Canda Kita

Canda Kita
Makan Malam


__ADS_3

Adel sendiri semakin kesal dengan sikap Nao. Ingin rasanya ia memukul Nao saat itu juga. Kepalan tangannya sudah siap mengarah untuk menghantam wajah tampan Nao. Tapi niat itu ia urungkan karena Nao sedang mengemudi.


"Ogeb, kenapa lo bocorin sih" keluh Adel.


Andi di belakang tertawa mendengar Adel mengatai Nao 'Ogeb'. Baru kali ini Nao dikatai seperti itu, biasanya mereka akan mengatakan Nao tampan, pintar, baik, dan hal baik lainnya.


"Lo dikatain Ogeb sama Adel" Andi tertawa seraya menepuk-nepuk kursi Nao.


"Diem lo!"


"Lo tuh yang diem, rahasia segede gitu dengan gampangnya lo bocorin" protes Adel. Ia mendengus kesal lalu melipat tangannya.


"Berarti benar kalian dijodohin?" tanya Andi dengan mode serius.


"Hm" Nao menjawab dengan singkat. Tak terasa mobilnya sudah sampai di depan rumah Andi. Ia menepikan mobilnya.


"Congrats buat kalian berdua. Del, kalau Nao jahat sama lo, lo ngomong aja sama gue, dan rahasia kalian di tangan yang tepat kok nggak usah khawatir" ucap Andi seraya memegang gagang pintu mobil. Adel mengibaskan tangannya.


"Thanks Nao, titip Nao yah Del, dadah" Andi keluar dari mobil Nao. Nao membunyikan klaksonnya sebelum lanjut melaju menuju rumah Adel.


Di kursi penumpang Adel terlihat begitu kesal dan marah. Ia menatap keluar jendela dengan tangannya yang masih terlipat.


Suasana di dalam itu kembali mengerikan usai turunnya Andi.


"Sorry" ucap Nao. Adel bergeming.


Ponsel Nao bergetar, ia mengecek ada pesan dari mamanya. Ia hanya berdecak kesal membuat Adel menoleh menatapnya.


"Kenapa lo?" tanya Adel dan Nao hanya menggelengkan kepalanya.


Adel melihat lurus ke depan. Ia menghela nafas agar lebih tenang.


"Lo mau mampir?" tanya Adel lagi saat rumahnya sudah terlihat dari jarak pandangnya.


"Papa lo, udah balik?"


"Mungkin, biasanya jam segini udah balik" jelas Adel.


Nao terlihat berpikir, ia belum menjawab sampai mereka berada di depan gerbang rumah Adel.


"Jadi mampir nggak?" tanya Adel lagi untuk memastikan.


Nao mengambil ponselnya. Dilihatkannya pesan dari sang mama pada Adel. Adel membaca satu-persatu dari 3 pesan yang tidak dijawab Nao.

__ADS_1


"Jangan lupa jemput Adel"


"Kalau dia ada les atau acara sepulang sekolah kamu juga antar dia"


"Kalau Adel suruh kamu buat mampir, masuk saja, biar kamu juga semakin dekat dengan om Hendra"


Adel terkekeh saat membaca pesan itu. Siapa sangka calon mertuanya itu begitu cerewet.


Adel menurunkan kaca mobilnya "Pak gerbangnya tolong dibuka" teriaknya pada satpam rumahnya. Dibukanya pintu gerbang lebar-lebar dan Nao kembali melajukan mobilnya untuk diparkir di pelataran rumah.


Adel membuka seatbeltnya. Ia hendak turun, namun dilihatnya ekspresi Nao "Gugup?" sudut bibir Adel sedikit naik.


Nao berdeham "Nggak" jawabnya sok cool, padahal ia sebenarnya sangat gugup karena ini pertama kalinya ia menemui calon mertuanya tanpa didampingi mama dan papanya.


Adel turun dari mobil Nao begitu juga dengan Nao. Nao mengekori Adel. Adel membuka pintu rumahnya. Rumah yang sama mewahnya dengan rumah Nao.


Pandangan mata Nao terarah pada foto dengan bingkai besar yang terletak di ruang utama. Foto keluarga Adel. Mereka mengenakan pakaian serba cream.


