Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Dia Istriku


__ADS_3

Cahaya hanya diam sambil menunggu jawaban dari Abidzar. Namun, pria itu tidak menjawab apapun sehingga hati Cahaya sedikit sakit.


"Abidzar, jawab!" pinta Jinan dan dia memegang tangan pria itu.


Abidzar langsung menghempaskan tangan Jinan dan menatap wajah sang istri, kemudian dia menghela nafas panjang.


"Dia adalah istriku," ungkap Abidzar.


Jinan terdiam dan melihat Abidzar merangkul gadis bercadar yang ada di hadapannya, membuat hatinya nyeri dan berdenyut.


"Abidzar, bagaimana dengan rencana pernikahan kita?" tanya Jinan dengan air mata yang mengalir deras.


Cahaya sangat terkejut mendengar ucapan Jinan, dan menatap wajah sang suami yang ada di sampingnya.


"Mas, jelaskan semuanya," ucap Cahaya dengan lirih.


Entah kenapa hati Cahaya sakit melihat wanita itu menatap wajah sang suami dengan sangat dalam.


"Jinan, aku mau kita putus karena aku sudah menikah dengan Mbak Cahaya," ucap Abidzar dengan tegas.


Jinan tersenyum simpul, karena menebak kalau usia istri Abidzar jauh lebih dari mereka.


"Ternyata istrimu sangat tua, kenapa masih mempertahankan dia?!" tanya Jinan dengan sangat emosi.


Bagaiman dia tidak kesal dan kecewa, sang pacar yang sudah berjanji akan menikahinya mala menikah dengan wanita lain.


"Tutup mulutmu!" serentak Abidzar, sehingga Jinan diam dan menatap tajam ke arah Cahaya.


Cahaya berlari dari sana karena merasa sangat sedih saat Jinan mengatakan kalau dirinya tua, dan tidak pantas untuk Abidzar.


Abidzar menarik tangan Jinan kemudian memutuskan hubungan mereka dan berlari mengejar Cahaya.


"Aku tidak akan membiarkan mu bersamanya!" teriak Jinan, karena dia tidak terima Abidzar memutuskan hubungan meraka.


Jinan menangis tersedu-sedu di bangku sendiri, sambil mengingat janji mereka yang akan menikah di tahun ini. Namun, semuanya musnah dengan seketika.


.


.


.


Abidzar menarik tangan Cahaya saat gadis itu hendak menyebrang jalan, dan memeluk sang istri dengan sangat erat.


"Mbak, saya bisa jelaskan semua di rumah dengan kepala dingin," ucap Abidzar dengan sangat lembut.


Cahaya masih diam dan menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang suami, kemudian Abidzar membawa sang istri kembali ke parkiran motor nya.


Abidzar naik ke atas motor dan Cahaya mengikutinya tanpa mengatakan apapun, karena dia masih sangat sakit mengetahui bahwa sang suami memiliki pacar.

__ADS_1


'Ya Allah, sakit sekali hati ini rasanya mengetahui bahwa Mas Abidzar memiliki pacar,' batin Cahaya lirih.


Gadis itu masih saja meneteskan air matanya, dan Abidzar merasa sangat resah karena sang istri masih diam saja.


'Biarkan dulu dia tenang, setelah di rumah aku akan menjelaskan semua padanya, dengan jujur,' batin Abidzar.


Setelah sampai di rumah, Cahaya langsung masuk ke dalam dan di ikuti oleh Abidzar dari belakang masuk ke dalam kamar.


Inem sedang menyiram tanaman di halaman dan melihat sang anak bersama menantunya masuk dengan terburu-buru, padahal mereka baru saja pergi dan bisa di pastikan kalau mereka juga baru sampai taman.


"Ada masalah apa mereka?" tanya Inem, karena dia sangat penasaran mengapa sang anak terlihat sangat gelisah tadi.


"Ya Allah, jangan hadirkan masalah yang berat untuk mereka berdua," doa Inem.


Wanita itu tidak sanggup kalau Abidzar dan Cahaya sudah di terpa masalah, karena mereka baru saja menikah.


.


.


.


Cahaya melepaskan hijabnya, dan juga cadarnya kemudian duduk di sofa berhadapan dengan sang suami.


