
Di kantin saat semua pesanan mereka telah tersaji. Yang lainnya terheran melihat Adel dan Nao terlihat begitu manis dengan mengobrol ringan berdua.
Kevin menyenggol lengan Andi "Gila, uwu banget gini. Baru lihat gue Nao sebucin ini sama cewek"
"Sama, gue juga nggak tahu kalau teman sekelas gue ini cocok banget sama sahabat gue" sahut Andi.
Dita hendak mengambil sambal "Makan dong jangan gibah mulu, kalau iri ya cari pacar"
"Emang lo mau jadi pacar gue?" tutur Kevin.
Dita menatap datar pada Kevin "ENG-GAK!"
"Yaelah galak banget lo jadi cewek, becanda juga" Kevin kemudian mengaduk mie ayam.
Dita menjulurkan lidahnya sekilas pada Kevin. Setelahnya ia mulai melahap makanannya.
Andi yang duduk di antara mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Ditengah perbincangan mereka, Nao berdiri hendak ke toilet. Ia tinggalkan saja dompet dan juga ponselnya di atas meja.
Saat sedang berada di toilet, ponsel Nao bergetar, ada telepon dari nomor yang tidak ada nama kontaknya.
Adel dan yang lainnya menatap ponsel Nao.
"Angkat saja Del, lo kan tunangannya jadi ya boleh saja" ucap Andi.
Adel memiringkan kepalanya "Beneran nih nggak papa? Nggak enak gue"
"Nggak papa Del, lagian Nao sendiri kan yang ninggalin ponselnya sama lo" timpal Malvin.
Usai mendengar pendapat Malvin, Adel angkat telepon itu. Suara seorang gadis terdengar di seberang sana. Gadis itu berkata "Hai Nao, ini Sifa, nanti jadi kan?"
Setelah mendengar ucapan gadis itu, raut muka Adel berubah. Ini pasti gadis yang pernah ia lihat di apartemen Nao. Ternyata Nao masih berhubungan dengan gadis itu setelah apa yang sudah terjadi kemarin.
Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut Adel. Ia matikan saja sambungan telepon dari gadis yang bernama Sifa itu dan menaruh ponsel Nao kembali pada tempatnya.
"Salah sambung" ucap Adel kemudian membuat yang lain percaya begitu saja akan ucapan Adel karena hanya Adel yang tahu isi telepon itu.
Sekembalinya Nao dari toilet, Adel berusaha bersikap tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ia memilih makan gorengan dengan tenang dan terlihat menikmatinya.
"Tadi ada telepon" Adel menatap lurus ke depan sambil tetap mengunyah gorengan.
"Dari siapa?" tanya Nao.
"Bilangnya sih Sifa" tatapan Adel masih lurus ke depan. Ia berdiri kemudian meninggalkan Nao. Ia bayar makanan yang tadi dipesannya dan meninggalkan kantin.
Adel bahkan tidak berpamitan dengan yang lainnya. Langkah kaki gadis itu bergerak menuju toilet. Ia tutup pintu toilet dengan rapat. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai mengalir.
"Tadi itu apa? Kenapa kamu tega Nao?" isak tangis lirih terdengar.
Sementara itu di kantin. Mereka saling menatap usai kepergian Adel.
__ADS_1
"Kenapa dia?" tanya Kevin dan Dita tanpa sengaja bersamaan.
Dita menatap Kevin dengan tajam "Lo apaan sih sok samaan gitu ngomongnya sama gue?"
Kevin berdecih "Siapa juga yang sok samaan. Heh, cewek galak, jangan ke-geer-an lo"
Satu kepalan melayang di udara siap hendak memukul wajah tampan Kevin.
"Arghh, berisik kalian, orang ini lagi ngomongin Adel malah debat" timpal Andi.
Dita menatap malas pada Andi "Idih, nggak ngaca lo, tiap bahasnya apaan lo sama Kevin juga suka debat"
Nao menaruh sedikit kasar gelas yang baru saja ia minum membuat yang lainnya langsung terdiam serentak.
"Rencana B dimulai" Nao kemudian tersenyum miring.
"Maksud lo?" tanya Malvin.
"Ya kalian lanjutin saja apa yang sudah gue bilang kemarin" Nao kemudian pergi meninggalkan kantin.
***
Pulang sekolah tiba. Mereka punya jadwal untuk belajar bersama.
