Canda Kita

Canda Kita
Jangan Jauh-Jauh


__ADS_3

Adel berjalan naik menapaki anak tangga satu persatu menuju kamar Nao.


Sampainya di atas, Adel berjalan mendekati pintu yang letaknya berada di tengah. Kata calon mertunya itu kamar Nao.


Adel mengangkat salah satu tangannya guna mengetuk pintu kamar Nao. Namun ternyata ia masih ragu. Ia urungkan niat itu terlebih dahulu.


"Arrghh...gue nggak bisa. Masa gue masuk ke kamarnya? Yang benar aja lo" ucap Adel pada dirinya sendiri.


Adel melipat kedua tangannya. Ia terlihat berpikir sejenak sembari bersenandung dengan nada datar.


"Gue balik aja deh. Tapi kalau mama sama papa lihat gue balik, yang ada gue bakal diketawain"


"Oke Adel, you can do this. Cuma ngetok pintu doang masa lo nggak bisa"


"Oke" Adel kembali mengangkat salah satu tangannya. Ia kumpulkan keberaniannya dan langsung mengetuk pintu kamar Nao.


Suara ketukan pintu terdengar namun tak ada respon dari dalam. Adel kemudian memegang gagang pintu itu dan membukanya perlahan.


Adel mengedarkan pandangannya pada kamar Nao sebelum akhirnya memasuki kamar itu "Hum, rapi juga"


Adel justru asik melihat-lihat isi kamar Nao yang menurutnya bisa dibilang rapi untuk kamar seorang laki-laki.


Pandangan Adel beralih pada pintu kaca yang terletak di samping meja belajar Nao.


Adel berjalan ke sana dan membuka pintu itu. Didapati Nao tengah menyandarkan badannya dan menatap langit. Rupanya yang dikatakan Asri memang benar adanya.


Nao terlihat sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian khas rumahan. Ia tidak menyadari kehadiran Adel di belakangnya.


Adel berjalan perlahan mendekati Nao. Adel juga bersandar pada balkon mengikuti Nao "Ternyata lo beneran lagi natap langit ya"


Ucapan Adel membuat Nao menoleh menatap gadis itu sekilas lalu kembali menatap langit.


Beberapa saat kemudian, Nao kembali menoleh menatap Adel "HAHHH!!! LO!"


Ternyata Nao baru sadar jika orang itu adalah Adel.


Adel sedikit terkejut. Ia sedikit menjauhkan badannya "Aish, bikin kaget orang aja lo"


"LO! LO NGAPAIN DI SINI?!" tanya Nao dengan suara keras khas orang terkejut.


Adel membuka kedua tangannya menghadap Nao "Wait, wait, santai bro, slow. Biasa aja kali nggak usah nge-gas bisa kan?"


"Habisnya lo datang tiba-tiba, ya gue kaget lah" sahut Nao perlahan menenangkan diri.


Adel menyengir "Ya sorry, mama minta gue buat ke kamar lo karena lo nggak balik-balik dari tadi"

__ADS_1


"Oh gitu" Nao kembali menatap langit usai dirinya sudah tenang dan kembali kalem serta cool seperti biasanya.


"Iya gitu Nao" Adel mengikuti Nao menatap langit.


Tak ada obrolan yang terjadi setelahnya. Keduanya sama-sama menatap langit dalam diam.


"Lo besok gimana? Nggak takut?" Nao memecah keheningan yang terjadi sesaat di antara keduanya.


"Hm...bisa pindah sekolah aja enggak?" sahut Adel. Ia mungkin bercanda.


Nao tertawa "Percuma lah, orang udah nyebar di sosmed. Yang ada anak sekolah lain tahu lo juga Del"


Adel menatap pepohonan di depannya. Ia kemudian menghela nafas yang terdengar pasrah "Yaudah gue ke luar negeri aja"


Nao kembali tertawa. Jawaban Adel menurutnya lucu dan menghibur.


Adel menatap Nao dengan datar "Aish, lo mah malah ketawa. Lo kayaknya suka ya kalau lihat gue kesusahan gini gara-gara lo"


"Kan ada gue. Lo jangan jauh-jauh dari gue. Gue jamin kehidupan sekolah lo aman terkendali" Nao menatap lembut pada Adel.


