
Nao berdecak kesal pada dirinya sendiri. Rupanya ia merasa bosan hanya dengan bermain game selama jam istirahat. Ternyata lebih asyik jika menghabiskan waktu istirahat dengan para sahabatnya.
Sebenarnya Nao ingin menyusul teman-temannya ke kantin. Namun niat itu ia tunda karena ia malas mendengar ejekan Kevin.
Nao kemudian melihat jadwal jam pelajaran setelah istirahat. Terlihat pelajaran Bahasa Indonesia yang kabarnya hari ini tidak ada gurunya alias jam kosong.
Nao berdiri dari tempat duduknya dan memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat sekaligus jam kosongnya di perpustakaan.
Sementara itu di kelas Adel, ia masih saja sibuk mengobrol dengan Dita dan beberapa teman sekelasnya hingga bel masuk berbunyi.
Sambil menunggu guru yang mengajar datang, Adel terlihat memikirkan sesuatu seraya mengetuk pelan pena yang dipegangnya.
Dita menyenggol lengan Adel "Mikirin apa?"
Adel tersadar dari lamunannya dan menoleh sekilas pada Dita. Ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Dit, gue ke toilet dulu ya. Nanti kalau Bu Erna tanya tolong kasih tahu ya" ucap Adel kemudian.
"Nggak ngajak gue?" Dita menunjuk dirinya dengan jari telunjuk.
"Gue sendiri aja, udah jam pelajaran, gapapa kok" Adel lalu berdiri dan keluar dari kelasnya.
Sampainya di toilet dan selesai dengan urusan di toilet, Adel tengah mencuci kedua tangannya di washtafel. Ia kembali memikirkan sesuatu.
Selesai mencuci tangan ia berkaca pada cermin "Masa iya gue ngajak Nao buat nemenin gue nonton konser? Mending gue pergi sama Daniel dari pada sama Nao"
Adel menatap kran air yang ada di hadapannya seraya menghela nafas "Andai hubungan gue sama Daniel baik-baik aja"
Ternyata hal itu yang memenuhi pikiran Adel. Rupanya ia masih ingin bersama Daniel atau bisa dibilang ia merindukan kebersamaannya dengan Daniel.
Adel merasakan ponselnya bergetar. Ia lalu mengambil ponselnya dari saku. Terlihat ada pesan masuk dari Dita.
"Del, lo udah jalan balik ke kelas?"
"Belum. Ada apa?"
"Ke perpus dulu ya, pinjam buku paket 5 (mengirim gambar buku)"
__ADS_1
"Loh, kan ada LKS"
"Udah lo nurut aja sama gue, ini di suruh bu Erna"
"Oh, oke"
Begitulah isi pesan dari Dita. Adel menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku dan bergegas pergi ke perpustakaan.
Sampainya di perpustakaan, ia langsung mencari buku paket yang dimaksud Dita.
Dengan teliti Adel mencari buku itu di deretan kategori yang sesuai dan berhasil menemukannya.
Adel lalu berjalan menuju penjaga perpustakaan untuk meminjam buku itu. Namun di tengah perjalanan, Adel mendapati seorang pria tampan tengah tertidur dengan lelap dengan berbantalkan buku.
Adel menghentikan langkah kakinya. Ia menyipitkan kedua matanya untuk memastikan siapa pria itu karena pria itu terlihat tidak asing baginya.
"Nao bukan sih?" gumamnya lalu kembali memperhatikan pria itu.
"Iya Nao, tidur dia" Adel tersenyum tipis. Entah mengapa langkah kakinya justru bergerak menuju Nao berada.
Sampainya di dekat Nao, Adel tanpa sadar sedikit mendekat dan memperhatikan wajah tampan Nao ketika tertidur dengan lekat.
Tiba-tiba saja Nao mengkerutkan keningnya dan hendak membuka kedua matanya. Usai kedua matanya telah terbuka lebar, ia melihat keberadaan Adel yang ada di depannya.
Beberapa kali ia mengedipkan kedua matanya, menatap Adel dengan datar karena dirinya juga masih setengah sadar.
Sementara Adel sendiri diam mematung begitu mendapati Nao telah membuka kedua matanya. Bisa saja Nao salah paham, pikirnya.
"Lo. Ngapain?" tanya Nao kemudian.
Adel berdeham "Gue? Em...gue cuma lewat. Lo lanjut aja tidurnya eh maksud gue baca bukunya" Adel hanya bisa menjawab dengan menyengir.
Adel hendak kembali berjalan namun langkahnya terhenti karena Nao menggenggam langannya.
Adel menoleh menatap lengannya, kemudian menatap Nao.
Nao menatap Adel "Temenin gue bisa?"
__ADS_1
"Ha? Sekarang?" sahut Adel dan diangguki Nao.
"Ya nggak bisa, gue masih ada kelas" Adel memperlihatkan buku yang dipinjamnya pada Nao.
"Bolos aja" turur Nao dengan entengnya.
"Sorry, gue nggak bisa" Adel berusaha melepaskan lengannya dari Nao namun tidak semudah itu karena genggaman Nao justru semakin kuat.
Adel menghela nafas kesal "Lo apa-apaan sih, kan gue udah bilang kalau gue ada kelas"
"Kelas lo pelajaran siapa?" tanya Nao.
"Bu Erna" jawab Adel. Nao justru mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang sekilas.
Nao kemudian menatap Adel "Sini duduk. Lo udah gue mintain ijin sama tante gue"
Adel mengkerutkan keningnya karena heran "Tante lo? Bu Erna maksud lo? Jadi lo barusan telepon bu Erna?"
"Yup" Nao menjawab singkat seraya menganggukkan kepalanya.
"Shut, jangan keras-keras ini di perpustakaan" sambung Nao.
Adel kembali memastikan dengan suara yang lirih "Bu Erna tante lo? Beneran tante lo?"
Nao menghela nafas menghadapi Adel yang suka lama dalam memahami situasi dan bertanya berkali-kali.
"Dia beneran tante gue, saudaranya mama dia tuh" tegas Nao dan pada akhirnya Adel menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Adel beralih menatap lengannya yang masih digenggam erat oleh Nao membuat Nao refleks melepas genggamannya.
"Sorry" ucap Nao kemudian. Ia menoleh ke samping seraya berdeham kecil.
Nao kemudian menatap Adel dengan sedikit canggung "Lo, duduk gih" beritahu Nao meminta Adel untuk duduk di sampingnya.
Dengan sedikit kaku, Adel duduk di samping Nao. Ia lalu menaruh buku paket yang tadi dipinjamnya.
Suasana hening dan canggung pun dimulai.
__ADS_1
***
TBC