"Mbak, saya bisa menjelaskan semuanya," ucap Abidzar dengan sangat lembut.


"Lalu, bagaimana dengan nasibnya?" tanya Cahaya dengan lirih, karena dia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Jinan, karena dia juga wanita.


"Mbak, kami hanya berpacaran. Sedangkan kita? Sudah menikah, itu lebih penting," ucap Abidzar.


Cahaya terdiam dan memikirkan ucapan Abidzar ada benarnya dan dia meminta agar, sang suami meminta maaf kepada Jinan karena sudah melukai hati gadis itu.


"Baik, saya akan meminta maaf pada Jinan nanti. Tapi, kamu tidak marah, 'kan?" tanya Abidzar dengan sangat lembut.


"Iya," jawab Cahaya.


Abidzar memeluk Cahaya dengan sangat erat karena dia tidak ingin sampai sang istri marah padanya.


Walaupun Cahaya berkata sudah memaafkan Abidzar. Namun, hati kecilnya masih sakit akan ucapan Jinan tadi.


'Semoga umur bukanlah penghalang untuk kami saling mencintai,' batin Cahaya.


Gadis itu masih sangat sedih bukan karena Abidzar memiliki pacar. Namun, karena kata-kata Jinan yang mengatakan kalau dia sudah tua.


.


.


.

__ADS_1


Desa . . .


Juminten merasa sangat sedih, karena biasanya ada Cahaya yang membantu memasak. Namun, kini hanya ada Fatimah bersamanya.


"Bibi, jangan bersedih! Ada Fatimah di sini," ucap Fatimah dengan sangat lembut.


Juminten langsung tersenyum, karena sang keponakan juga akan meninggalkannya saat sudah menikah nanti.


"Semua anak bibi akan pergi bersama suami masing-masing, termaksud kamu dan, Mentari." Juminten berucap dengan lirih.


Sebab, anaknya Mentari bersama Awan sekolah di luar kota mendapatkan biaya siswa, karena mereka berdua sangat pandai.


"Sudahlah Bi, Mentari dan Awan bisa pandai menjaga diri. Bukankah pria pandai menjaga adiknya?" ucap Fatimah sambil tersenyum manis.


Juminten sangat merindukan sang anak, yang hidup berjahuan dengannya. Hanya karena melanjutkan pendidikan.


"Bibi yakin kalau Awan akan menjaga adiknya," ucap Juminten dengan sangat lirih.


Hatinya sangat merindukan anak kembarnya itu, karena merasa sudah berpisah tiga tahun dan tahun ini anak kembar itu akan pulang. Sebab, sudah menyelesaikan sekolah mereka.


"Sudahlah Bi, mari kita lanjutkan kembali memasak makanan karena sebentar lagi siang," ucap Fatimah dengan sangat lembut.


Juminten menganggukkan kepala dan melanjutkan memasak makan siang, bersama keponakannya.


. . .


Inem menyusun semua masakannya, karena sebentar lagi mereka akan maka siang bersama. Namun, hatinya sedikit gelisah.


Karena sejak tadi Abidzar dan Cahaya tidak kunjung ke luar kamar, dan dia kembali teringat saat anak-anak pulang dari taman.


"Mereka tadi jadi pergi tidak ya, ke taman? Kok pulangnya cepat sekali," ucap Inem sambil menuangkan minuman.


Inem berjalan dengan perlahan menuju kamar sang anak dan mengetuk pintu, tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.


"Ummi," ucap Abidzar dengan sangat sopan.


"Bawa Cahaya ke luar, kita makan bersama," ucap Inem dan bergegas pergi dari sana, menunggu sang anak.


Abidzar masuk ke dalam kamarnya, dan memanggil Cahaya yang tengah mengerjakan tugas dari laptop.


"Mbak, ayo kita makan siang," ucap Abidzar sambil menghampiri sang istri.


"Ada Abah tidak?" tanya Cahaya dan Abidzar menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, ayo ke luar tidak usah pakai cadar pakai hijab saja!" ucap Abidzar.


Cahaya langsung memakai hijabnya dan bergegas pergi menuju meja makan bersama Abidzar, tanpa menggunakan cadar karena sang mertua pria tidak ada di rumah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2