
Nao duduk di samping Adel. Ia terkekeh kecil seraya mengusap layar ponselnya karena menatap foto Adel.
"Bisa-bisanya lo tidur" Nao menatap Adel lalu menggelengkan kepalanya.
Asri mengirim pesan bahwa ia sedang di bengkel dan kemungkinan baru malam hari tiba di rumah.
Merasa bosan menunggu kehadiran sang mama, Nao memlih untuk menyalakan TV dan menonton kartun. Ia sengaja menekan tombol volume naik agar Adel terganggu karena sedari tadi gadis itu masih saja terlelap.
Adel yang tadinya terdiam mulai bergerak. Sepertinya Nao berhasil membuat gadis itu terganggu.
"Hm...berisik...." tutur Adel dengan matanya yang masih terpejam.
Nao menoleh. Ia tertawa mendapati Adel terganggu karenanya. Suara tawanya membuat Adel membuka matanya. Ia terkejut mendapati Nao tengah duduk di sampingnya.
"Lo, lo ngapain di sini?" tanya Adel kemudian.
"Ini kan rumah gue" jawabnya datar membuat Adel tersadar jika dirinya memang sedang berada di rumah calon mertuanya.
Adel mengulat "Mama lo udah sampai?"
Nao menekan tombol volume turun "Mobilnya mogok. Malam nanti baru sampai"
Adel menyambar tas di sampingnya. Ia lalu mengambil ponsel. Ia hendak mengirim pesan pada papanya.
"Kalau lo mau balik nggak papa" ucap Nao.
"Yang ada mama lo kecewa tahu gue udah balik" Adel menjawab dengan pandangan pada layar ponselnya.
Nao nyengir "Iya juga ya"
"Gue bilang ke papa gue kok, kalau gue lagi di sini" perut Adel berbunyi membuat Nao kembali tertawa.
Adel mendengus kesal. Bukannya diajak makan tapi malah tertawa yang ia dapatkan. Adel melempari Nao dengan bantal sofa.
"Nggak lucu"
Tawa Nao justru semakin keras. Ia lalu mengambil ponsel dan membuka aplikasi pesan antar makanan.
Nao menatap Adel "Lo mau makan apa?"
Mereka bersitatap sekilas. Raut muka Adel masih kesal. Tanpa persetujuan dari Adel, Nao membeli 2 porsi ayam goreng. Rata-rata orang-orang suka makan ayam goreng pikirnya.
Sekitar 15 menit kemudian, suara teriakan pengantar makanan terdengar dari balik pintu. Nao lalu membuka pintu dan menerima pesanannya. Ia bawa ayam goreng itu dan ditaruhnya di meja. Adel hanya menatapnya.
__ADS_1
Nao lalu membuka salah satu kotak berisi nasi, ayam goreng, dan sayuran pelengkap "Lo nggak mau makan?"
Perut Adel kembali berbunyi. Nao kembali terkekeh kecil "Kasihan tuh cacing"
"Lo ngatain gue?"Adel kembali mendengus kesal.
Nao menghela nafas. Ia lalu menyodorkan sesuwir ayam goreng pada gadis itu "Cobain deh, ini enak banget"
Tatapan Adel bergantian pada Nao dan sesuwir ayam itu. Sungguh perutnya sangat menginginkannya namun ia merasa gengsi untuk menyantapnya.
Adel memilih membuka kotak yang satunya "Gue bisa sendiri"
"Laper itu manusiawi, ngapain lo gengsi" Nao lalu menyantap sesuwir ayam yang tadinya hendak diberikan pada Adel.
Adel tak menanggapi ucapan Nao. Ia memilih menyantap makanan itu dalam diam meskipun sebenarnya ungkapan pujian ingin sekali diutarakannya karena rasa ayam goreng itu memang enak seperti ucapan Nao.
Nao tersenyum tipis melihat Adel makan dengan lahapnya.
