
Adel mengembalikan buku yang baru saja dipinjamnya di perpustakaan. Ia mengembalikan buku sembari bersenandung.
"Nitip" Dita menyodorkan buku kimia yang tadi dipinjam olehnya.
Adel menoleh dan mengambil buku itu lalu ditaruh di rak yang sesuai. Kebetulan ia juga meminjam buku yang sama karena pelajaran jam terakhir kosong dan diberi tugas merangkum.
"Temenin gue yah" ucap Adel kemudian.
Dita mengkerutkan keningnya mendengar ajakan Adel "Kemana?"
"Ke butik"
Dita terkekeh kecil "Lo mau fitting baju buat nikahan lo?"
Adel menatap datar pada Dita sementara yang ditatap hanya bisa menyengir.
"Yaudah gue temenin" eskpresi Adel berubah tersenyum.
Dita menyenggol lengan Adel "Kenapa lo senyam-senyum gitu? Jangan-jangan lo mau kencan sama Nao ya?"
"Ngaco lo" Adel berlalu meninggalkan Dita. Sementara Dita hanya menggelengkan kepalanya.
Dita berlari mengejar Adel. Sampainya di lorong ia menemukan punggung Adel yang berjalan sendirian menuju kelas.
"Adel, tungguin" teriak Dita dari belakang. Adel menoleh dan menghentikan langkah kakinya. Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah berjalan berjejer menuju kelas.
"Memangnya lo nggak pulang bareng Nao?" tanya Dita disela perjalanan mereka menuju kelas.
"Udah enggak" Adel menjawab dengan pandangannya pada lantai.
Dita menoleh sambil menggaruk samping kepalanya "Kok bisa? Biasanya kan..."
"Udah enggak Dita" tegas Adel.
"Oh" Dita hanya bisa menjawab singkat.
Sejak bodyguard papanya Nao sudah tidak mengikuti mereka lagi, kini keduanya sudah jarang bertemu. Terakhir bertemu ketika Adel ke rumah Nao dan diantar oleh Nao.
Di sekolahpun Adel memilih acuh akan kehadiran Nao, begitu juga dengan Nao.
Kehidupan sekolah Adel bisa dibilang kembali lagi seperti semula sebelum dirinya berurusan dengan Nao.
***
Adel dan Dita menghentikan sebuah taksi untuk menuju butik langganan keluarga Adel.
Sekitar 25 menit kemudian, akhirnya mereka tiba di butik itu. Adel sempat berpikir ketika melihat mobil yang tidak asing terparkir di depan butik itu.
__ADS_1
"Seperti mobilnya Nao" batin Adel. Ia lalu menepisnya seraya menggelengkan kepalanya.
Adel dan Dita memasuki butik itu dan alangkah terkejutnya Adel ketika mendapati calon ibu mertuanya ada di dalam sana.
"Loh Adel? Nao bilang kamu sudah pulang duluan?" tanya Asri begitu melihat Adel di depannya.
Adel diam terpaku. Ia membulatkan matanya. Ia menatap Nao dan Asri bergantian. Sementara Nao di sana hanya berekspresi datar dan santai.
"Tadi mama sudah meminta Nao untuk mengajakmu, tapi katanya kamu sudah pulang duluan" ucap Asri lagi.
Dita yang ada di samping Adel kembali terkekeh kecil "Mama nggak tuh" bisiknya pada Adel.
Adel memukul pelan punggung Dita. Ia menyengir sebelum menjawab ucapan Asri.
"Em...tadi...aku...ng-nggak sengaja lewat ma, dan kebetulan sepertinya aku lihat mobil Nao makanya mampir" jelas Adel.
Adel berkata lirih pada Dita "Bantuin gue"
Dita tertawa kecil "Iya tante, keb-kebetulan lewat" entahlah kenapa Dita ikut gugup.
Asri hanya manggut-manggut "Ya sudah kamu ikut mama ya, bantuin mama cari baju yang cocok untuk mama" Asri kemudian menarik lengan Adel menuju fitting room meninggalkan Dita dan Nao.
