
Adel masih meneror Nao karena yang ditanya memilih bergeming. Nao menghentikan langkah kakinya membuat Adel menabrak punggung Nao.
"Auw.." keluh Adel. Ia memukul punggung Nao sekilas.
Nao membalikkan badannya. Mereka berdua saling menatap. Adel hanya berkedip karena dirinya heran dengan tatapan Nao.
"Ad-a...ap-pa?" tutur Adel dengan suara lirihnya. Entah mengapa ia sedikit takut dan juga kikuk.
Nao hanya menggelengkan kepalanya. Ia kembali berjalan dan meninggalkan Adel yang sedang kebingungan.
"Kenapa dia?" ucap Adel pada dirinya sendiri.
Adel kemudian berlari kecil mengejar Nao "Tungguin gue"
Nao menoleh sekilas, ia tetap saja lanjut berjalan membuat Adel mempercepat langkahnya hingga kini keduanya sudah berjalan berjejeran.
Tanpa mengajak Adel, Nao duduk di atas pasir. Adel hanya memperhatikan dan mengikuti Nao yang duduk di sana.
Keduanya duduk bersebelahan dengan jarang yang cukup dekat. Nao menatap lurus ke depan menatap air yang berpadu satu dengan ombak.
"Yaaa....hooo..."
Suara teriakan terdengar dari samping Nao. Ya, Adel tiba-tiba saja berteriak dengan cukup kencang hingga membuat Nao menoleh menatap gadis itu seraya sedikit menjauhkan badannya.
Nao tersenyum tipis melihat tingkah Adel "Udah lega?" tanyanya kemudian.
Adel hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan pandangannya tetap lurus ke depan.
"Thanks ya" ucap Adel kemudian tersenyum dengan manisnya membuat Nao yang tengah menatap lekat calon istrinya itu merasakan desiran aneh di hatinya.
Senyuman tipis kembali terukir di wajah Nao. Adel tiba-tiba saja menoleh menatap Nao membuatnya gelagapan karena ketahuan tengah menatap lekat calon istrinya itu.
"Laper nggak? Makan yuk" Adel kemudian berdiri. Ia membersihkan pasir yang menempel pada bajunya. Tanpa sadar ada butiran pasur yang terbang ke mata Nao.
"Aduh..." ucap Nao seraya mengucek matanya.
Dengan segera Adel menoleh menatap Nao "Kena pasirnya? Sorry, sorry"
Tanpa sadar Adel buru-buru memeriksa mata Nao. Kini jarak di antara keduanya begitu dekat. Nao juga tidak sadar akan jarak itu karena dirinya tengah sibuk dengan matanya yang sudah mulai berair itu.
__ADS_1
Adel memegang kelopak mata Nao "Bentar ya gue tiup dulu"
"Pelan-pelan" keluh Nao yang sudah merasa tidak nyaman dengan matanya.
Fyuu...
"Gimana? Udah mendingan?" tanya Adel menatap wajah tampan Nao.
"Udah nggak ada pasirnya kok" dengan teliti Adel memperhatikan setiap sudut mata indah milik Nao.
Nao mengedipkan matanya. Butiran pasir yang mengganjal matanya sudah hilang setelah ditiup oleh Adel.
Keduanya kembali bersitatap. Dengan jarak mereka yang begitu dekat, entah mengapa membuat Nao kembali merasakan desiran aneh yang berlebih di hatinya.
"Del, lo ngejauh bisa enggak? Deket banget" ucap Nao kemudian.
Adel terdiam. Ia tak menanggapi ucapan Nao. Ia masih sibuk menatap wajah Nao. Entahlah mungkin ia tidak mendengarnya karena ia mungkin tersihir dengan wajah Nao yang begitu tampan.
"Del" ucap Nao lagi namun tetap tak ada jawaban dari Adel.
Pandangan mata Nao beralih pada bibir merah muda milik Adel. Ingin rasanya ia menempelkan bibirnya di sana.
"Ayo makan" ajaknya pada Nao.
Nao tak segera menanggapi ajakan Adel karena dirinya tengah sibuk menenangkan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Ayo, buruan berdiri kenapa lo masih asyik duduk mulu. Lo laper juga kan?" ajak Adel lagi.
Nao menghela nafas. Sepertinya ia terkejut dengan kenyataan bahwa dirinya bisa merasakan perasaan seperti itu pada Adel.
"Ayo" ajak Adel lagi.
"Sabar bawel" sahut Nao dengan suara lirih. Ia kemudian berdiri.
"Apa? Bawel?" Adel tidak terima. Ia memutar bola matanya jengah.
"Enggak" Nao berjalan mendahului Adel.
Adel berjalan mengikuti Nao "Gue denger lo tadi ngatain gue bawel"
__ADS_1
"Enggak"
"Tapi tadi..." Adel hendak protes namun perkataannya terpotong.
"Yaudah ayo makan, katanya lo udah laper kan"
Adel mengerucutkan bibirnya. Ia merasa kesal. Ia lalu berjalan mendahului Nao.
Sebuah kedai di pinggir pantai yang menjual berbagai olahan seafood menjadi tujuan mereka untuk mengisi perut mereka yang lapar.
Adel membolak-balikkan sebuah buku menu dan memesan makanan yang paling populer di sana.
Kepiting asam manis menjadi makanan yang di pesan Adel. Begitu juga dengan Nao, ia memilih untuk memesan makanan yang sama dengan Adel.
Usai mengisi perut mereka yang lapar, keduanya kembali menikmati semilir angin pantai dan juga menikmati keindahan sunset yang ada di pantai itu.
"Sejak kapan lo suka sama dia?" Nao yang menyandarkan kedua tangannya pada pasir tiba-tiba memulai pembicaraan.
Adel menoleh sekilas. Ia terkejut Nao akan menanyakan hal itu apalagi dirinya tengah asyik menggambar acak di atas pasir dengan sebuah ranting.
"Kenapa lo nanya?" Adel kembali melanjutkan menggambar.
"Ya, gue pengin tahu aja"
"Kelas 1 SMA, saat gue satu tempat les sama dia" jelas Adel. Nao yang duduk di sampingnya hanya manggut-manggut.
Adel berdecih "Gue nggak nyangka aja bakal secepat ini putus sama dia"
"Padahal baru beberapa hari kita jadian dan dia...." air mata Adel kembali mengalir.
"Sorry" ucap Nao lirih. Ia merasa bersalah padahal ia tidak ada salah.
Isak tangis Adel kembali terdengar. Salah satu lengan Nao ingin rasanya menenangkan gadis ìtu. Namun lagi-lagi niat itu ia urungkan.
Adel mengusap air matanya "Ini bukan salah lo. Harusnya gue yang tahu diri"
"Thanks ya udah bawa gue ke sini. Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini" Adel tersenyum tipis namun raut wajahnya terlihat begitu sedih dan sendu membuat Nao merasa tidak tega gadis itu diperlakukan seperti itu.
***
__ADS_1