
Jinan menyadari, kalau semua orang melihat dirinya dengan tajam. Sehingga gadis itu tersenyum membuat Abidzar semakin cemas tidak karuan.
"Nak, kamu sakit?" tanya Juminten dengan cemas.
Jinan tersenyum dan memegang tangan Juminten dan berkata, "Jinan, baik-baik saja Ummi."
Juminten bernafas lega, karena gadis yang di anggap sebagai anaknya tidak sakit dan baik-baik. Lalu, kenapa muntah-muntah.
"Kamu pasti masuk angin, 'kan?" tanya Fatimah dengan cemas.
Sebab, wajah Jinan berubah menjadi pucat setelah muntah tadi. Terlihat jelas kalau dia sedang sakit.
"Iya, aku kembali ke kamar dulu, ya?" Jinan bergegas pergi dari sana, sambil melirik ke arah Abidzar.
Hal itu terlihat jelas oleh Mentari, membuat gadis itu semakin curiga pada Jinan dan Abidzar.
'Mereka pasti memiliki hubungan, aku sangat yakin,' batin Mentari.
Setelah kepergian Jinan, semuanya kembali bercerita sampai Cahaya berpamitan untuk istirahat karena acara tadi sangat melelahkan untuknya.
. . .
Cahaya duduk di bibir ranjang, sambil memikirkan kejadian tadi. Ya, gadis itu melihat kalau sang suami terus-menerus di pandang oleh Jinan.
'Semua ada benarnya, karena sejak kehadiran Jinan. Mas Abidzar jadi berubah dingin padaku, sampai aku hamil pun dia tetap dingin,' batin Cahaya.
Cahaya tahu kalau Abidzar hanya berpura-pura bahagia, agar semua orang tidak tahu apa yang sedang di sembunyikan oleh pria itu.
"Mbak, saya pijit mau?" tanya Abidzar.
Cahaya menganggukkan kepala dan sang suami langsung memijat kaki dan tangannya, sampai dia tertidur pulas.
"Cantiknya istriku," ucap Abidzar sambil menatap wajah sang istri.
Abidzar langsung membenarkan posisi tidur sang istri, kemudian bergegas pergi dari sana. Dia berjalan menuju pos ronda dan duduk di sana.
"Bagaimana cara agar aku bisa menceritakan semua masalahku?" tanya Abidzar lirih.
Pria itu tidak mungkin lari dari tanggung jawabnya, karena dia sudah meniduri wanita. Rasanya ia ingin menyelesaikan permasalah detik ini juga.
Namun, semuanya harus gugur karena sang istri tengah mengandung dan ia tidak mau sampai Cahaya banyak pikiran hanya karena dia.
Tanpa disadari oleh Abidzar, ternyata Mentari melihat dan mendengar ucapannya dan mengambil kesimpulan.
"Dia benar-benar selingkuh, semoga saja mbak Cahaya bisa sabar, menghadapi pria bajingan seperti dia!" geram Mentari sambil bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
Gadis itu berjalan dengan cepat sambil mengepalkan tangan, karena ia tadi mendengar ucapan Abidzar.
"Astaghfirullah, aku harus sabar menghadapi masalah ini. Apa lagi aku sempat emosi dan memaki kakak ipar ku," ucap Mentari.
Gadis itu mengatur nafas agar tenang tidak kalut dalam emosi, dan kembali melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam rumah.
Dia sampai lupa datang ke pos ronda tadi hendak mengambil apa, karena terlalu emosi melihat Abidzar tadi.
"Astaghfirullah, aku lupa harus mengambil apa tadi. Ini semua terjadi gara-gara pria itu!" Mentari bergegas pergi dari sana.
Karena tadi dia harus mengambil tongkat satpam yang tertinggal, karena satpam yang menjaga pesantren tengah melaksanakan tugas di luar pondok.
Setelah sampai, Mentari langsung mengambil tongkat satpam dan bergegas pergi dari sana. Namun, saat ia berjalan tiba-tiba saja ada tangan menariknya dari belakang.
'Astagfirullah!' pekik Mentari dalam hatinya.
Dengan perlahan, Mentari menoleh dan terkejut melihat siapa yang menarik tangannya tadi.
"Astaghfirullah, kamu ya!" seru Mentari.