"Itu kakak lo?" tanya Nao menunjuk foto itu dengan dagunya.


"Iya"


"Nyokap lo?" Adel mengangguk. Raut wajah Adel berubah sendu.


"Baru pulang non?"


"Iya mbok. Papa udah pulang?" tanya Adel.


"Tuan katanya pulang larut non" Nao sedikit lega karena kali ini ia belum bertemu dengan calon mertuanya.


"Makan malam sudah siap non" sambung mbok Tiah.


"Oke mbok, nanti aku ke sana"


"Kalau gitu mbok ke belakang dulu ya non, masih ada setrikaan yang belum beres" pamit mbok Tiah dan diangguki Adel.


Adel berbalik menatap Nao "Lo mau, makan malam di sini?"


"Gue pulang aja deh, nggak ada papa lo juga" Nao berkata demikian namun perutnya justru protes. Nao memejamkan matanya menahan malu di depan Adel.


"Perut lo berisik tuh, makan dulu gih" Adel berjalan menuju ruang makan. Nao berjalan mengekori Adel. Wajar saja jika perutnya lapar karena ia baru saja bertanding basket yang cukup menguras tenaga.


Dilihatnya sayur kangkung dengan lauk ayam goreng dan sambel terasi yang menemani. Membuat air liur Nao ingin mengalir. Ia menelannya melihat betapa terlihat lezat makanan di hadapannya.

__ADS_1


Adel mencuci tangannya di washtafel diikuti Nao. Adel mengambil nasi dan lauk lalu diikuti juga oleh Nao. Nao melahap makanan itu dengan cepat.


"Lo laper banget yah?" Adel sedikit terkekeh.


"Gimana nggak laper orang habis tanding basket" jawab Nao lalu memasukkan ayam goreng ke mulutnya. Ia meminum segelas air usai makanannya telah habis.


"Mama nyuruh gue buat ke sekolah sama lo terus"


"Gue nggak yakin rahasia ini bakal tersimpan lama"


"Andai tadi pagi bukan Malvin yang memergoki, gue yakin beritanya udah nyebar" ucap Nao.


Adel menghabiskan makannnya. Ia menenggak segelas air di sampingnya sebelum berkata.


"Kalau udah nggak diikutin bodyguard papa lo, lo bisa turunin gue di halte atau di pinggir jalan"


Nao berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Adel. Ia mengetuk jari-jarinya pada meja.


Adel beranjak, ia hendak mengambil piring Nao "Udah kan?"


"Hah? Apa?" ternyata Nao sedikit melamun.


"Piringnya, mau gue cuci kalau udah" jelas Adel dan diangguki Nao. Adel membawa piring itu ke washtafel. Ia lalu mencucinya. Ia cukup sering mencuci piringnya sendiri atau mencuci bajunya sendiri meskipun di rumah itu ada mbok Tiah. Apalagi dengan usia mbok Tiah yang sudah tidak muda lagi, tentu ia mudah merasa lelah.


Nao menatap punggung Adel yang sibuk mencuci piring. Ia tak mengira jika Adel mau melakukan pekerjaan rumah tangga seperti itu. Sudut bibirnya sedikit naik rupanya.


Adel berbalik usai mencuci piring. Ia memergoki Nao tengah menatapnya. Mereka bersitatap.


"Ada apa?" tanya Adel yang heran dengan tatapan Nao. Nao hanya menggelengkan kepalanya.


"Gue balik dulu, thanks makanannya" ucap Nao.


"Thanks juga udah nganter gue"


Adel dan Nao berada di teras sebelum Nao masuk ke dalam mobilnya.


Nao memegang gagang pintu mobil. Ia membalikkan badannya "Besok lo bawa topi aneh lo lagi. Gue jemput lebih awal"


Adel menganggukkan kepalanya. Nao memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah.


Adel menatap kepergian mobil Nao. Sejenak ia mengingat malam di mana pertama kali mereka bertemu. Nao ternyata penuh kejutan, terkadang ia baik, perhatian, namun ia juga menyebalkan. Tanpa sadar senyuman tipis terukir di wajah Adel.


***

__ADS_1


__ADS_2