Adel memasukkan tempat pensil "Dit, gue nggak ikut belajar bareng kalian ya"
Dita menatap Adel sekilas lalu lanjut membereskan alat tulisnya "Lah, kenapa? Temenin gue lah, masa gue cewek sendiri? Lagian lo pulangnya sama Nao"
Dita menggaruk belakang kepalanya "Ini gimana sih? Sumpah gue bingung sama rencana Nao"
Andi menghampiri meja Dita "Adel balik duluan?"
Dita menganggukkan kepalanya "Iya, nggak tahu gue konsep rencananya Nao"
"Yaudah lo tetap bareng gue saja. Gue yakin ini bagian dari rencana Nao" ajak Andi.
***
Adel yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya, tengah membuka kulkas di dapur. Ia hendak mengambil es krim. Siapa tahu moodnya kembali membaik usai memakan sesuatu yang manis-manis.
Baru saja Adel ingin duduk, telepon rumahnya berbunyi.
"Mbok, minta tolong angkat teleponnya dong" teriak Adel namun tak ada seorangpun yang menjawabnya.
Pada akhirnya gadis itu sendiri yang mengangkat telepon "Halo, dengan rumah pak Hendra"
Terdengar suara yang sudah tidak asing di seberang sana "Halo sayang, ini mama Asri"
"Oh, halo ma. Ada apa?"
"Adel sama Nao sekarang? Mama khawatir soalnya mama telepon di luar jangkauan"
__ADS_1
"Enggak ma, Nao kan di apartemen belajar sama teman-teman"
"Temenin mama periksa ke sana yah Del"
"Nanti Adel coba telepon Nao sama teman-teman dulu ma"
"Baiklah, mama minta tolong ya. Kalau tidak bisa dihubungi kamu segera ke sini temani mama cek ke apartemen Nao yah"
Adel berpikir sejenak usai mendengar ucapan calon mertuanya itu. Bagaimana tidak, suasana hatinya sedang buruk, melihat wajah Nao saja ia merasa malas, tapi calon mertuanya itu justru membuat Adel harus bertemu anaknya.
"Em, oke ma, nanti aku temani. Adel siap-siap dulu ya ma"
"Makasih sayang, maaf merepotkan"
"Nggak papa kok ma"
"Oke, see you soon sayang"
"Eumm"
Telepon berakhir. Adel menghela nafas panjang. Ia tatap es krim yang sudah tinggal setengah itu "Susah payah gue tadi ngehindarin Nao, ujung-ujungnya ketemu juga. Masa sih dia nggak bisa dihubungi?"
Adel kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia mencari kontak Nao dan meneleponnya. Ternyata tuturan calon mertuanya itu benar adanya. Ia beralih menelepon Dita namun ternyata telepon sahabatnya itu juga tidak aktif. Adel beralih menelepon Andi dan ternyata sama saja.
Perasaan khawatir mulai menyelimuti Adel "Ini kenapa sih pada nggak bisa dihubungi?"
Adel bergegas menuju kamarnya guna mengganti seragam sekolahnya dengan baju simpel seperti biasanya ketika hendak keluar.
Adel kemudian menghentikan taksi guna menuju rumah Nao. Tak butuh waktu lama kini dirinya sudah berada di rumah Nao.
Asri langsung memeluk Adel begitu melihatnya memasuki rumah "Adel sayang, gimana? Apakah kamu bisa menghubungi Nao dan teman-temannya?"
"Nggak bisa ma, aku juga tidak mengerti kenapa mereka tidak bisa dihubungi" jawab Adel.
Asri mengelus pundak Adel "Tenanglah sayang, kita ke apartemen Nao sekarang ya, mama juga sudah khawatir"
Adel menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kemudian berangkat ke apartemen Nao dengan diantar supir.
Tidak ada kecurigaan apapun yang muncul dibenak Adel karena rasa khawatinya lebih besar.
Sampai di apartemen Nao. Mereka bergegas menuju ke sana. Adel masih ingat password yang sudah pernah Nao beritahukan padanya.
Ia bergegas membuka pintu dan hanya gelap yang terlihat "Loh, kok gelap? Ma, kok gelap gini apartemennya?"
Adel menoleh namun ternyata Asri tiba-tiba saja sudah tidak ada di sampingnya.
"Ma, mama ke mana?" Adel mulai kebingungan dan rasa khawatirnya kian bertambah.
***
Sorry gaes baru update, keadaan lagi drop ini hehe. Kalian jaga kesehatan ygy. Makan makanan yang sehat dan istirahat yang cukup yaa lopyu😘
__ADS_1