
Usai Nao memilih game, kini keduanya mulai bertanding. Ternyata Adel cukup antusias untuk bisa mengalahkan Nao.
Adel cukup bisa memainkan game itu karena dulu sang kakak terkadang mengajaknya bermain untuk menemaninya meskipun ia seringkali kalah.
Nao yang sudah ahli dalam permainan itu hanya bermain dengan santai. Dan benar saja ia dengan mudahnya memenangkan permainan itu.
Adel melempar konsol game di atas sofa "Curang lo, pasti lo sering main game ini makanya gampang banget menang"
Nao terkekeh. Ia menatap gadis yang sedang cemberut itu "Taktik lo salah. Kalau abis ini gue menang lagi, game over" Nao kemudian menyeringai.
Adel melipat tangannya. Ia membuang muka ke samping karena semakin kesal dengan Nao.
Nao menghela nafas "Ngambek lo?"
"Enggak!" jawab Adel tanpa menoleh menatap Nao.
"Yaudah gue kasih tahu caranya" ucap Nao.
Adel langsung menoleh begitu mendengar ucapan Nao. Seketika senyuman senang terukir di wajahnya "Beneran? Awas saja kalau lo ngajarin taktik yang salah"
Nao berdecih "Aman aman. Sini gue ajarin"
Adel mendekatkan duduknya pada Nao saat pria tampan itu mulai menjelaskan padanya. Ia dengarkan dengan seksama penjelasan dari Nao. Sepertinya ia benar-benar bertekad untuk mengalahkan Nao karena tergiur dengan hadiahnya.
Game kembali dimulai saat Nao telah selesai memberikan penjelasan pada Adel. Permainan kali ini akan sengit. Secara Adel sudah tahu bagaimana cara Nao bermain. Pasti akan mudah untuk mengalahkannya, pikir Adel.
Adel terlihat berapi-api saat melawan Nao. Ia kerahkan semua kemampuannya dan pada akhirnya ia menang "Yes, satu sama" karena terlalu senang, ia bahkan tidak sadar jika dirinya langsung memeluk Nao.
Nao diam terpaku. Ia kemudian tersenyum tipis. Adel berlalu melepas pelukannya. Adel hanya memeluknya sekilas. Gadis itu rupanya tidak sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Ia justru kembali mengambil konsol gamenya dan sudah siap untuk permainan selanjutnya.
Babak penentuan dimulai. Adel terlihat semakin yakin dan bersemangat untuk mengalahkan Nao "Siap-siap lo jadi jin pengabul permintaan gue ya"
Nao tersenyum miring "Oke, siapa takut"
__ADS_1
Permainan begitu sengit. Nao yang tadinya bermain dengan santai, sekarang justru sama hebohnya dengan Adel. Namun tetap saja pada akhirnya Nao pemenangnya karena ada satu trik yang tidak ia bagikan untuk Adel.
Nao tesenyum penuh kemenangan. Sementara Adel di sana langsung merajuk dan kesal.
"Ah, ga asik, males banget trik yang tadi nggak lo kasih tahu" Adel melipat kedua tangannya.
Nao justru tertawa mendengar ucapan Adel "Gini saja, karena lo menang satu kali, gue kasih satu permintaan buat lo, gimana?"
Adel menyipitkan kedua matanya "Beneran? Beneran enggak?"
Nao menganggukkan kepalanya "Jadi lo pengin apa dari gue?"
"Em....gue, em...kapan-kapan saja gimana?" Adel menggaruk samping kepalanya.
Nao tak segera memberi jawaban pada Adel. Ia tatap gadis itu dengan lekat "Oke" jawabnya kemudian.
"Sekarang permintaan pertama gue" sambung Nao kemudian.
"Iya, se-ka-rang" tegas Nao.
"Oke, lo mau minta apa? Jangan aneh-aneh ya" Adel menutupi dirinya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Nao refleks terkekeh saat melihat hal itu "Ngapain lo tutupin kayak gitu, gue nggak semengerikan itu kali"
Nao berdeham "Permintaan gue simpel kok, gue cuma mau ngubah panggilan dari 'gue-lo' menjadi 'aku-kamu'."
"Ha? Aku-kamu? Nggak bisa, geli banget gue dengarnya. Nggak, nggak, nggak, akraban 'gue-lo' titik" tolak Adel.
Nao menghela nafas "Hedeh, ini yang menang siapa kenapa jadi dia yang ngatur" gumamnya lirih.
Hujan sudah reda dan bunyi petirpun mengikuti. Nao kemudian mengambil ponselnya yang tadi ia taruh di atas meja. Ia masukkan ponsel itu ke dalam saku dan berdiri "Sudah nggak hujan, aku balik dulu ya. Kamu nggak takut kan sendirian di rumah?"
Adel melongo menatap Nao saat mendengar ucapan pria itu. Ternyata Nao sudah mulai mengubah panggilan mereka berdua.
__ADS_1
Nao kemudian mengacak kasar pucuk kepala Adel "Nggak usah heran, nanti kamu pasti terbiasa. Kalau ada apa-apa telepon aku. Bye Adel"
Nao tersenyum tipis dan melangkah menuju pintu keluar.
"Nao tunggu" Adel berhasil menghentikan langkah kaki Nao.
Nao berbalik menatap gadis itu tanpa berkata.
Adel tak berani menatap Nao. Ia justru menundukkan kepalanya, sepertinya ia malu mau mengatakan kalimat ini "Buat hari ini makasih sudah nemenin gue, hati-hati"
Nao tersenyum tipis mendengar ucapan Adel. Ia justru berjalan kembali mendekati Adel. Ia langsung memeluk Adel dan membuat gadis itu terkejut diam membeku.
"Jadi males pulang. Aku tidur sini boleh enggak?" bisik Nao.
Adel refleks melepas pelukan Nao "Idih, idih, sana pulang. Gue baik-baik saja sendirian"
Nao terkekeh. Sikap Adel yang menggemaskan membuat dirinya enggan untuk beranjak.
"Bercanda sayang, aku pulang dulu ya" pamitnya lagi, ia tatap gadis menggemaskan itu dengan senyum lembut yang menghiasi wajah tampannya.
"Sayang, sayang, ngadi-ngadi banget sih lo. Sana pulang saja, pulang" usir Adel.
Nao terkekeh sembari beranjak dari duduknya. Ia kemudian keluar dari rumah Adel dan melajukan mobilnya menuju rumah. Adel sendiri tak mengantar Nao sampai depan rumah karena dirinya sudah merasa kesal akan ulah Nao.
Adel kemudian menyandarkan badannya pada sofa. Sudut bibirnya sedikit naik saat mengingat kejadian beberapa detik yang lalu.
Mata Adel melirik ke kanan dan ke kiri. Ia merasa suasananya menjadi sepi usai Nao meninggalkan rumahnya. Rasanya hening sekali karena cuma ada dirinya di rumah itu.
"Jadi sepi banget" ucap Adel pada dirinya.
Gadis itu beranjak dari ruang tamu dan memilih pergi ke dapur untuk sekedar makan makanan ringan.
***
__ADS_1