Seorang gadis tersenyum, kemudian menarik tangan Mentari dan mereka duduk di pos ronda berdua.
"Maaf, saya mengagetkan Mbak," ucap Naimah dengan lirih.
. . .
Inem dan Toyib berpamitan pulang, karena acara sudah selesai. Sebab, mereka masih banyak pekerjaan mengisi acara sebagai pendakwah.
"Aku berharap kamu di sini lebih lama lagi. Tapi, ya sudahlah ... " Anto bersedih karena sang besan pulang.
Toyib memeluk sang besan dengan sangat lembut dan haru, karena sejujurnya dia juga bersedih harus berpisah dari sang sahabat..
"Jangan bersedih! Aku akan sering ke sini, kalau cucuku sudah terlahir," ucap Toyib dengan lembut.
Anto tersenyum, karena sang besan membuatnya senang akan sering berkunjung kalau cucu mereka sudah lahir.
"Kami permisi dulu, Mas." Inem dan Toyib bergegas masuk ke dalam mobil.
"Assalamualaikum Mas, Mbak," ucap Inem dan Toyib bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Anto dan Juminten bersamaan.
Toyib mengemudikan mobilnya dengan perlahan meninggalkan pondok pesantren milik Anto, tanpa berpamitan pada Cahaya. Sebab, gadis itu masih tidur tadi.
"Abah, sebenarnya ummi masih sangat rindu pada anak-anak kita. Tapi, ya sudahlah ... kita juga harus pulang," ucap Inem lirih.
__ADS_1
Sejujurnya Toyib juga merasakan hal yang sama seperti Inem. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena pekerjaan yang sudah menunggunya.
"Tidak apa-apa Ummi, semoga Abidzar dan Cahaya mengunjugi kita lagi, setelah dia lulus bulan depan," sahut Toyib.
Inem tersenyum dan memeluk sang suami, karena dia baru ingat kalau anaknya akan lulus bulan depan. Sudah pasti akan mengunjunginya.
'Tidak pernah berpisah dari anakku, sekali terpisah seperti ini. Jarang berjumpa,' batin Inem lirih.
. . .
Cahaya membuka kedua mata saat mendengar suara adzan berkumandang, dan dia langsung memakai hijabnya kemudian berjalan menuju ruang tamu.
"Kok tidak ada orang?" gumam Cahaya sambil menyusuri ruangannya.
Gadis itu heran, karena tidak melihat adanya sang mertua. Seingatnya tadi mertuanya masih ada, dan ke mana mereka semua?
"Mbak!" panggil Mentari.
Cahaya langsung menoleh dan tersenyum pada adiknya. Mentari menarik tangan sang kakak duduk di sofa, kemudian matanya melirik sekeliling melihat situasi aman atau tidak.
"Ada apa, Mentari?" tanya Cahaya dengan lembut.
Mentari membisikan semua yang ia lihat dan dengar pada sang kakak, membuat Cahaya terkejut dan diam.
Sebab, ia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang di katakan oleh Mentari. Namun, ia harus menutupi aib suaminya.
"Euum, tidak usah di pikirkan. Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti," ucap Cahaya, agar sang adik berhenti.
Menyelidiki kasus yang sama ingin ia selidiki.
"Mbak, kenapa sih! Jangan terlalu mempercayai orang," sahut Mentari kesal.
Sebab, sang kakak tidak mempercayainya membuatnya semakin bertekad untuk mencari bukti.
"Aku akan membuktikan kalau semua itu bener, dan Mbak harus mempercayainya!" Mentari bergegas pergi dari.
Cahaya hanya diam menatap kepergian sang adik, karena dia juga merasa ada yang di sembunyikan oleh Abidzar dan Jinan.
Sebab, saat acara syukuran tadi Jinan terus-menerus menatap sang suami dengan dalam membuatnya semakin gelisah.
'Ya Allah, semoga apa yang hamba pikirkan salah,' doa Cahaya dalam hatinya.
Seakan runtuh dunianya kalau sempat hal itu terjadi. Sejujurnya Cahaya sudah sangat mencintai Abidzar dan dia belum bisa menerima sang suami menjadi milik orang lain.
BERSAMBUNG.
__ADS_1