
Kesibukan di sebuah rumah sakit menyambut kedatangan Malvin dan mamanya. Malvin hendak menemani sang mama untuk berkonsultasi dan menerima pengobatan pada penyakit yang dideritanya. Begitulah alasan sebenarnya kenapa Malvin tidak bisa berkumpul bersama sahabatnya pada akhir pekan ini.
2 hari sebelum Malvin membatalkan janji temunya pada sahabatnya.
Malvin hendak menemui mamanya sebelum ia tidur. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya untuk sekedar menyapa sang mama.
Perceraian orang tuanya membuat Malvin hidup hanya berdua bersama mamanya. Hal itu menjadikan Malvin begitu dekat dengan mamanya.
Dibukanya pintu kamar sang mama, namun kali ini mamanya sudah tertidur dengan lelap. Malvin tetap mendekati mamanya. Ia mengelus lembut samping kepala mamanya.
"Selamat malam ma, selamat istirahat" dengan pelan, Malvin mengecup kening mamanya.
Malvin beranjak. Ia hendak ke kamarnya namun langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah amplop cokelat yang terletak di atas meja rias sang mama.
Malvin mendekati meja rias itu. Dibolak-balikkan amplop yang ternyata berasal dari rumah sakit. Ia lalu membuka amplop itu dan terlihat rekam medis milik mamanya.
Dilihatnya lembar rontgen kepala sang mama "Apa ini?"
Malvin lalu membaca keterangan gambar itu pada selembar kertas yang ada di dalam amplop bersama foto rontgen itu.
"Tumor otak? Jadi selama ini mama-"
Malvin kembali mencermati kalimat demi kalimat pada selembar kertas itu "3 bulan tanpa operasi, dan 1 tahun dengan operasi"
Malvin memejamkan matanya. Air matanya menetes perlahan. Ia begitu terkejut mengetahui kondisi mamanya. Ia takut akan kehilangan sang mama yang begitu disayanginya.
Malvin mendekati mamanya dan menatap wajah mamanya dengan sendu.
"Mama kenapa nggak bilang sama Malvin kalau mama sakit?"
"Aku janji ma, aku akan mengobati penyakit mama bagaimanapun caranya"
***
Nao tengah sibuk dengan konsol game miliknya sambil menunggu kedatangan sahabatnya di apartemen miliknya. Tempat yang biasa dijadikan untuk berkumpul bersama sahabatnya.
Suara gaduh samar-samar terdengar dari dalam apartemen Nao.
"Tau gitu gue numpang aja sama lo" ucap Andi saat datang bersamaan dengan Kevin.
Kevin berdecih "Gue nggak bakal mau kasih lo tumpangan. Jadi cowok harus modal dong"
"Sombong banget lo, kayak mobil itu milik lo sendiri" Andi terkekeh kecil dan hanya ditatap datar oleh Kevin.
Kevin menekan password pada pintu apartemen Nao, namun pintu itu masih tertutup rapat.
__ADS_1
"Lo lupa passwordnya?" Andi menatap Kevin yang kebingungan.
Kevin menggaruk belakang kepalanya "Passwordnya tanggal pertama kali kita sahabatan kan?"
"Bukan ogeb, Nao udah ganti sama tanggal kemenangan basket kita saat kelas 11" Andi menggeser tubuh Kevin. Ia lalu menekan tombol password sesuai tanggal yang diingatnya.
"Iya kah?" Kevin masih bingung dengan password pintu apartemen Nao.
Usai Andi selesai menekan password pintu itu terbuka. Ia memamerkan giginya yang rapi pada Kevin "Apa gue bilang"
Kevin menampol wajah menyebalkan Andi. Ia lalu masuk ke dalam apartemen mendahului Andi.
Andi berdecak kesal "Bukannya terima kasih malah nampol gue" Andi lalu menyusul Kevin masuk ke dalam apartemen.
Andi merangkul Kevin dan mulai menggelitikinya. Inilah kelmahan seorang Kevin. Ia sangat tidak tahan dengan rasa geli.
"Udah dong Andi..."
"Rasain lo, makanya lo jangan nampol gue. Terima saja akibatnya "Andi semakin menggelitiki Kevin.
