Canda Kita

Canda Kita
Meminta Tiket Konser


__ADS_3

Nao tengah mengunyah permen karet. Sepulang sekolah ia tak langsung pulang ke rumahnya. Ia mampir ke apartemennya bersama Andi dan Kevin.


"Emang dalam waktu dekat ada konser ya?" tanya Nao.


Kevin membuka bungkus sari roti "Nggak ada deh kayaknya"


"Ada woy, lo aja yang nggak tahu. Bandnya sekolah kita" timpal Andi.


"Masa? Tampil di mana? Keknya nggak ada info dari sekolah deh" Kevin kemudian menggigit roti yang baru saja dibukanya.


"Belum aja, orang masih 2 mingguan lagi acaranya" jelas Andi dan Nao hanya mendengar ocehan kedua sahabatnya itu.


Nao kemudian menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja. Ia berlari keluar dari apartemennya.


"Mau ke mana?" tanya Kevin dan tentu saja tak ada jawaban dari Nao.


"Yee nggak dijawab. Kenapa dia buru-buru gitu?" Kevin melempar bungkus roti ke tempat sampah.


"Biarin aja nggak usah kepo lo" sahut Andi.


"Dari dulu Nao tuh misterius, gue kayak nggak tahu apa-apa tentang dia" Kevin menyandarkan badannya pada sofa.


"Lo nya aja yang ember, otomatis Nao enggan cerita apa-apa ke lo, gue aja juga ogah" Andi kemudian mengenakan jaketnya.


Kevin menghela nafas "Jahat banget sih lo jadi teman. Eh, lo mau ke mana pake jaket? Mau balik?"


"Balik, nyokap udah neror gue. Duluan Vin" Andi berjalan cepat menuju pintu keluar.


"Yaelah, santai dulu kek" pinta Kevin namun respon Andi hanya melambaikan tangan.


Kevin berdecak kesal. Hanya tinggal dirinya seorang yg masih berada di apartemen Nao. Ia tak langsung pulang, ia justru menyalakan TV dan menonton film terlebih dahulu.


***


Nao melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dalam perjalanan ia hanya fokus mengemudi.


Mobil Nao berjalan memasuki kawasan perumahan yang sudah tidak asing lagi.

__ADS_1


Sampainya di depan gerbang rumah yang ditujunya, ia menyalakan klakson dan tentu saja pintu gerbang otomatis terbuka dengan lebar karena rumah yang dituju Nao adalah rumah Adel.


Nao langsung turun dari mobilnya begitu memarkirkan mobilnya. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya dengan dibalut denim jaket warna light blue.


Ia mengeluarkan ponselnya sebelum mengetuk pintu itu. Ia mencari kontak Adel dan meneleponnya.


Sementara Adel yang sedang tidur siang merasa terganggu dengan bunyi dering dari ponselnya.


"Heum...siapa sih? Ganggu orang tidur aja" Adel meraba-raba samping kasurnya dengan matanya yang masih tertutup rapat.


Ditemukan ponselnya dan langsung saja ia menjawab panggilan telepon itu tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Halo" Adel menjawab dengan suara malas orang baru bangun tidur.


"Bangun tidur lo?"


Adel membuka matanya. Ia mengedipkan kedua matanya kemudian ia menyipitkan matanya. Ia sedikit terkejut dengan suara yang baru saja didengarnya. Ia lalu menatap layar ponselnya "Nao? Ngapain dia telepon? Ganggu aja"


"Sorry gue ganggu lo" ternyata Nao mendengar ocehan kecil yang diucapkan oleh Adel.


"Apaan?"


Adel berdecak kesal seraya menatap ponselnya "Nggak jelas banget sih dia, ngapain coba ke sini"


Adel melempar kasar selimutnya. Ia lalu ke kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya.


Sementara Nao menunggu Adel di depan rumah, mbok Tiah tak sengaja membuka pintu utama karena dirinya hendak ke pasar.


Mbok Tiah sedikit terkejut melihat kehadiran Nao di depan rumah majikannya itu "Loh, den Nao"


"Eh mbok, apa kabar?" ucap Nao ramah.


"Mbok kabarnya baik den. Ini mau ketemu non Adel?" tanyanya.kemudian.


Nao menyengir "Iya mbok, ada perlu bentar"


"Nggak nunggu di dalam saja den?" mbok Tiah hendak membuka kembali pintu utama.

__ADS_1


"Nggak usah mbok, aku tunggu sini saja. Aku sudah bilang sama Adel kok" jelas Nao.


"Ya sudah, mbok ke pasar dulu mau belanja" pamit mbok Tiah.


"Oke mbok, hati-hati mbok. Apa perlu aku antar?" sahut Nao.


"Tidak usah, mbok sudah sama sopir. Mari den Nao" jelas mbok Tiah lalu pergi meninggalkan Nao.


Tak berselang lama kemudian, pintu utama kembali terbuka. Menampilkan Adel dengan baju simpelnya namun tentu saja tetap terlihat cantik.


Adel menyilangkan kedua tangannya di depan dada "Ada perlu apa?"


Nao tak segera menanggapi ucapan Adel. Ia justru sibuk menatap Adel dari atas sampai bawah. Ia kemudian mengulurkan salah satu tangannya di depan Adel "Ikut gue"


Adel menatap heran pada tangan Nao.


Nao justru menghela nafas saat mendapati Adel tak segera menyambut uluran tangannya. Dengan tiba-tiba, Nao memegang tangan Adel dan menggenggamnya erat.


Sementara Adel hanya terdiam karena bingung dengan perlakuan Nao.


Dengan kedua tangan mereka yang saling menggenggam, Nao membawa Adel menuju kursi yang terletak di samping rumah Adel.


Keduanya duduk berdampingan. Nao lalu melepas tangannya. Terlihat jelas wajah Adel kembali seperti kejadian saat di perpustakaan.


"Mana tiket konsernya?" ucap Nao tanpa basa-basi.


"Ha? Tiket konser? Maksud lo?" tanya Adel, rupanya ia bingung.


"Lo tadi nanya ke gue kalau gue suka konser atau enggak kan? Lo mau ngajak gue nonton konser kan?" jelas Nao.


"Tunggu bentar" Adel berdiri dan kembali masuk ke dalam rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Adek kembali dengan membawa selembar tiket konser itu dan menyodorkannya pada Nao "Nih"


Nao mengambil tiket itu, membacanya sekilas, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


"Yaudah gue balik, pas acara gue ke sini lagi" Nao meggendong tasnya di salah satu bahunya dan langsung saja kembali ke mobilnya untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Adel hanya bisa terdiam dan terheran melihat sikap aneh Nao "Jadi dia datang cuma minta tiket aja? Dasar nggak jelas banget, tahu gitu gue lanjut tidur siang aja tadi"


***


__ADS_2