, karena sudah baik pada Mentari. Seharusnya Mbak beristirahat, bukannya membuat makanan untuk Mentari," ucap Mentari dengan lembut.


Cahaya tersenyum, dan mengangguk kepalanya.


"Sudah sana pergi, nanti kamu bisa terlambat," ucap Cahaya dengan lembut.


Mentari mencium tangan Cahaya dan bergegas pergi dari sana, karena dia benar-benar sudah terlambat.


. . .


Di desa ...


Juminten dan Anto bersiap, untuk beberapa bulan kedepan. Sebab, mereka akan menemani Cahaya melahirkan.


Jadi, mereka menyelesaikan pekerjaan untuk beberapa bulan kedepan, dan meminta Awan juga Fatimah menganggatikan posisi mereka.


Saat pergi beberapa bulan kedepan, walaupun masih lama. Tetap saja mereka mempersiapkan dari sekarang, agar tidak terbentur waktu.


"Ummi, jangan lupa telpon Cahaya dan tanyakan kabarnya bagaimana?" ucap Anto dengan lembut.


"Baik Abi, tadi katanya Cahaya lagi istirahat jadi ummi tidak menelpon dia," jawab Juminten dengan lembut.


Anto menganggukkan kepala, karena dia tahu sang anak harus banyak istirahat sebab tengah mengandung.


"Yasudah, nanti malam saja telpon lagi. Sudah berapa usia kehamilan Cahaya?" tanya Anto sambil mengerjakan tugasnya.


"Tujuh bulan," jawab Juminten dan Anto tersenyum.


Karena, dia sudah tidak sabar lagi ingin meminang cucunya.


'Ya Allah, semoga Cahaya dan calon anaknya selamat dan sehat saat hari persalinan nanti,' doa Anto dalam hatinya.

__ADS_1


Pria itu sangat bahagia, karena akan memiliki cucu pertama dan juga akan segera memiliki dua cucu.


Sebab, Fatimah tengah mengandung anak Awan sekarang.


. . .


Mentari merasa pusing, dan dia berhenti sejenak. Sebab, dia takut masuk rumah sakit lagi.


"Ya Allah, ada apa dengan diriku ini?" tanya Mentari.


Sebab, dia selalu merasa pusing hampir setiap hari. Padahal, ia tidak sakit lagi sudah dinyatakan sembuh.


Lalu, kenapa dia selalu pusing? Kalau tidak sakit.


"Sepertinya aku anemia," ucap Mentari dengan pelan.


Sebab, dia merasakan pusing dan wajahnya juga pucat terlihat jelas kalau dia anemia. Gadis itu langsung menghubungi dokter dan menyuruh datang sehabis kerja nanti untuk di periksa keadaannya.


. . .


Abidzar tersenyum sambil mengerjakan tugas, karena dia membayangkan wajah sang anak mirip dengannya. Sebab, anak Eza sangat mirip dengan pria itu.


"Kalau anakku mirip aku, apakah Cahaya akan marah atau malah senang?" tanya Abidzar dengan lembut.


Abidzar tahu bagaimana perasaan Cahaya saat mengandung, karena hal itu tidak mudah bagi wanita. Pria itu tidak tega melihat keadaan Cahaya yang sekarang, dan ingin sekali menganggatikn posisi sang istri.


Namun, tidak bisa terjadi karena semuanya sudah kehendak sang pencipta semesta ini. Yang ia lakukan sekarang hanya berdoa dan memperhatikan sang istri.


Sebab, pria itu sejak tadi hanya diam saat Exel memangilnya dengan lembut. Abidzar langsung tersadar dan menoleh.


"Ada apa Pak?" tanya Abidzar sambil memegang komik.


"Pemesanan bertambah, kamu ambil lagi buku dan segera selesai semuanya hari ini juga, dan Mentari akan membantu," ucap Exel dengan sangat bergembira.


