
Adel melepas lengannya dari Daniel. Ia berjalan sedikit menjauh hendak menjawab panggilan telepon dari Nao. Namun sayang, belum sempat ia menjawab, rupanya Nao sudah mematikan sambungan teleponnya.
"Nggak jelas" gumam Adel menatap ponselnya. Ia berbalik badan hendak kembali ke Daniel berada, namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat seorang pria berdiri tepat di depannya.
"Lo, ngapain di sini?" ucap pria itu.
Adel mendongakkan kepalanya. Matanya membulat ketika melihat Nao tepat berada di hadapannya.
Nao berdecih "Jadi teman lo cowok?"
"Nao" gumam Adel dengan suara lirih dan sedikit gemetar karena rasa paniknya.
"Iya, ini gue. Tuh sama mama" Nao menunjuk keberadaan mamanya dengan dagu yang tengah sibuk berbicara dengan rekannya.
Adel menoleh. Ia kembali terkejut melihat keberadaan calon mertuanya ada di sana juga. Ditambah ia baru saja berkencan dengan Daniel. Rasa panik bertambah menyelimutinya. Ia merasa seperti selingkuh. Padahal hubungannya dengan Nao hanya sebatas perjodohan yang belum tahu bagaimana akhirnya nanti.
"Adel" panggil Daniel dari balik punggung Nao. Ia lalu berdiri di samping Adel. Ia menatap heran pada Nao.
"Lo Nao kan? Nao Putra Geofany kapten basketnya SMA Helius. Kalian saling kenal?" Daniel menunjuk Nao dan Adel bergantian.
Nao menarik lengan Adel secara tiba-tiba "Dia tunangan gue"
Mata Adel kembali membulat sempurna. Ia kembali dikejutkan dengan pernyataan Nao yang begitu tiba-tiba.
"Tunangan?" sahut Daniel menatap kedua orang di depannya dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Iya, dia tunangan gue" tegas Nao.
Daniel sedikit tertawa. Ia menoleh sekilas ke samping kemudian menatap Adel "Del, kamu kenal sama Nao?"
Adel terdiam. Ia seakan tidak bisa menjawab pertanyaan Daniel.
"Lo nggak percaya kalau dia beneran tunangan gue?" sahut Nao kemudian.
"Enggak, sama sekali" jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Del, tolong jawab del. Kita baru aja jadian dan ini..huh, fakta macam apa" ucap Daniel kemudian.
"Sorry Daniel, gue, gue..." Adel tak menyelesaikan ucapannya. Ia justru memilih pergi dari sana dan meninggalkan kedua orang tampan itu.
Daniel dan Nao menatap kepergian Adel. Daniel hendak mengejar Adel namun lengannya dicekal oleh Nao "Berhenti"
Nao merapikan kerah Daniel "Thanks pestanya. Gue duluan. Bye" senyum seringai terlihat di wajah Nao.
Nao keluar dari ruangan itu hendak mengejar dan mencari keberadaan Adel. Toilet menjadi tujuan utamanya namun ternyata nihil. Ia lalu memasuki sebuah lift dan menuju ke rooftop namun tetap saja nihil.
Nao kembali menaiki lift dan menuju lobi. Dan benar saja seorang gadis tengah duduk di sofa seraya menundukkan kepalanya.
Nao lalu duduk persis di samping Adel. Ia menatap Adel dengan lekat "Jelasin"
Adel tak segera menanggapi permintaan Nao.
__ADS_1
"Lo pacaran sama dia sedangkan status lo calon istri gue" ucap Nao lagi.
Adel menghela nafas "Emangnya lo pernah anggap gue secara serius. Kita kan cuma akting di depan orang tua kita"
Nao terdiam karena pernyataan Adel benar adanya. Ia dan Adel memang masih berpura-pura.
Nao melipat kedua tangannya. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sofa "Pulang yuk, bosan gue di sini. Mana mama sibuk sama teman-temannya"
Adel menoleh. Ia menatap heran pada Nao. Secara tadi ia meminta penjelasan pada Adel mengenai hubungannya dengan Daniel. Namun usai mendengar ucapan Adel ia tak membahasnya lagi.
Ponsel Adel tiba-tiba bergetar. Terlihat nama Daniel tengah meneleponnya. Nao melirik sekilas "Nggak usah dijawab atau gue bilang hal ini ke orang tua kita"
Adel mengkerutkan keningnys "Jadi, lo nggak keberatan gue sama Daniel?"
"Terserah lo" ucap Nao singkat. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju lift.
Adel hanya melongo menatap kepergian Nao. Adel menggaruk samping kepalanya yang tidak gatal "Aneh"
Kemudian Adel mengirim pesan pada Daniel usai panggilan telepon darinya sempat terabaikan. Ia menuliskan bahwa dirinya pulang lebih dulu. Namun tak ada respon dari Daniel. Daniel hanya membacanya saja.
Adel menghela nafas. Ia keluar dari hotel dan segera menghentikan sebuah taksi. Ia merasa lebih baik ia pulang saja ke rumah dari pada harus kembali ke pesta dan bertemu dengan Asri, calon mertuanya.
Raut wajah bingung dan penuh tanya terlihat di wajah Daniel. Apalagi rencananya untuk memperkenalkan Adel pada keluarganya belum sempat terlaksana. Kini yang tersisa hanya rasa malu yang akan di dapatnya karena ia tidak bisa menepati janji pada keluarganya.
Daniel bahkan enggan untuk naik ke altar untuk sekedar berfoto bersama kakak dan kedua orang tuanya. Ia memutuskan untuk kembali saja ke kamar hotel daripada kakak dan orang tuanya menanyakan keberadaan pacarnya, yaitu Adel.
__ADS_1
***