Canda Kita

Canda Kita
Seorang Dermawan


__ADS_3

Halo, m**aaf ya....Alur cerita sedikit berubah ❣**


Part 'Kita Jalan' aku hapus karena menurutku terlalu cepat hehe dan Karakter si Nao berlebihan haha. Nanti ada banyak bagian yang diganti ya...


Harap membaca lagi part ini yah. Maaf banget 🙏🏻 dan makasih buat dukungan kalian ❤


***


Mereka memilih menghentikan rasa penasarannya dari pada membuat Nao kesal. Kini mereka tengah bercanda tawa bersama dan memilih membicarakan hal yang tidak penting.


Di tengah candaan mereka, Billy beranjak dari duduknya "Gue pulang duluan ya, mau jemput adek gue les" pamitnya dan diangguki keempat temannya.


"Makasih ya" sambungnya. Kevin mengangkat salah satu tangannya sekilas.


Tak lama kemudian, Lando dan Kevin juga ikut berpamitan. Lando sendiri rupanya ada kencan dengan kekasihnya. Sedangkan Kevin, ia sudah di bom pesan oleh sang mama.


Di ruangan itu hanya tersisa Andi dan Nao. Mereka membereskan sampah dan sisa remahan kecil yang berserakan di atas meja dan juga lantai.


Andi bertugas membuang sampah. Nao sendiri mengambil vacum cleaner untuk membersihkan ruang tamu.


Usai membersihkan, Andi duduk bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.


"Lo nggak mau balik?" Nao heran melihat Andi yang masih di apartemennya, memejamkan matanya pula.


Andi membuka matanya "Entar dulu"


Nao meyambar jaketnya yang ada di sofa. Ia lalu memakainya. Ia hendak pulang ke rumahnya. Ia biarkan saja Andi di sana. Toh di apartemennya tidak ada apa-apa.


Andi menatap Nao yang sedang memakai jaketnya "Gue lihat Adel tadi"


"Dia di mall sama cowok, katanya sih teman lesnya. Tapi pas tadi gue tanya, dia gugup seperti orang yang kepergok selingkuh" Andi terkekeh kecil mengucapkan kalimat kepergok selingkuh.


Nao yang sedang memakai salah satu lengan jaketnya berhenti "Lo tahu siapa cowok itu?"


"Sayangnya enggak"


"Biarin aja" Nao kembali memakai jaketnya.


Andi mengkerutkan keningnya "Lo nggak mau negur dia? Secara dia kan pacar lo"


"Nggak penting" Nao berlalu keluar dari apartemennya meninggalkan Andi yang menatap heran padanya.


Andi menghela nafas "Mungkin karena dijodohin makanya Nao tidak peduli"


Andi menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia memperhatikan apartemen Nao yang kini hanya ada dirinya di sana "Serem juga ya kalau sendirian gini" Andi bergidik ngeri. Ia lalu beranjak dan menyusul Nao.


***

__ADS_1


Di dalam mobilnya, Nao hanya menatap lurus pada jalanan. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu. Mungkinkah ia memikirkan ucapan Andi? Entahlah hanya Nao yang tahu.


Nao memasuki pelataran rumahnya. Ia parkirkan mobilnya di garasi kemudian masuk ke dalam rumah. Terlihat di ruang tamu ada mama dan papanya yang sedang menonton TV.


"Dari mana kamu, nak?" tanya Asri saat mendapati Nao memasuki rumah.


"Dari apartemen" Nao menjawab seraya berjalan menuju dapur untuk minum.


"Sama teman-temanmu?"


"Hm"


Asri hanya menatap punggung Nao yang semakin menjauh menuju dapur.


"Anakmu kenapa lagi pa?" Asri menepuk paha Bram yang duduk di sampingnya.


"Biasalah anak muda" Bram menjawab seraya fokus menatap layar TV.


"Huh...papa ini..."


Bram menepuk-nepuk lengan Asri sambil menunjuk layar TV "Ma, ma, ma, ternyata dia biang keroknya ma"


"Si Rena ya pa?" Asri kembali fokus pada sinetron yang sedang ditontonnya.


"Iya ma"


"Sudah mama duga, dia orangnya. Satu minggu ke depan berarti papa yang masak makan malam"


"Kan papa sendiri yang waktu itu taruhan sama mama. Kalau tebakan mama benar, papa bersedia memasak makan malam selama satu minggu penuh" Asri mengingatkan taruhan mereka beberapa hari yang lalu. Bram hanya bisa pasrah menerima kekalahannya. Ia akan memasak makan malam selama satu minggu penuh.


