Canda Kita

Canda Kita
Permintaan Adel


__ADS_3

Acara pertunangan telah usai. Kini hanya tinggal keluarga inti dari Nao dan juga Adel. Mereka tengah mengobrol ringan.


Adel yang duduk di samping Nao tengah meliriknya. Ia senggol lengan Nao sekilas. Sepertinya ia memberikan pertanda untuk Nao agar membicarakan perihal Nao yang akan berkuliah di luar negeri.


Nao menoleh seraya menaikkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti pertanda yang diberikan oleh Adel.


Adel menghela nafas "Katanya mau ngomong"


Nao mengkerutkan keningnya "Ha?"


Adel kembali menghela nafas "Kuliahmu"


"Oh" jawab Nao dengan singkat. Paham akan apa yang dimaksud Adel.


Nao menatap beberapa orang dewasa itu. Setelahya ia berdeham "Ma, Pa, kak Glen, ada sesuatu yang mau aku sampaikan"


Keempat orang dewasa itu menghentikan obrolan ringan mereka dan beralih menatap Nao dengan fokus.


"Iya, nak, ada apa?" tanya Asri.


"Kamu mau segera menikah dengan Adel? Sabar dulu Nao, tunggu kalian lulus kuliah" Bram, papanya Nao ikut menimpali dengan candaan sekaligus menggoda Nao.


"Bukan itu pa, tapi hal yang mau aku bicarakan berkaitan dengan hal itu" ucap Nao.


Keempat orang dewasa itu hanya menganggukkan kepalanya sekilas, tatapan mereka berubah menjadi serius.


"Sebelumnya aku mau minta maaf karena aku baru bilang sekarang. Jadi, aku akan kuliah di luar negeri dan dalam waktu dekat ini aku akan segera berangkat" jelas Nao.


Adel yang duduk di samping Nao hanya menundukkan kepalanya dengan menatap ujung high heelsnya.


Sementara keempat orang dewasa itu diam membisu tanpa kata. Lidah mereka rasanya kelu, mereka terkejut akan hal yang baru saja Nao ucapkan.


"Lantas bagaimana denganmu, Adel?" tanya Asri.


Adel mendongakkan kepalanya "Aku tetap kuliah di sini ma, aku sudah mendaftar hanya menunggu pengumuman saja"


"Kamu tidak mau ikut Nao? Apakah tidak apa-apa Nao berada jauh darimu?" tanya Asri lagi.


Adel tersenyum tipis "Aku tidak apa-apa ma, pa, kak Glen. Kan kalau ada waktu kita bisa ketemu"


Usai mendengar ucapan Adel, Nao menggenggam erat tangan Adel. Ia menatap Adel dengan lembut.


Asri menghela nafas ringan "Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, kami percaya"


Berbeda dengan Asri, Bram di sana menatap malas pada putranya "Ada-ada saja kamu Nao, kenapa nggak bilang dulu sama mama sama papa, untung Adel sabar"


Nao tersenyum kaku "Maaf pa, waktu itu mendesak"


Bram hanya bisa menggelengkan kepalanya "Dasar anak nakal"


Glen yang duduk di samping Hendra berdiri. Ia kemudian berjalan mendekati Adel dan duduk persis di sampingnya "Del, kamu harus ikut Nao bagaimana bisa kamu membiarkan dia jauh darimu"

__ADS_1


Adel tersenyum lembut "Tidak apa kak aku baik-baik saja, lagian kalaupun menyusul Nao, tidak mugkin dalam waktu dekat ini"


“Sudahlah Glen, biarlah mereka berdua mengurus hal itu. Del, Nao, papa percaya sama cinta kalian” timpal Hendra, tak disangka ternyata ia mendukung.


***


Hari keberangkatan Nao. Padahal upacara kelulusan sekolah masih belum terlaksana.


Ternyata secepat ini Nao akan berangkat ke luar negeri tepatnya di Inggris.


Asri, Bram, dan juga Hendra tak ikut mengantarkan keberangkatan Nao. Hanya ada Nao, Adel, dan para sahabatnya.


Sudah pasti Malvin menjadi sopir. Mereka duduk sama persis saat mereka pergi ke puncak.


Di kursi tengah ada Adel dan Nao yang sepanjang perjalanan tak melepas genggaman tangan mereka.


Hingga tak terasa mereka tiba di bandara.


Malvin dan Andi sudah turun dari mobil terlebih dahulu. Namun entah kenapa langkah kaki Adel terasa berat untuk keluar dari mobil.


Adel merasa jika ia keluar dari mobil, maka waktu kebersamaannya dengan Nao akan usai.