Pria itu sangat senang, karena pesanan komik semakin banyak dan semakin tinggi pula keuntungannya kalau seperti ini setia harinya.


"Alhamdulillah Pak, kalau pesanan semakin banyak," ucap Abidzar dengan sangat bersyukur.


Exel bergegas pergi dari sana, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Sedangkan Abidzar langsung menambah pekerjaannya.


Abidzar meminta bantuan Mentari dan gadis itu langsung turun tangan. Sebab, Exel tidak percaya pada semua karyawan terkecuali Mentari dan Abidzar.


Mereka berdua juga tidak tahu, kenapa Exel sangat tidak percaya pada semua karyawan yang ada di sana.


"Mentari, kamu hitung saja! Yang lain biar kakak yang mengerjakannya," ucap Abidzar dengan lembut.


"Baik Kak," jawab Mentari.


Abidzar tahu kalau Mentari tidak sehat, terlihat jelas dari wajah gadis itu yang terlihat sangat pucat. Namun, dia tidak ingin bertanya-tanya.

__ADS_1


Takut membuat gadis itu tidak nyaman dan terganggu pada pertanyaannya, sebab itu dia memilih diam.


. . .


Putra memesan kue kesukaan Mentari, dari online. Sebab, nanti sore sepulang dari kerja dua akan mengantar ke apartemen Abidzar.


"Tidak sabar aku ingin bertemu bidadari ku," ucap Putra dengan sangat bergembira.


Pria itu tidak sabar akan bertemu Mentari, karena sudah seminggu mereka tidak bertemu. Bahkan, tidak ada komunikasi juga, yang terakhir saat menjenguk Jinan di rumah sakit.


Sore hari tiba . . .


Putra langsung bergegas pergi menuju apartemen, karena dia tidak sabar bertemu dengan Mentari sang bidadari yang menyinari dunianya.


Setelah sampai, dia langsung turun dan berjalan masuk ke dalam. Putra mengetuk-ngetuk pintu Abidzar dan terbuka.


"Zar, ada Mentari?" tanya Putra dengan lembut sambil berjalan masuk ke dalam.


"Enggak, dia lagi di rumah sakit," jawab Abidzar dengan lembut.


Sontak Putra langsung terkejut, karena sang pujaan hatinya ada di rumah sakit.


"Apa yang terjadi?" tanya Putra dengan cemas.


Abidzar menceritakan semua pada Putra, kalau Mentari pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan.


Ya, sebelum pulang Abidzar bertanya pada Mentari apakah gadis itu sakit atau tidak? Mentari, menjawab tidak dan dia ingin memeriksa keadaan saja di rumah sakit.


"Syukurlah, kalau dia tidak sakit," ucap Putra dengan lega.


Mereka berdua kembali bercerita, karena Putra ingin menunggu kepulangan Mentari setelah itu baru dia juga akan pulang.


. . .


Mentari tersenyum, karena dia hanya anemia dan tidak sakit parah. Sebab, sejak tadi terus berpikir sakit apa, dan kenapa ia selalu pusing


"Alhamdulillah ya Allah, aku tidak sakit parah," ucap Mentari dengan sangat bersyukur.


Gadis itu langsung menebus obat dan pulang, karena dia ingin segera beristirahat di rumah. Namun, saat sampai di rumah.


Mentari terkejut saat melihat Putra ada di sana duduk bersama Abidzar.


"Sudah pulang?" tanya Putra dengan lembut.


Mentari menganggukkan kepalanya dan menghampiri Putra, pria itu pun memberikan kue kesukaanya.


"Terimakasih banyak Put," ucap Mentari dengan lembut.


"Sama-sama, jangan lupa memakan kue itu," jawab Putra dengan senyuman manis.

__ADS_1


Mentari menganggukkan kepalanya, karena dia juga sebagai menginginkan makan kue itu. Namun, selalu saja lupa membeli.


BERSAMBUNG.


__ADS_2