Usai makan, keheningan kembali menemani mereka. Mereka sama-sama berpura-pura sibuk dengan ponselnya masing-masing. Hingga suara mobil berhasil memecah keheningan di antara keduanya. Akhirnya Asri tiba di rumah.
Asri bergegas masuk ke dalam rumahnya. Senyumannya mengembang mendapati Adel masih berda di dalam rumahnya. Ia lalu memeluk gadis itu.
"Kamu pasti sudah lama menunggu. Maafkan mama, mobil mama mogok" ucapnya.
Asei melepas pelukannya. Ia menatap lembut pada Adel "Iya, sekarang panggil tante mama yah, sebentar lagi kan kamu akan menjadi menantu mama"
Adel tersenyum kaku mendengar tuturan Asri. Sementara Nao hanya menatap datar kedua wanita di depannya.
Asri beralih menatap putranya "Kalian sudah makan?"
"Sudah ma, belum lama juga" jawab Nao.
"Oh iya, tunggu sebentar yah, mama tadi beli puding" Asri kembali ke garasi dan mengambil paper bag dari kursi belakang mobilnya.
Asri kembali ke ruang tamu dengan membawa 2 paper bag. Ia lalu duduk di samping Adel dan membuka paper bag berisi puding "Makanlah"
Dengan pelan Adel mengambil sendok dan memakan puding itu. Begitu pula dengan Nao.
"Adel, besok malam kamu ikut mama sama Nao yah" ucap Asri kemudian.
"Kemana tante, eh...ma?" Adel belum terbiasa dengan sebutan baru untuk Asri.
"Ke acara nikahan anak temannya papa" jelasnya.
__ADS_1
"Maaf tante, ehh...ma, aku besok juga ada acara ke nikahan kakaknya temanku" Adel selesai menyantap puding.
"Wah, sayang sekali. Padahal mama ingin mengenalkanmu pada teman-teman mama dan papa" ucapan Asri membuat Nao memutar bola matanya malas.
Nao berdiri. Ia hendak ke kamarnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Asri.
"Kamar"
"Kamu nanti antar Adel pulang" pinta Asri.
"Iya ma, aku mau mandi dulu"
"Pantesan mama nyium bau aneh dari tadi" Asri menutupi hidungnya.
Nao menatap datar pada sang mama. Ia berlalu begitu saja ke kamarnya.
Asri merangkul Adel. Ia menggenggam tangan Adel "Kamu tidak perlu sungkan sama mama yah, kalau ada apa-apa kamu bisa cerita ke mama"
"Iya ma" Adel jadi rindu akan kehadiran sang mama.
"Nao sama kamu baik kan?" tanyanya kemudian.
"Baik kok ma" Adel nyengir. Meskipun Nao baik, ia lebih sering menyebalkan jika bersamanya.
"Mama sangat berterima kasih sama kamu, berkat kamu sedikit demi sedikit Nao mengubah kebiasaan buruknya"
"Ha? Maksud mama?" tanya Adel, ia tidak mengerti maksud ucapan calon mertuanya.
"Nao itu sangat susah untuk bangun pagi, apalagi bangun sendiri, duh...mama merasa ngeri jika membayangkan lagi. Tapi semenjak mengnalmu, hampir tiap hari dia bangun sendiri, dan lebih awal pula" jelasnya membuat Adel terkekeh kecil mendengarnya.
Seandainya Asri tahu alasan Nao bangun awal, pasti ia akan sangat terkejut bukan.
Keduanya lanjut berbincang ringan. Hingga tak terasa malam semakin larut. Nao mengantarkan Adel pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan hanya diam yang menemani mereka.
"Makasih" Adel menoleh menatap Nao sebelum membuka pintu mobil.
"Hm" Nao menatap lurus ke depan.
Adel berjalan memasuki rumahnya. Nao hanya memperhatikan langkah gadis itu. Ia berlalu melajukan mobilnya usai Adel sudah berada di dalam rumahnya.
***
__ADS_1