"Huwa...tolong...ud-udah.." tubuh Kevin menggeliat seperti cacing menahan rasa geli.
"Minta maaf dulu" pinta Andi.
"Iya, iya gue minta maaf...." ucap Kevin namun Andi belum juga menghentikan ulahnya. Nao yang berada di sana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak-kanakan kedua sahabatnya itu.
"Halo bro" Andi tos dengan Billy dan Lando.
Kevin bernafas lega. Tubuhnya jatuh tersungkur di lantai usai Andi menyiksa dengan kelemahannya. Ia memegangi perutnya dengan kedua tangannya.
"Lo jahat banget sih jadi teman" keluhnya.
"Kenapa lo lengser ke lantai?" tanya Lando, ia heran.
Kevin menunjuk Andi dengan jari telunjuknya "Dia gelitikin gue" Andi menjulurkan lidahnya pada Kevin.
Lando menggelengkan kepalanya "Kalian ini dari dulu selalu saja bertengkar karena hal sepele"
Andi dan Kevin hanya nyegir mendengar ucapan Lando.
Lando dan Billy mengajak tos pada Nao.
"Nih main. Lawan gue" Nao melempar konsol game pada Lando. Kini mereka berdua tengah asik bermain bersama. Sementara Billy menjadi penonton mereka.
"Lo dukung siapa Bil?" tanya Andi merangkul Billy. Ia biarkan saja Kevin yang masih terduduk lemas di lantai.
__ADS_1
"Nao dong" Billy menyahuti sambil menunjuk Nao dengan dagunya.
"Tos. Kita sama" Andi dan Billy melakukan tos.
"Nggak ada yang dukung gue?" protes Lando sambil tetap fokus bermain. Mereka justru bergeming.
"Jadi laper gue, ada makanan nggak?" Kevin tiba-tiba berdiri di belakang mereka berempat sambil memegangi perutnya yang lapar. Apalagi setelah dikerjai sahabatnya, ia semakin lapar.
"Cek aja di dapur" Nao menyahuti dengan tatapannya tetap pada layar besar di depannya.
Kevin berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas, namun hanya ada air putih di sana. Ia lalu membuka beberapa lemari di sana, namun ternyata lemari itu sangat kosong melompong.
Nao memang sangat jarang sekali menempati apartemennya. Oleh karena itu di sana juga tidak ada makanan. Apalagi ia dan sahabatnya sudah lumayan lama tidak berkumpul di sana.
Kevin kembali ke depan dengan membawa botol berisi air putih "Nggak ada apa-apa"
"Lo nggak pernah di apartemen lo ya?" Kevin duduk di samping Billy lalu menenggak air putih.
"Nggak" Nao menjawab singkat.
"Beli aja" usul Nao.
"Oh iya dekat sini ada mall kan ya" sahut Kevin.
"Pesan antar aja" Billy ikut menimpali.
"Ah, kelamaan" protes Kevin yang perutnya sudah lapar.
"Yaudah gue beliin. Anggap aja sebagai simbol damai dan permintaan maaf gue karena udah gelitikin lo" sahut Andi. Ia lalu berdiri.
Kevin mengacungkan kedua jempolnya pada Andi "Terbaik memang"
Andi membalasnya dengan mengacungkan salah satu ibu jarinya. Ia lalu beranjak pergi menuju mall untuk membeli makanan berat dan berbagai camilan.
Saat hendak membelikan kue kesukaan Nao di salah satu toko roti, ia melihat teman sekelasnya tengah berada di sana dengan seorang pria. Rupanya ia adalah Adel.
"Adel" ucap Andi membuat Adel dan Daniel menoleh menatap Andi.
"Andi?!" Adel begitu terkejut melihat Andi berada di depannya. Apalagi saat ini ia tidak sedang sendirian, melainkan bersama Daniel. Ia takut Andi akan melaporkan hal itu pada Nao.
Andi mengkerutkan keningnya "Lo sama siapa?"
Adel dibuat kalang kabut dengan pertanyaan Andi yang mendadak mulai mencurigai kebersamaannya dengan Daniel.
***
__ADS_1
Ternyata Andi yang memergoki Adel. Apa jadinya ya kalau seandainya orang itu adalah Nao? Hahah beruntungnya Adel.