“Del, sudah sampai, turun gih” protes Kevin dari kursi belakang.


Dita menepuk lengan Kevin sekilas “Sabar elah, lo nggak lihat mata Adel berkaca-kaca” ucap Dita dengan lirih.


Kevin refleks menatap mata Adel yang benar adanya terlihat akan jatuh cairan bening dari pelupuk matanya.


Adel mendongakkan kepalanya. Wajahnya sendu. Ia menatap Nao dengan lekat. Kemudian Adel menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju.


Bujukan Nao berhasil. Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan masuk ke bandara.


Tak lupa barang bawaan Nao dibantu dibawakan oleh sahabatnya.


Tentu saja Adel bergelayut manja di lengannya Nao.


Sampi pada akhirnya mereka tiba di dalam bandara di mana hanya sampai di sana saja mereka bisa mengantar Nao.


Nao melepas lengan Adel. Ia kemudian memeluk sahabatnya satu persatu.


Dimulai dari Malvin “Baik-baik di Inggris”


“Thanks Malvin”


Nao beralih memeluk Andi “Bakal sepi nih nggak ada lo bareng kita-kita. But best luck for you, Nao”


Nao tersenyum tipis “Nggak bakal sepi kan masih ada Kevin”


Kevin menatap datar pada Nao “Nggak jadi terharu gue kalau kayak gini”


Nao kemudian memeluk Kevin “Sorry bro, becanda kali”

__ADS_1


“It’s okay bro. Jaga hati saja lo, kalau nggak nanti Adel gue ambil” Kevin terkekeh ringan.


Dita memutar bola matanya jengah mendengar ucapan narsis dari Kevin “Sadar diri kali”


Ternyata Kevin samar-samar mendengar ucapan Dita. Ia justru menatap Dita dengan tajam.


Merasa diperhatikan, Dita menutup diri di belakang Adel “Kok serem ya, haduhh”


Kevin kembali menatap Nao “Buruan gih pamitan sama tunangan lo, kasian dari tadi dianggurin, entar gue apelin lohh”


Nao hanya terkekeh tipis, ia kemudian berbalik dan menatap Adel. Mereka saling berhadapan dan bersitatap.


Tatapan dalam dari keduanya. Tak bisa menahan rasa sedih, air mata Adel pun turun dengan sendirinya.


“I’m gonna miss you so much” ucap Adel.


Nao mengelus lembut pipi Adel. Ia seka air mata Adel yang membasahi pipinya “Aku juga. Tapi Del, aku cuma pergi sebentar, aku janji aku akan terus memberimu kabar dan jika ada kesempatan aku pasti akan pulang dan menemuimu”


Nao kemudian memeluk Adel. Tangisan Adel semakin menjadi dalam pelukan Nao. Pelukan terakhir yang bisa ia rasakan sebelum akhirnya mereka harus terpisah jarak untuk sementara waktu.


Nao melepas pelukannya. Ia kembali menyeka air mata Adel “Jangan sedih lagi, um? Aku cuma sebentar”


Adel menganggukkan kepalanya pelan “Tapi Nao, aku ingat aku masih punya satu permintaan, bisakah aku pakai sekarang? Ingin rasanya aku minta agar kamu tidak usah pergi ke luar negeri”


Nao terkekeh kecil. Di saat seperti ini Adel masih sempat becanda “Ya nggak bisa sayang, tapi kalau kamu punya permintaan lain katakanlah”


“Em, permintaanku adalah aku minta satu permintaan lagi boleh?” ucap Adel dengan wajah polosnya.


Nao kembali terkekeh kecil. Ia mengacak lembut puncak kepala Adel “Boleh sayang”


Raut muka Adel seketika senang “Beneran boleh? Yeay”


Nao menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menatap lekat pada Adel “Aku mencintaimu, Adel”


Ucapan yang baru pertama kali Adel dengar dari Nao. Tak disangka pria itu akan mengatakan hal romantis seperti itu.


Hal itu tentu saja membuat Adel kembali terharu. Air mata kembali mengalir “Aku juga mencintaimu Nao”


Keduanya kembali berpelukan untuk terakhir kali sebelum mereka terpisah jarak untuk sementara waktu.


***


THE END


Udah berakhir ya gesss, terima kasih buat semua dukungannya selama ini. Maaf kalau ada salah kata dan alur dalam pembuatan novel ini.


Terima kasih sudah mengikuti novel pertamaku ini dari awal sampai akhir. Cinta kalian banyak banyak.


Sehat selalu buat kalian. Semoga aku bisa buat novel baru lagi yaa.


See you soon semuanya ☺️

__ADS_1


__ADS_2