Adel memutar bola matanya malas mendengar ucapan Nao yang begitu narsis dan terlalu percaya diri.


"Besok gue jemput, nggak usah naik bus, nggak aman" sambung Nao.


"Idih, idih, ceritanya lo mau perhatian sama gue" Adel melipat kedua tangannya di depan dada.


Adel diam sejenak tak menanggapi Nao. Ia justru hanya menatap Nao.


"Alah, bullshit lo" ucap Adel kemudian. Ia kembali menyandarkan badannya.


Nao menoleh ke samping sekilas sembari berdecih. Ia kembali menatap Adel dengan tatapan penuh arti. Sementara yang ditatap pura-puranya sibuk menatap langit lagi.


"Del" panggil Nao.


"Apa?" jawab Adel tanpa mengalihkan pandangannya pada langit.


"Thanks ya" Nao tersenyum tipis.


Adel mengernyitkan keningnya saat menatap Nao "Buat?"


"Semenjak lo hadir di keluarga gue, mama terlihat begitu bahagia. Gue belum pernah lihat mama begitu antusias saat ngobrol sama orang lain" jelas Nao.


Adel tersenyum kaku mendengar penjelasan Nao. Tak disangka Nao akan berterima kasih padanya.


Adel pikir Nao itu sombong dan juga narsis. Namun setelah mengenalnya dalam waktu yang baru sebentar ini banyak sisi baik Nao yang tak disangkanya.

__ADS_1


"Well, sama-sama. Berkat mama lo, gue juga ngerasa punya mama lagi" Adel kemudian tersenyum dengan manis.


Nao menatap gadis di depannya itu dengan lembut. Sementara Adel kembali menatap langit.


Adel menghela nafas "Seru juga lihat langit yang banyak bintangnya gini. Pantesan lo suka"


"Iya, gue suka" Nao menjawab dengan pandangannya justru pada Adel bukan pada langit. Namun Adel tak menyadari akan hal itu.


Keduanya memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga bersamaan usai puas menatap indahnya langit malam.


Obrolan kedua keluarga itu berlanjut sebentar hingga Adel dan papanya berpamitan karena hari sudah semakin larut.


Asri memeluk erat calon menantunya "Terima kasih sayang sudah menemani mama di hari ulang tahun mama. Mama sudah tidak sabar tinggal bersamamu di sini"


Adel kembali tersenyum kaku mendengar ucapan Asri.


Adel melepas pelukan Asri "Sama-sama ma, kalau gitu Adel sama papa pamit pulang dulu"


Asri menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lembut. Adel beralih memeluk Bram untuk berpamitan juga. Diikuti Hendra yang juga berpamitan.


Tibalah Adel berpamitan pada Nao. Adel mengulurkan salah satu tangannya. Niatnya sih untuk sekedar bersalaman pada Nao.


"Gue pulang, thanks ya" ucap Adel.


Nao menyambut baik uluran tangan Adel. Namun ia justru menarik tangan Adel dan membuat Adel jatuh dalam pelukannya.


Adel membulatkan matanya. Ia begitu terkejut dengan perlakuan Nao yang tiba-tiba ini. Ditambah lagi di depan kedua orang tua mereka.


Jantung Adel tiba-tiba saja berdetak jauh lebih kencang.


Reaksi ketiga orang paruh baya itu seketika heboh begitu melihat tingkah anaknya yang sudah berani memperlihatkan kemesraannya pada mereka.


"I Love you" bisik Nao kemudian melepas pelukannya.


Nao menatap gadis yang tengah membeku setelah mendengar bisikannya "Thanks for today. See you besok"


Nao beralih berpamitan dengan Hendra. Ia membiarkan Adel yang tengah diam membeku akibat ulahnya.


"Ayo nak kita pulang dulu" ajak Hendra menyadarkan lamunan Adel.


"Eh, i-iya pa" jawab Adel sedikit terbata-bata.


Adel dan papanya memasuki mobil mereka dan langsung melaju menuju rumah.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2