Canda Kita

Canda Kita
Romantis, Lucu


__ADS_3

Hari semakin larut. Adel dan Nao memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil Adel hanya terdiam. Sepertinya ada yang mengganjal pikiran gadis itu.


Rupanya Nao menyadari akan hal itu. Ia menoleh sekilas "Kamu kenapa? Lagi mikirin apa?"


"Eung?" ucap Adel seraya menoleh.


"Em, itu, waktu itu kamu ke kafe sama siapa?" tanya Adel kemudian.


"Kafe?" sahut Nao.


"Story kamu yang di kafe itu, sama Si-fa ya?" tebak Adel. Rupanya ia terpikirkan akan siapa orang yang bersama Nao saat di kafe.


Nao terkekeh kecil "Itu Malvin bukan Sifa"


Nao kemudian merogoh saku bajunya dan mengambil ponsel. Ia serahkan ponsel itu pada Adel "Ada fotoku sama Malvin kok. Passwordnya 141926"


Adel tatap ponsel Nao kemudian ia terima. Ia ketik password ponsel Nao dan terbukalah. Adel langsung menuju gallery di mana bukti pernyataan Nao ada di sana.


Dan benar adanya kalau Nao pergi ke kafe bersama Malvin. Hal itu membuat sudut bibir Adel tiba-tiba saja sedikit naik. Perasaannya lega karena kecurigaannya pada Nao tidak benar adanya.


Sampai di depan rumah Adel. Keduanya turun bersamaan. Terlihat di salah satu tangan Nao ada paper bag berukuran sedang.


Nao kemudian menyodorkan paper bag itu "Nih kadomu"


Senyum Adel merekah. Ia menerima bingkisan itu. Ia senang sekaligus tidak menyangka jika Nao ternyata memberikan hadiah untuknya "Makasih"


"Peluk dulu" pinta Nao. Ia menyodorkan kedua lengannya pada Adel.


Adel tak menyambut baik uluran lengan Nao. Ia justru mendekatkan dirinya pada Nao dan, Adel mencium pipi Nao sekilas.


Hal itu membuat Nao diam membeku. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih cepat. Ia tak menyangka Adel akan melakukan hal itu padanya.


Sementara Adel menundukkan kepala menatap ujung sandalnya karena ia sendiri sebenarnya merasa malu, tapi ia lakukan hal itu sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada Nao.


Usai merasa sedkit tenang, Nao mengacak lembut puncak kepala Adel seraya tersenyum manis "Sama-sama sayang, masuk gih"

__ADS_1


Adel hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia kemudian memasuki rumahnya. Bersamaan dengan hal itu, Nao melajukan mobilnya.


Sampainya di dalam kamar, Adel membuka paper bag itu. Terlihat sebuah sweater warna putih tulang dengan bordir warna pink pastel bertuliskan inisial N dan A berukuran kecil di pojokan.


Adel tersenyum tipis melihat bagaimana Nao bisa terpikirkan akan hal itu. Romantis dan juga lucu, pikirnya.


***


Hari ujian tiba. Hampir seluruh murid SMA Helius terlihat sibuk membaca buku sembari menuju ruang ujian.


Begitu pula dengan Adel dan Nao. Mereka terlihat berjalan bersama menuju ruang ujian.


Adel terlihat sibuk berkomat-kamit guna mengingat materi. Sementra Nao berjalan dengan santainya tanpa adanya buku yang dipegangnya seperti murid lainnya.


"Del, berarti bentar lagi kita resmi tunangan dong" celetuk Nao.


Adel hanya samar-samar mendengar ucapan random dari Nao "Aduh, ujian dulu Nao, bahas itu kalau sudah kelar. Kamu mah si ranking satu jadi nggak ada beban" Adel kembali menghafal materi.


Nao terkekeh "Jadi nggak sabar kelar ujian"


Sampai di depan ruang ujian Adel. Adel memasukkan bukunya terlebih dahulu ke dalam tas.


Nao menatap lembut pada Adel "Semangat sayang"


Adel hanya tersenyum tipis. Entahlah, ia merasa sudah terbiasa dengan panggilan baru mereka sekaligus panggilan 'sayang' dari Nao untuk dirinya.


"Aku masuk dulu" ucap Adel kemudian.


"Aku nggak disemangatin?" beritahu Nao, sepertinya ia ingin dipanggil 'sayang' juga oleh Adel.


Belum sempat Adel menjawab, terdengar suara dehaman seseorang dari belakang Nao, siapa lagi kalau bukan Andi yang satu ruangan dengan Adel "Pacaran mulu, ujian dulu bos"


Adel terkekeh sementara Andi mendapat tatapan datar dari Nao.


Andi kemudian menyengir "Bercanda elah. Del, masuk kelas yuk"

__ADS_1


"Oke" Adel kemudian memasuki kelas bersamaan dengan Andi. Ia sengaja meninggalkan Nao yang masih menunggu ucapan semangat dari dirinya.


Nao tercengang, ia kemudian terkekeh kecil. Sekali lagi ia kalah dari Andi.


***


Tak terasa ujian telah berakhir. Perasaan lega dan cemas bercampur jadi satu.


Terlihat Adel, Nao, dan yang lainnya tengah bersama. Seperti biasa mereka hendak mengobrol ringan sebelum pulang.


"Anj*r fisika susah banget. Nggak tahu tuh jawaban gue benar apa nggak" keluh Kevin.


"Sama, pengin nangis gue rasanya" sahut Andi.


"Yaudah nangis saja, entar gue videoin biar viral" Kevin mengambil ponselnya dari saku.


Andi merebut ponsel Kevin "Sekata-kata lo ya"


"Arrghhh sudah dong kalian jangan debat. Nggak capek apa abis mikir keras malah ribut, enakan healing" sela Dita.


"Setuju gue sama lo, cewek galak" sahut Kevin.


Andi mengembalikan ponsel Kevin "Jadi kita mau healing ke mana?"


Kevin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku "Ke puncak seru nggak sih?"


"Boleh tuh, entar nginap di vila keluarga gue saja" beritahu Malvin.


"Nice, mantap tuh" Andi mengacungkan salah satu jempolnya.


"Kalian berdua bisa ikut kan?" tanya Malvin pada Adel dan Nao.


"Bisa kok" jawab Adel.


Setelah semuanya setuju, mereka lanjut membahas rencana liburan bersama mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2