Dita memilih melihat beberapa gaun yang dipajang di sana. Ia lalu duduk di sofa yang tak jauh dari Nao duduk. Dita kemudian memainkan ponselnya.
Nao sendiri sudah sibuk dengan ponselnya yang miring semenjak ditinggalkan sang mama dan calon istrinya.
"Kenapa Adel ke sini?" tanya Nao tiba-tiba dengan pandangannya tetap pada ponselnya.
Dita mendongak menatap Nao "Katanya mau fitting baju"
"Em...ada acara apa ya kalian berdua?" tanya Dita kemudian.
"Nggak ada"
"Terus?" Dita masih penasaran karena Adel tak menjelaskan alasan dirinya ingin membeli gaun baru.
"Gue nggak ada hubungannya" ucap Nao melirik tajam pada Dita membuat Dita tak berani menanggapinya lagi.
"Baru kali ini gue ngomong sama Nao, mengerikan juga" ucap Dita dalam hati. Ia bergidik ngeri dan lanjut memainkan ponselnya.
Adel dan Asri asyik mencoba beberapa gaun. Asri sendiri justru antusias memilìhkan gaun untuk Adel dari pada untuk dirinya sendiri.
"Dari sini sampai sini kamu coba ya. Pelayan tolong bantu menantu saya" ucap Asri.
Adel membulatkan matanya begitu mendengar intruksi sang mertua. Ia harus mencoba cukup banyak gaun yang merepotkan.
"Maaf ma, aku nggak..." Adel berusaha menolak tapi apalah daya ucapannya terpotong.
__ADS_1
"Tidak apa, nanti biar mama yang bayar" Asri tersenyum senang.
"Tapi..."
Asri mendorong pelan tubuh Adel "Sekarang kamu coba ya, nanti mama akan minta pendapat Nao"
Adel hanya bisa pasrah menuruti permintaan Asri. Ia mulai memasuki ruang ganti dan mencoba gaun itu satu persatu.
Sedangkan Asri kembali keluar untuk memanggil Nao. Awalmya Nao menolak namun karena paksaan dari mamanya ia juga hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan mamanya.
Asri dan Nao duduk di sofa seraya menunggu Adel selesai mengenakan gaun di balik tirai sana.
Nao melipat tangannya. Ia lalu memejamkan matanya. Tak lama kemudian tirai itu terbuka, memperlihatkan Adel dengan gaun panjang warna pink pastel dengan bagian atas terbuka.
Adel tersenyum kaku. Ia juga terkejut dengan kehadiran Nao di samping Asri.
"Wahh...menantu mama cantik sekali" puji Asri.
Asri menoleh, ia ingin meminta pendapat Nao "Astaga Nao, buka matamu. Lihatlah calon istrimu begitu cantik di depan sana"
"Apaan sih ma, ganggu orang lagi tidur" Nao menjawab tanpa membuka matanya.
Asri menggelengkan kepalanya. Ia lalu mencubit lengan putranya "Kamu ini"
"Aww...sakit ma" rengek Nao sambil mengelus lengannya. Ia sudah membuka matanya.
Asri menghela nafas. Ia lalu mengarahkan kepala Nao pada Adel. Nao diam terpaku melihat betapa Adel jauh lebih cantik. Mereka bersitatap membuat Adel merasa aneh ditatap Nao.
"Gimana menurutmu?" tanya Asri kemudian.
Nao tak langsung menyahuti pertanyaan sang mama. Sepertinya ia terpesona. Ia berdeham "Terlalu terbuka"
Asri menaruh jari-jarinya pada dagu "Hm...benar juga. Adel kamu ganti baju lagi ya"
Belum sempat menjawab, pelayan sudah kembali menutup tirainya. Mau tidak mau Adel menurut.
"Terlalu tertutup"
"Terlalu panjang"
"Berlebihan"
"Terlalu mengembang"
Begitulah lontaran komentar Nao akan beberapa gaun yang sudah dicoba Adel. Adel hanya bisa menghela nafasnya panjang karena ia sudah lelah mencoba cukup banyak gaun. Asri juga sependapat dengan Nao.
***
__ADS_1
Bagaimana nasib Adel di butik yaa?