Cahaya Untuk Abidzar

Cahaya Untuk Abidzar
Terluka


__ADS_3

Abidzar bergegas pulang, saat jam pulang kerja tiba karena dia ingin segera bertemu sang mertua di apartemennya.


Pria itu mengendarai motornya dengan perlahan, karena jalanan sangat ramai orang pulang kantor. Hal itu sudah biasa terjadi saat semua karyawan pulang.


"Aku harus hati-hati," gumam Abidzar sambil terus membawa sepeda motor, miliknya dengan perlahan sampai ke apartemen.


Setelah sampai di rumah, Abidzar langsung masuk ke dalam dan melihat semua keluarganya. Dengan perlahan dia mengucapkan sama kemudian menghampiri sang Abah dan Umminya.


"Anak kami sudah pulang," ucap Toyib dengan lembut.


Abidzar tersenyum karena sang ayah menggodanya, dengan berucap seperti itu dihadapan semua orang.


"Sini, Nak!" pinta Juminten.


Abidzar langsung menghampiri sang mertua, dan mencium tangan wanita paruh baya tersebut dengan lembut.


"Mandi dulu sana, setelah itu berkumpul dengan kami sebelum Magrib," ucap Juminten dengan lembut.


Abidzar tersenyum, dan menganggukkan kepala. Kemudian, bergegas pergi dari sana menuju kamar dan di ikuti oleh Cahaya, karena dia ingin mempersiapkan segalanya untuk sang suami.


Abidzar langsung menghampiri sang istri, karena dia sangat merindukan gadis itu. Padahal, mereka berpisah pagi tadi.


"Rindu sekali aku, dengan istri dan anakku," ucap Abidzar.


Pria itu tersenyum sambil mengelus-elus perut Cahaya dengan lembut, dan juga mencium perut sang istri.


"Mas, kita hanya berpisah pagi sampai sore saja. Malam kita sudah bertemu kembali," ucap Cahaya dengan lembut.


Karena dia tidak nyaman kalau sang suami seperti ini. Padahal, sebelum hamil dia senang diperlakukan manis dan manja.


Entahlah, dia juga tidak tahu setelah hamil semua kesukaannya menjadi tidak ia sukai, dan sebaliknya.


"Mas mau mandi dulu, kamu bersiap di luar saja! Bersiap shalat Maghrib," ucap Abidzar dengan lembut.


Cahaya menganggukkan kepala, kemudian Abidzar masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu menyiapkan baju sang suami. Setelah itu, dia pergi kembali ke ruang tamu.


Mereka bercerita bersama, saat adzan berkumandang semua diam dan bersiap-siap shalat berjamaah.


Setelah Abidzar sampai, mereka langsung melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dengan baik dan lancar sampai selesai.


Setelah itu, mereka makan malam bersama sambil terus bercerita. Sebab, Juminten dan anaknya tidak akan lama di sini.


Setelah semua selesai, Toyib dan Inem berpamitan pulang. Sebab, mereka tidak ada tempat kalau menginap di rumah Abidzar yang hanya memiliki dua kamar tidur.

__ADS_1


"Besok kita berkumpul lagi," ucap Inem dengan bergembira.


"Iya Nem," jawab Juminten dengan lembut.


"Kami permisi dulu. Assalamualaikum," ucap Inem dan Toyib secera bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang.


Setelah kepergian Toyib dan Inem, semua pergi ke kamar masing-masing dan beristirahat. Sebab, besok akan kembali bekerja.


Abidzar belum tidur, karena dia memijat sang istri. Walaupun Cahaya tidak mengeluh sakit, Abidzar tetap memijat istrinya yang tengah mengandung.


"Mas, sudahlah kita tidur. Kamu pasti capek, 'kan?" ucap Cahaya dengan lembut.


Abidzar tersenyum dan langsung menidurkan tubuh di samping sang istri, dan Cahaya tersenyum karena pria itu langsung tertidur pulas.


'Kasihan sekali Mas Abidzar, dia pasti lelah karena seharian bekerja di tambah lagi memijat tubuh ku,' batin Cahaya lirih.


