Canda Kita

Canda Kita
Overthinking


__ADS_3

Adel sampai di rumahnya. Ia terlihat lesu dan tidak bersemangat. Usai berganti pakaian, dirinya hanya merebahkan diri seraya menatap langit-langit kamarnya hingga ia tertidur.


Suara ketukan pintu membuat Adel terbangun dari tidurnya.


"Non Adel, makan malam sudah siap non, tuan sudah menunggu non Adel di ruang makan" ternyata itu mbok Tiah.


Adel mengerjapkan matanya. Ia menguap sekilas "Iya mbok, sebentar ya"


"Baik non" sahut mbok Tiah dari luar.


Adel bergegas ke kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya. Ia tidak sempat mandi karena sang papa sudah menunggunya.


Sampainya Adel di ruang makan, mereka berdua mulai makan malam. Tak ada obrolan hingga acara makan mereka selesai.


Hendra menaruh sendok "Tiga hari lagi kamu ujian nak?"


"Iya pa" Adel mengambil segelas air putih.


"Oh iya nak, keluarga Nao ingin makan malam bersama besok. Ingin membahas pertunangan kalian" Hendra kemudian meminum air putih.


"Besok ini pa?" tanya Adel.


"Iya, papa juga sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kakakmu lagi" jawab Hendra.


Setelahnya tak ada jawaban dari Adel. Gadis itu justru berpamitan ke kamarnya untuk belajar.


Buku Adel terbuka lebar, namun matanya terfokus pada ponsel yang ada di samping buku itu.


Sepi sekali ponselnya. Tak ada notifikasi apapun dari Nao. Hanya ada notifikasi dari grup kelas yang membahas pelajaran.


Adel menghela nafas panjang. Ia ambil ponsel itu dan membuka aplikasi instagram. Matanya membelalak begitu melihat akun Nao membuat story.


Adel buka story Nao yang memperlihatkan foto Nao di sebuah cafe. Ia perhatikan dengan detail foto itu. Mata Adel menangkap dua gelas minuman yang tanpa sengaja tertangkap kamera.


Deg.


"Tuh kan dia pasti lagi sama cewek itu" Adel kemudian melempar ponselnya. Ia kesal. Tidak, lebih tepatnya ia cemburu.


Adel kemudian menaruh kepalanya di atas buku "Apa yang lo harapin Del, harusnya lo ingat kalau ini cuma pejodohan"


"Ta-tapi, sikap Nao, perhatian Nao, dan ci-u-man waktu itu apa artinya? Aarrghh..." Adel kian frustasi menerka-nerka bagaimana perasaan Nao padanya. Tak bisa dipungkiri bahwa Adel sudah memiliki rasa pada Nao. Bagaimana tidak, sikap dan perhatian Nao membuat dirinya terbawa perasaan dan jatuh lebih dalam pada Nao.


***


Hari ini tak jauh berbeda dari kemarin. Di sekolah, Adel dan Nao kembali seperti orang asing, seperti dahulu saat mereka tidak mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Nao benar-benar tidak mengacuhkan Adel. Ia sibuk bercanda tawa bersama sahabatnya. Sekedar menyapa Adel saja tidak ada.


Namun tidak untuk Adel, tiap ada Nao yang terlihat dari jarak pandangnya, ia berusaha mencuri-curi pandang. Namun ternyata Nao sama sekali tidak menghiraukannya.


Dita juga diam saja akan hal itu, padahal biasanya ia akan bertanya atau meminta Adel untuk bercerita.


***


Malam hari tiba. Sedari sore, Adel sudah bersiap untuk makan malam bersama keluarga Nao. Ia pakai gaun terbaiknya dan berdandan dengan cantik agar menarik perhatian Nao.


Hendra memasuki kamar putrinya "Wah, cantik sekali kamu nak. Sudah siap-siapnya?"


Adel tersenyum malu mendengar pujian dari sang papa "Makasih pa, sudah kok"


"Yasudah ayo segera berangkat, keluarga Nao juga sudah berangkat ke sana" ajak Hendra.


Adel dan papanya berangkat menuju restoran tempat mereka akan makan malam.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak lama, mereka sampai di restoran itu.


Entah mengapa jantung Adel tiba-tiba saja berdebar. Akankah usahanya dalam menarik perhatian Nao berhasil atau dirinya akan tetap tidak diacuhkan Nao.


Adel menggandeng lengan papanya saat memasuki restoran itu. Perhatian terpusat pada Adel. Pengunjung lain di restoran itu terpesona akan kecantikan Adel.


Sepertinya akan berhasil. Begitulah kalimat yang terucap dalam hati Adel saat mendapati reaksi orang lain akan dirinya.