***


Usai dari dapur, Nao berjalan menuju kamarnya. Ia melepas jaket yang tadi dipakainya dan melemparnya sembarang. Ia berjalan menuju balkon dengan membawa sebatang rokok. Ia nyalakan rokok itu dan menyebatnya.


Kepulan asap menemaninya. Nao adalah tipe orang yang akan merokok jika ia sedang terpikirkan suatu hal yang mengganggunya saja.


Nao berdecih "Dia jalan sama cowok lain?" Ia matikan rokok itu lalu mengambil ponsel di sakunya. Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk.


Pesan Andi mendapat perhatian Nao karena ia mengirimkan sebuah gambar. Dibukanya pesan itu dan terlihat tangkapan layar pada akun instagram Adel yang tengah berfoto bersama Daniel.


"Dia orangnya. Gue nggak tahu sih dia siapa" tulis pesan Andi kemudian.


Nao tak membalas pesan Andi. Ia perhatikan foto Adel dan Daniel. Ia menatap wajah Adel yang terlihat begitu senang dan bahagia. Ia kembali mengingat wajah Adel saat bersamanya yang lebih sering kesal, cemberut, risih, dan tidak suka.


"Jadi ini cowok yang lo suka" Nao beralih menatap Daniel.


Nao menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia beralih menatap langit malam yang cerah bersama bintang-bintang.

__ADS_1


***


Seperti biasa Nao akan menjemput Adel sebelum berangkat sekolah. Bodyguard papanya juga masih mengikuti mereka. Nao juga masih berangkat lebih awal, meskipun kemarin ia sempat mengeluh akan hal itu. Kali ini Nao memilih menunggu Adel di luar gerbang.


Adel menatap heran pada mobil Nao yang hanya terdiam di luar gerbang, padahal pintu gerbang sudah dibuka lebar-lebar oleh satpam.


"Dia ngapain diam di sana? Gerbangnya kan udah dibuka" Adel mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan pada Nao.


"Lo nggak masuk?"


"Gue tunggu sini"


Adel berdecak kesal. Dengan langkah kesal ia berjalan cepat menuju mobil Nao. Padahal ia sudah menunggunya lama di depan rumah. Adel lalu masuk ke dalam mobil Nao. Ia memakai seatbelt dan Nao langsung melajukan mobilnya.


"Lo ngapain sih nggak masuk? Gue kan udah lama nungguin lo" protes Adel.


"Lo kan bisa jalan" Nao menyahuti dengan tatapan lurus pada jalanan.


Adel mengangkat salah satu tangannya hendak memukul Nao.


"Mau mukul?" Nao melirik Adel sekilas.


"Huh!!" Adel urungkan niatnya untuk memukul Nao. Ia melipat tangannya. Nao menyeringai.


"Lo kemarin ke mana?" tanya Nao.


"Main sama teman"


"Siapa?"


Adel mengkerutkan keningnya "Kepo lo"


"Gue tahu, lo jalan sama cowok kan?" Nao menginjak rem saat sampai di lampu merah.


Adel menoleh menatap Nao. Ia sedikit terkejut mendengar ucapan Nao yang tahu ia kemarin jalan bersama Daniel "Andi kan yang ngomong ke lo?"


"Hm"


Perdebatan mereka terhenti saat Nao tiba-tiba menurunkan kaca mobilnya. Ternyata ada seorang penjual tisu keliling berada dekat pada mobilnya. Ia mengeluarkan uang berwarna merah dari dashboard.


"Beli dua ya kek" ucap Nao seraya memberikan uangnya pada sang kakek. Kakek itu memberikan 2 bungkus tisu pada Nao dan hendak memberikan uang kembalian.


"Ambil aja kembaliannya kek" Nao tersenyum tulus. Ia letakkan tisu itu pada kursi belakang dan kembali melaju saat lampu sudah berubah hijau.


Adel yang manyaksikan adegan itu begitu tidak menyangka. Ia tersenyum tipis. Siapa sangka Nao juga seorang yang dermawan.


***

__ADS_1


Gimana guys, suka part ini apa yg sebelumnya?


komen-komen yah... 👇🏻


__ADS_2