Hatinya sedikit cemas melihat suaminya lelah, dan dia tidak bisa memijat Abidzar karena tengah mengandung, dan hal itu sang suami yang meminta.


"Sudahlah, aku juga tidur." Cahaya langsung menutup mata dan tertidur pulas di samping sang suami.


. . . .


"Abidzar, kamu bekerja di tempat yang sama dengan Mentari. Tolong awasi dia, ummi takut dia salah pergaulan," ucap Juminten dengan lembut.


Sambil melirik ke arah sang anak, yang ada di sampingnya. Membuat Mentari menggelengkan kepala.


"Baik Ummi, karena Abidzar akan menjaga Mentari selalu," jawab Abidzar dengan tutur kata yang sopan.


Juminten tersenyum, karena anaknya belum salah pergaulan. Sebab, ia takut kalau Mentari melepaskan hijab hanya karena ingin viral.


"Ummi tenang saja! Mentari, tidak akan salah pergaulan, apa lagi sampai melepas hijab," sahut Mentari dengan lembut.


Gadis itu tahu, rasa khawatir sang ummi seperti apa. Sebab, tinggal di kota sangat kejam dan berbahaya.


"Ummi, kami akan berjalan-jalan. Apakah Ummi dan Cahaya mau ikut?" tanya Awan.


Pria itu akan membawa Fatimah berjalan-jalan, karena dia ingin membuat sang istri bahagia bersamanya. Walaupun ia tidak memiliki banyak harta.


"Tidak, kami di rumah saja," jawab Juminten dengan lembut.


Karena dia tidak mau pergi bersama sang anak yang tengah mengandung, dia takut terjadi sesuatu pada calon cucunya.

__ADS_1


"Baiklah, kami akan pergi berdua saja!" ucap Awan.


Setelah semua selesai sarapan, Abidzar dan Mentari bergegas pergi menuju kantor dengan kendaraan masing-masing.


Karena, gadis itu masih menjaga jarak dari sang ipar. Walaupun Abidzar menganggapnya sebagai adik, tetap saja mereka bukan mahram, ia tidak mau sampai hal yang tidak diinginkan terjadi.


Setelah sampai, Mentari langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya karena dia ingin mengambil berkas untuk meeting nanti.


"Astaghfirullah!" pekik Mentari.


Sebab, dia tersandung kaki meja dan terjatuh. Membuat kakinya terluka.


"Ya Allah, sakit sekali," ucap Mentari dengan lirih.


Gadis itu berusaha bangun, dan berjalan dengan perlahan karena kakinya terasa sangat sakit.


Saat sampai di depan ruangan meeting, gadis itu menghentikan langkah saat namanya di panggil seseorang dari belakang.


"Mentari!"


Mentari diam, karena dia tahu siapa itu, dan langsung masuk ke dalam. Terlihat sudah ramai orang dan dia langsung duduk di bangkunya.


Tak berselang lama, pintu terbuka Exel masuk dan memulai meeting mereka dengan mudah dan lancar sampai selesai.


"Akhirnya, meeting kita berjalan lancar," ucap Exel dengan lega.


Kini hanya tinggal Abidzar dan Exel juga Mentari di dalam ruangan meeting, karena mereka ingin membahas komik dan novel yang akan terbit beberapa hari kedepan.


"Aku senang sekali, sejak kamu bekerjasama dengan perusahaan ku, semua pelanggan senang. Akan buku-buku mu," ucap Exel dengan lembut.


Abidzar senang, karena semua orang menyukai buku-buku yang dibuatnya. Bahkan, adanya datang hanya untuk bertemu dengannya.


"Alhamdulillah, saya sangat senang. Sebab, buku-buku yang saya buat banyak yang suka," ucap Abidzar dengan gembira.


"Alhamdulillah," sambung Mentari.


Mentari juga senang, karena sang kakak ipar bisa sukses yang artinya kakaknya juga sukses mendukung suaminya sampai seperti saat ini.


"Pak saya permisi dulu," ucap Mentari dengan lembut.


"Baik," jawab Exel.


Mentari bergegas pergi dari sana, karena dia masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan. Sebab, ingin segera pulang menemui sang Ummi dan melepaskan rindunya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2