Canda Kita

Canda Kita
Akhirnya, Resmi


__ADS_3

Di ruang tamu. Mereka kembali melanjutkan obrolan mereka. Tak lupa beberapa gelas jus alpukat dan beberapa camilan, mbok Tiah sajikan untuk menemani obrolan mereka.


Glen meminum jus alpukatnya "Del, kamu apakan kamarku?"


Adel yang hendak mengambil keripik terhenti dan justru menyengir "Waktu itu aku, pinjam PS nya kak Glen" Adel sedikit susah menelan salivanya.


Glen menghela nafas "Pantesan berantakan"


Adel kembali menyengir. Ia lupa jika ingatan sang kakak begitu tajam. Padahal itu hanyalah hal kecil dan kamarnya pun sudah lama tidak dihuni.


"Itu gara-gara aku kak, waktu itu aku anterin Adel, dia sendirian di rumah ditambah lagi hujan deras" timpal Nao.


Glen menyipitkan matanya. Ia tatap Nao dengan seksama. Tatapan yang mengerikan dan mengintimidasi. Sepertinya ia curiga "Kamu apain adik aku?"


"Nao nggak apa-apain aku kok kak" buru-buru Adel menyahuti.


Glen menoleh menatap Adel "Beneran?"


Adel menghela nafas "Beneran kak, makanya aku pinjam PS mu"


"Hem??" Glen kembali menatap Nao. Ia kemudian menunjuk kedua matanya dan bergantian menujuk mata Nao. Sepertinya ia akan mengawasi Nao.


Nao menyengir. Baru kali ini ia merasa terintimidsi oleh seorang pria. Ternyata seperti inilah rasanya jika kekasihnya punya kakak laki-laki. Bisa berteman, tapi bisa juga seperti musuh.


Hendra yang sedari tadi menonton dan mendengarkan ocehan mereka terkekeh "Astaga Glen, mana mungkin Nao seperti itu dan sebentar lagi kan mereka akan tunangan"

__ADS_1


Glen menggaruk samping kepalanya "Iya sih pa, cuma jaga-jaga saja. Anak jaman sekarang kalau nggak diawasi bisa kebablasan"


Glen kemudian mengulurkan tangan di depan Nao. Ia mengajak Nao untuk bersalaman. Nao terima saja uluran tangan sang kakak ipar "Pokoknya jagain Adel baik-baik"


Nao mengangguk dengan yakin meskipun ekspresinya masih kaku.


"Dua hari lagi ya, kalian tunangan" ucap Hendra kemudian.


"APA?!!" Nao dan Adel sama terkejutnya. Secepat inikah pertunangan mereka akan dilaksanakan, padahal ujian baru saja selesai.


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Setelah kalian tunangan sorenya aku harus kembali" betritahu Glen.


"Iya benar, orang tuamu juga sudah tahu dan sudah setuju untuk mempercepat pertunangan kalian" sambung Hendra.


"Lebih cepat lebih baik" sahut Nao membuat Hendra dan Glen yang mendengar jawabannya merasa puas.


"Istirahatlah, besok kalian akan sibuk" Hendra menatap Nao dan Adel bergantian.


Nao berdiri. Ia kemudian berpamitan dengan Hendra dan Glen. Usai berpamitan, hanya Adel yang mengantar Nao menuju keluar rumah.


Sampai di halaman depan. Adel hanya menundukkan kepalanya "Mereka belum tahu kalau kamu akan ke luar negeri?"


Nao menatap gadis itu. Tangannya mengelus lembut pipi Adel "Belum sayang, besok setelah tunangan akan aku jelaskan pada mereka"


Adel beralih memeluk Nao. Dirinya masih belum bisa menerima kalau Nao akan jauh darinya.

__ADS_1


***


Hari pertunangan Adel dan Nao.


Pertunangan yang dilaksanakan secara sederhana. Dekorasi simpel di halaman belakang rumah Adel dengan bertemakan garden engagement. Hanya ada keluarga besar dan teman dekat dari kedua mempelai.


Sengaja hal itu dilakukan karena permintaan dari Adel. Semula papanya ingin membuat acara pertunangan yang megah nan mewah, apalagi Adel adalah anak perempuan satu-satunya.


Namun hal itu Adel tolak, karena menurutnya pertunangan seperti itu akan memakan banyak biaya sedangkan yang terpenting adalah ikatan antara dirinya dan Nao bukan tentang seberapa megah acaranya.


Acarapun dimulai begitu kedua keluarga sudah siap. Acara sakral yang sederhana tapi bermakna.


Usai beberapa patah kalimat dari kedua belah pihak keluarga ucapkan, kini saatnya bagi Adel dan Nao untuk memberikan pertanda bahwa mereka telah resmi bertunangan.


Tukar cincin menjadi simbol pengikat di antara keduanya.


Tak lupa air mata Adel ikut serta menemani. Ia terharu sekaligus tidak menyangka jika perjodohan konyol beberapa waktu yang lalu akan berakhir bahagia seperti ini.


Ia juga tidak menyangka jika dirinya ternyata telah mencintai pria yang sedang berdiri di depannya saat ini.


Konyol memang, dulu keduanya saling menolak perjodohan ini dan saling tidak suka, tapi ucapan Asri tentang cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu terbukti benar adanya.


Usai selesai bertukar cincin, kini mereka resmi bertunangan. Tepukan tangan meriah, senyuman bahagia dari semua orang, membuat hari itu tidak akan pernah dilupakan oleh Nao dan Adel.


Setelahnya, acara berlanjut.

__ADS_1


****


__ADS_2