Canda Kita

Canda Kita
Motor Gede


__ADS_3

Malam hari tiba. Adel menuruni anak tangga menuju dapur sembari menguap.


Adel sebenarnya sudah mengantuk tapi ia juga merasa lapar, oleh karena itu ia hendak mengambil beberapa camilan.


"Papa, belum tidur pa?" sapa Adel saat melihat papanya tengah duduk di ruang tamu menonton TV.


Hendra menoleh "Adel, papa tidak bisa tidur makanya papa menonton TV saja"


Hendra menepuk sofa di sampingnya "Sini temani papa sebentar nak"


Adel menunjuk arah dapur "Adel ambil camilan dulu ya pa. Em, papa mau minum teh, kopi, atau coklat panas mungkin?"


"Coklat panas boleh" sahut hendra.


"Oke pa, tunggu bentar ya" Adel berlalu menuju dapur.


Sampainya di dapur, Adel mengambil beberapa camilan kesukaannya. Tak lupa coklat panas untuk papanya ia buatkan.


Adel kembali berjalan ke ruang tamu. Ia menaruh camilan dan segelas coklat panas di atas meja, kemudian ia duduk di samping papanya.


"Masih panas pa, tunggu bentar dulu minumnya" Adel lalu membuka sebungkus keripik kentang.


Hendra tersenyum "Iya, makasih ya nak"


Adel mulai memakan keripik kentang itu "Papa nonton acara apaan?"


"Tuh acara debat" Hendra menunjuk TV dengan dagunya.


"Ahh membosankan pa, mending nonton kartun saja" Adel kemudian meminum yogurt rasa blueberry.


Hendra terkekeh kecil "Kamu ya, sudah besar nontonnya kartun mulu"


Adel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "Habisnya seru pa"


"Oh iya pa, dapat salam dari Nao" Adel menaruh botol minum berisi yogurt di atas meja.


Hendra kembali tersenyum "Wah benarkah? Kangen juga papa sama calon mantu. Salam balik ya"


Adel tersedak saat dirinya tengah memakan keripik kentang usai mendengar ucapan papanya.


Dengan segera Hendra buru-buru menyodorkan sebotol yogurt pada Adel.


"Papa ih, ikut-ikutan tante Asri bilang calon mantu" ucap Adel kelepasan.

__ADS_1


"Loh, kalian kan sebentar lagi mau tunangan. Ujian kelulusan juga sudah dekat" sahut Hendra.


Adel hanya berekspresi datar. Ia kembali memakan camilannya "Pa, kakak kapan pulang sih? Kangen banget"


"Katanya pas kelulusanmu dia akan pulang. Nah sekalian hadir di tunangan kalian" Hendra kemudian menyeruput segelas coklat panas buatan Adel.


"Kenapa nggak kakak duluan sih yang tunangan?" tanya Adel kemudian.


"Loh, kakakmu belum bilang ke kamu kalau dia sudah tunangan?" tanya Hendra dan hanya gelengan kepala sebagai jawaban Adel.


"Tapi belum resmi kekeluargaan karena kakakmu dan calonnya sama sama masih di luar negeri" jelas Hendra.


Adel hanya manggut-manggut. Ia kemudian membuang sebungkus keripik kentang yang sudah habis dimakannya ke tempat sampah.


"Pa, aku tidur dulu ya, sudah ngantuk" Adel menyambar sebotol yogurt yang masih tersisa dan hendak dibawanya ke kamar.


Hendra mengelus lembut kepala Adel sekilas "Ya sudah, terima kasih sudah menemani papa"


Adel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Ia kemudian kembali menapaki tangga menuju kamarnya.


***


Hari konser amal. Hari di mana grup bandnya Edgar akan tampil.


Saat sedang asyik memakai liptint, ponsel Adel bergetar beberapa kali. Rupanya Nao mengirim pesan dan juga meneleponnya.


Adel menjawab telepon dari Nao "Sabar elah, bentar lagi gue selesai"


Adel berdecak kesal usai Nao mematikan sambungan telepon. Ia kemudian segera menghampiri Nao.


Adel menatap heran saat melihat Nao yang tidak membawa mobil. Nao justru membawa motor gede yang baru pertama kali Adel lihat dan tahu bahwa Nao ternyata juga menyukai hal itu.


"Tumben pakai motor" ucap Adel kemudian. Ia berjalan mendekati Nao.


"Mobil gue lagi di servis, lo nggak masalah kan?" sahut Nao.


Adel menggelengkan kepalanya "Enggak"


"Sini dulu" pinta Nao.


"Ha?" Adel kembali bingung.


Nao kemudian menarik lengan Adel agar ia berada di dekatnya. Ia hendak memakaikan helm pada Adel. Namun justru tangan Adel refleks menghalangi hal itu.

__ADS_1


"Wait, gue bisa sendiri" Adel mengambil helm dari tangan Nao.


"Sudah, ayo berangkat" sambung Adel seraya memamerkan giginya yang rapi.


Nao terkekeh kecil melihat tingkah lucu Adel. Ia kemudian menyalakan motornya. Adel segera menaiki motor dan duduk manis.


"Nggak mau pegangan?" tutur Nao.


"Modus lo" Adel menepuk pelan punggung Nao.


"Yaudah terserah lo" Nao menancapkan gas dengan kecepatan cukup tinggi hingga membuat Adel refleks memegang samping badan Nao.


"Lo sengaja ya?" ucap Adel dengan nada sedikit kesal.


Nao tersenyum miring. Ia kemudian menarik lengan Adel agar melingkari perutnya.


Desiran aneh itu kembali muncul. Kali ini debaran jantung Adel semakin menjadi-jadi namun disisi lain ia juga takut untuk melepas pegangannya.


Tak butuh waktu lama, mereka berdua sampai di tempat konser. Rupanya kedatangan mereka menarik perhatian orang lain.


Adel hanya bisa terdiam dan menerima kenyataan bahwa sekarang dirinya sudah mulai dikenal oleh banyak orang sama halnya dengan Nao.


Begitu Nao mematikan motornya, Adel turun dan hendak melepas helmnya. Namun sayang, kaitan helm itu belum juga terbuka.


Nao yang melihat hal itu terkekeh dan langsung saja membantu Adel. Lagi dan lagi keduanya berada dalam jarak yang begitu dekat membuat jantung Adel sudah tak karuan.


"Gitu aja nggak bisa, mau sok romantis ya lo" Nao melepas helm yang dipakai Adel dan menaruhnya di atas motor.


Adel mengerucutkan bibirnya sembari melipat tangannya. Ia sedikit kesal namun raut wajahnya terlihat jelas tengah tersipu malu.


Nao menyodorkan tangannya di hadapan Adel. Adel justru memiringkan kepalanya karena ia tidak mengerti dengan maksud Nao.


Nao menghela nafas "Tangan lo"


Adel menunjuk tangannya sendiri "Tangan gue? Buat apa?"


Nao langsung saja meraih tangan Adel dan menggenggamnya. Ia lalu berjalan sembari berpegangan tangan dengan Adel menuju venue konser.


Perasaan Adel semakin campur aduk. Ia hanya menatap tangannya dan punggung Nao secara bergantian. Ia bahkan tidak sadar jika dirinya tengah ditatap banyak orang.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2