
Nao menopang kepalanya dengan salah satu tangan. Sudut bibirnya sedikit naik. Ia menatap Adel yang terlihat begitu kaku. Padahal kalau mereka hanya berduaan, Adel tidak akan sekaku ini.
Nao mendekatkan dirinya pada Adel "Ingat permintaanku apa kan?" bisiknya. Nao kemudian menyeringai.
Adel menatap kesal pada Nao. Bagaimana bisa ia harus memanggil Nao dengan panggilan baru itu di depan sahabatnya?
"Kamu sudah pesan makan?" tanya Nao kemudian. Yang lain hanya mendengarkan obrolan Adel dan Nao sembari makan.
Adel tersenyum kaku "Sudah, bentar lagi diantar kok"
"Entar ada les kan? Ijinin aku ya, aku harus jemput mama" Nao kemudian meminum es jeruk.
Adel mengangguk pelan "Oke"
"Kalau ada apa-apa, hubungi aku" Nao mengecek jam pada ponselnya.
"Oke" pesanan Adel datang bersamaan dengan pesanan Dita. Adel merasa lega karena panggilan baru itu masih belum terucap dari mulutnya.
Kevin menyambar tisu "Bentar lagi kan ujian, abis ujian kalian pada mau kuliah di mana?"
"Kalau gue mah di indo saja, urusin berkasnya nggak seribet kalau keluar negeri" jawab Andi.
"Gue mau ke luar kota, ke tempat saudaranya nyokap" timpal Malvin.
"Yah, jadi jauh dong sama kita-kita" sahut Kevin.
"Dekat kok, cuma di Bandung. Entar kalau gue ada waktu, gue ke sini deh" Malvin meletakkan sendok karena sudah selesai makan.
"Kalau lo, Nao?" pertanyaan Kevin membuat semua orang di meja itu menoleh menatapnya.
Nao tersenyum tipis "Gue? Em, kalau gue, belum tahu"
Adel mengkerutkan keningnya begitu mendengar jawaban yang ambigu dari Nao. Ia tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran pria itu.
"Wait, jangan-jangan kalian berdua mau nikah?" tebak Kevin. Ia menunjuk Nao dan Adel bergantian.
Andi menepis lengan Kevin "Dih, ngaco lo. Orang baru lulus SMA masa mau nikah"
__ADS_1
"Yee, Nao sama Adel kan sudah tunangan, mungkin saja abis lulus langsung married" Kevin tetap kekeuh dengan pendapatnya.
Adel menatap datar pada Kevin. Tatapannya entah kenapa terasa tajam bagi Kevin.
Kevin hanya bisa nyengir saat ditatap Adel seperti itu "Hehe, sorry Del, sorry"
Adel kembali melanjutkan makannya.
Kevin beralih menatap Dita "Kalau lo, temannya Adel, lo sendiri gimana?"
Dita yang tengah sibuk makan, mendongakkan kepalanya menatap Kevin "Sama kayak Andi"
Kevin hanya manggut-manggut. Ia kemudian berdeham "Ini nggak ada yang penasaran sama plan gue apa?"
Andi dan Malvin berdiri bersamaan. Mereka pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Kevin dan meninggalkan meja itu.
"Lah, kenapa pada pergi? Woy kalian nggak ada yang penasaran sama gue?" teriak Kevin pada Andi dan Malvin yang hendak membayar makanan mereka.
Malvin, Andi, dan Nao justru terkekeh bersamaan. Sementara Dita dan Adel menatap kasihan pada Kevin.
Kini di meja itu hanya tersisa tiga orang. Dita merasa sangat canggung karena dirinya seperti mengganggu Adel dan Nao. Ia dengan cepat menghabiskan makanannya dan segera pergi dari sana terlebih dahulu.
"Del, Nao, gue duluan ya. Bye" Dita melambaikan tangan pada Adel.
Adel baru saja meminum es teh "Kok lo ninggalin gue?"
Tak ada jawaban dari Dita. Ia hanya melambaikan tangannya dan pergi dari kantin.
Sekarang hanya ada Adel dan Nao. Suasana canggung menyelimuti Adel. Ditambah lagi banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Adel berdeham "Lo nggak balik ke kelas? Teman-teman lo sudah pada balik"
Nao mematap lekat pada Adel "Aku nggak mau jawab sebelum kamu memperbaiki kalimatmu"
Adel memutar bola matanya jengah. Ternyata permintaan Nao untuk mengganti panggilan bukanlah candaan.
Adel menghela nafas. Ia memamerkan giginya "Kamu nggak balik ke kelas?"
__ADS_1
Nao terkekeh kecil usai mendengar tuturan Adel "Aku nungguin kamu"
Adel tertawa dengan kaku. Ia menghabiskan makanannya, kemudian ia berdiri. Nao juga ikut berdiri. Mereka berdua berjalan bersamaan hendak membayar makanan.
"Aku saja" ucap Nao saat mendapati Adel menyodorkan selembar uang pada penjaga kantin.
"No, thanks" tolak Adel. Ia tetap menyodorkan uang itu.
Nao menarik lengan Adel "Nggak usah ngeyel"
Pembayaran makanan berakhir di tangan Nao. Adel hanya bisa mengikuti ucapan pria itu dari pada harus berdebat, apalagi di depan umum. Sangat tidak mungkin.
Keduanya kembali ke kelas bersamaan. Mereka berdua berjalan sejajar. Belum ada percakapan yang terucap. Adel memilih menatap lantai karena ada tatapan orang lain yang memperhatikan mereka berdua di sepanjang perjalanan menuju kelas. Mengerikan dan juga memalukan, batin Adel.
Nao menyambar lengan Adel. Ia genggam lengan Adel dengan lembut. Ia tersenyum tipis. Hal itu membuat Adel terkejut dengan perlakuan Nao yang semakin terang-terangan.
Adel hanya bisa pasrah karena ia tidak mungkin melepas genggaman Nao di tengah tatapan orang lain yang fokus pada mereka berdua. Nanti malah gosip aneh bisa menyebar dan sudah pasti Adel akan jadi korban karena menyia-nyiakan Nao. Begitulah skenario yang ada dipikiran Adel.
Sampai di depan kelas Adel. Nao tak segera melepas genggamannya.
Sementara terdengar protes dari mulut Adel "Bisa lepas enggak? Sudah sampai kelas, malu tahu dilihatin"
Nao berdecih "Aku saja nggak malu genggam tanganmu di depan umum"
Adel memutar bola matanya jengah "Karena kamu sudah terbiasa jadi pusat perhatian"
Sudut bibir Nao sedikit naik. Ia mendekatkan wajahnya pada Adel dan berbisik lirih "Beda Del. Butuh keberanian lebih buat genggaman tangan sama kamu seperti ini"
Nao memundurkan badannya sedikit. Ia tersenyum tipis "Thanks sudah nemenin aku di kantin. Sering-sering ya sayang" Ia kemudian melepas genggaman tangannya.
Adel membulatkan matanya mendengar satu kata itu diucapkan Nao di depan umum. Sepertinya pria ini benar-benar ingin menunjukkan betapa dirinya punya sisi romantis.
Rupanya skenario Adel kembali tersusun dipikirannya. Ia masih bingung dengan sikap Nao. Nao benar-benar perhatian atau hanya sekedar akting.
Adel memasuki kelasnya. Ia tinggalkan Nao yang melambaikan tangan padanya. Hingga Adel duduk, pria itu baru beranjak dari depan kelas Adel.
***
__ADS_1