"Malam ma, pa" sapa Adel.


Asri menoleh menatap Adel dari atas sampai bawah. Ia berdiri kemudian memeluk Adel sekilas "Adel, menantuku cantik sekali"


Usai menyapa calon mertuanya, Adel beralih hendak menyapa Nao. Namun Nao hanya tersenyum tipis. Rupanya sejak kehadiran Adel, pria itu hanya menatapnya sekilas dan menyibukkan diri dengan ponselnya.


Para orang tua sibuk membahas mengenai pertunangan anak-anak mereka. Sementara Adel dan Nao hanya mendengarkan saja.


Tiba-tiba suasana canggung menyelimuti Adel. Kenapa ia sekarang merasa seperti orang asing? Nao benar-benar tidak menghiraukannya. Usahanya berdandan cantikpun tak membuat Nao melihat keberadaannya.


Nao berdiri "Ma, pa, aku ke toilet dulu" pamitnya dan pergi dari meja itu.


Adel berinisiatif untuk menyusul Nao. Ia juga berpamitan hendak ke toilet.


Sampainya di toilet, Adel berdiri di luar toilet pria. Ternyata ia ingin mengobrol dengan Nao, berdua saja.


Tak butuh waktu lama, Nao keluar dari toilet. Ia sedikit terkejut mendapati Adel berdiri di sana.


Adel menarik ujung baju yang dikenakan Nao "Nao, aku mau ngomong sama kamu"

__ADS_1


Nao hanya menatap datar pada Adel "Di sini?"


Adel menggelengkan kepalanya "Di rooftop restoran ini"


"Oke" jawab Nao singkat.


Mereka menuju rooftop dengan menaiki lift. Tak ada orbrolan apapun selama perjalanan ke sana.


Sampainya di sana, Adel menyandarkan badannya pada balkon.


Nao berdiri di depan Adel dengan menaruh salah satu tangannya pada saku "Kamu mau ngomong apa?"


"Em, Nao, kenapa belakangan ini sikapmu sangat berbeda? Apa karena gadis itu? Gadis yang aku lihat saat di apartemen" tanya Adel.


Tak ada jawaban apapun dari Nao. Pria itu hanya menatap Adel yang terlihat berharap dan cemas secara bersamaan.


"Aku tidak bisa jawab sekarang" tutur Nao kemudian.


"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Jadi benar kamu sama dia ada sesuatu?" tanya Adel lagi namun tetap saja Nao bungkam. Ia hanya menatap dan mendengarkan ocehan Adel.


"Jelasin ke aku, Nao, kebenarannya. Aku tidak bisa terus-terusan memikirkan hal ini"


"Setelah bertemu dia, sikapmu ke aku langsung berbeda, kamu tiba-tiba saja berubah"


"Aku tahu hubungan ini cuma perjodohan tapi entah kenapa aku tidak suka melihatmu berpelukan dengan dia" di sini air mata Adel mulai mengalir.


Adel menekan pelan depan dadanya "Di sini sakit Nao, aku tidak suka dan aku cemburu karena aku rasa aku sudah...."


Ucapan Adel terpotong saat Nao tiba-tiba saja menciumnya. Air mata Adel turun semakin deras. Ciuman lembut itu membuat dirinya semakin bingung dan tidak mengerti.


Nao melepas ciumannya "Don't say anything. Aku bakal jelasin semuanya tapi tidak sekarang"


Nao kembali mencium Adel. Tak ada penolakan dari Adel. Adel tak diam saja. Ia membalas ciuman lembut dari Nao dengan dirinya yang tetap menangis.


Tak bisa dipungkiri kalau Adel merindukan momen kebersamaannya dengan Nao. Karena tiap kali bersama Nao, pasti akan selalu ada kejutan dan kejadian yang tidak terduga.


Tangan Nao beralih ke pinggang Adel. Ia dekatkan perlahan tubuh Adel dan semakin memperdalam ciumannya.


Ujung jari Adel berada di depan dada bidang Nao. Jari-jemari Adel bergerak perlahan senada dengan ritme ciuman mereka.


Cukup lama mereka melakukannya kemudian keduanya saling melepas ciuman itu.


Nao kemudian mengusap air mata yang sudah membasahi pipi Adel "Jangan nangis lagi, kamu sangat cantik malam ini, aku suka"


Nao kemudian memeluk Adel dengan erat. Pelukan yang sangat nyaman membuat Adel merasa tenang.

__ADS_1


Adel merasa lega karena Nao akan menjelaskan semuanya meskipun bukan hari ini, tapi jawaban Nao dan juga kejadian hari ini membuat Adel lupa akan kekhawatirannya.


***


__ADS_2